Peluncuran Buku Informal Services In Asian Cities, Bambang Susantono Berharap Bisa Jadi Knowledge Sharing

 Peluncuran Buku Informal Services In Asian Cities, Bambang Susantono Berharap Bisa Jadi Knowledge Sharing

Suasana peluncuran buku ‘Informal Services In Asian Cities’, di BNDCC Nusa Dua, Kamis (1/9/2022).

MANGUPURA – baliprawara.com

Dalam menyikapi sektor informal, khususnya pada saat pandemi Covid-19 melanda sejumlah negara, berbagai kebijakan telah diambil untuk mengetahui perilaku masyarakat. Pasalnya, sektor informal ini, menjadi salah satu sektor yang paling terdampak saat Pandemi Covid-19 yang melanda dunia. Terkait hal itu, puluhan orang peneliti dari berbagai negara, melakukan riset yang hasilnya kemudian dituangkan dalam sebuah buku berjudul ‘Informal Services In Asian Cities’. 

Menurut Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) Ir. Bambang Susantono, MCP., MSCE., Ph.D., selaku konseptor dan penggagas buku ini berharap, nantinya apa yang dituangkan dalam buku tersebut, bisa menjadi sebuah pengetahuan, agar sektor informal itu bisa bertransformasi menjadi sektor formal. Bambang Susantono menerangkan, buku tersebut merupakan hasil riset pertama melibatkan lebih dari 20 peneliti, di berbagai negara. Hal itu dilakukan untuk mengetahui perilaku maupun kebijakan yang diambil di berbagai negara dalam menyikapi sektor informal, khususnya saat pandemi Covid-19 melanda sejumlah negara.

“Dibelakang 20 orang periset ini masih ada tim lagi. Baik dari universitas maupun mahasiswa yang ikut serta dalam beberapa riset atau survey di lapangan. Buku ini ditulis sekitar satu tahun, kebetulan pada saat itu saya masih menjadi wakil presiden bidang pengetahuan Asian Development Bank. Pada saya dipanggil pulang itu sudah mendekati terakhir diluncurkan, dan itu kita luncurkan sekarang,” katanya, saat ditemui di sela peluncuran buku, Kamis 1 September 2022, di BNDCC, Nusa Dua.

Kepala Otorita Ibu Kota Nusantara (IKN) Ir. Bambang Susantono, MCP., MSCE., Ph.D., menunjukkan buku ‘Informal Services In Asian Cities”.

Lebih lanjut menurutnya, ada 2 tujuan dari penulisan buku tersebut. Pertama adalah untuk menjadi satu sintesa bersama, sehingga diharapkan dengan pengalaman yang ada di negara tersebut, dapat diketahui bagaimana kondisi sektor informal pada saat pandemi Covid-19 melanda. Kedua, bagaimana merespon dan memberikan kebijakan yang paling bermanfaat, bukan hanya untuk sektor informal tapi juga sektor formal. “Dengan menulis buku ini, kami mencoba membuat knowledge sharing kepada audience. Tidak hanya kepada akademisi, tapi juga praktisi, development, para manajemen di berbagai kota di dunia, utamanya Asia Pasifik,” bebernya.

See also  Kedapatan Bawa Narkoba, Satresnarkoba Polres Gianyar Amankan Buruh Harian Lepas Asal Karawang

Ia melihat, pada saat pandemi Covid-19 terjadi, sektor-sektor informal merupakan salah satu yang paling terkena dampak. Sebab saat itu aktivitas masyarakat benar-benar terbatas. Namun, ada pula beberapa negara yang memperlihatkan bahwa mereka yang hanya tinggal di rumah, justru tidak lebih baik dari yang bisa ke luar rumah. Namun disisi lain, sektor itu kemudian mencari upaya sendiri dari sisi ekonomi, agar mereka bisa survive (bertahan). Misalnya bertransformasi dari penjualan biasa ke penjualan online. 

“Mereka mengadakan services atau layanan agar mereka bisa bertahan di tengah-tengah krisis. Disisi lain, hal ini membuat mereka bisa mengembangkan diri dengan peralatan-peralatan yang sederhana, seperti digital teknologi dan lain-lain. Hal itulah yang kita dapat dari buku ini dan tentu ini akan menjadi riset yang berkelanjutan kedepannya,” katanya menambahkan.

Pada dasarnya kondisi yang dialami negara-negara yang diteliti, hampir sama bagi mereka yang memiliki fasilitas yang amat terbatas di sektor sosial maupun aspek sosial, seperti pendidikan, kesehatan, dan sosio protection (jaringan pengaman), yang merupakan sektor yang terkena dampak yang paling besar. Sehingga ada beberapa elemen atau strata masyarakat yang paling bawah, terkena dampak yang secara proporsional lebih besar dibandingkan yang ada diatasnya.

Kedepan, pihaknya ingin melihat bahwa sektor informal itu bisa bertransformasi sama-sama dengan mereka yang ada di sektor formal. Misalnya untuk literasi digital, dimana hal itu memerlukan tambahan perhatian dari pemerintah di berbagai negara tersebut, untuk memberikan mereka upskilling dan reskilling, (memberikan skill, pemahaman, pelatihan). Sehingga mereka yang ada di sektor informal, bisa bertransformasi dan tidak ketinggalan.

Dirinya menerangkan, kesulitan yang dihadapi periset dalam hal itu adalah mengumpulkan data sektor informal, karena saat itu masa pandemi. Namun karena periset itu ada di berbagai negara, maka mereka bisa langsung berinteraksi dan mencari data.

See also  Kejaksaan Negeri Badung, Lakukan Pergantian Kepala Seksi Perdata dan Tata Usaha Negara

Peluncuran buku ini, dilakukan pada pertemuan 5th World Planning Schools Congress dan 16th Asian Planning Schools Association Congress “Planning A Global Village: Inclusion, Innovation, and Disruption”. Peluncuran buku ini, juga turut dihadiri perwakilan Asian Development Bank, perwakilan pemerintahan Kementerian ATR dan Bappenas, serta perwakilan 45 lebih universitas nasional dan luar negeri. (MBP)

[quads id=1]

 

redaksi

Related post