Resmikan Museum Sarkofagus, Menteri Fadli Zon Berharap Menjadi Pusat Edukasi Sejarah Masa Lalu

 Resmikan Museum Sarkofagus, Menteri Fadli Zon  Berharap Menjadi Pusat Edukasi Sejarah Masa Lalu

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon (kanan) saat melihat koleksi Museum Sarkofagus, di Gianyar, Kamis 27 Februari 2025.

GIANYAR – baliprawara.com

Museum Gedong Arca yang berlokasi di Bedulu, Blahbatuh, Gianyar, Bali, kini diaktivasi dan diresmikan menjadi Museum Sarkofagus, Kamis 27 Februari 2025, oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon. Peresmian museum Sarkofagus yang diklaim satu-satunya di Indonesia ini, diharapkan bisa menjadi pusat edukasi, pusat informasi, tentang sejarah masa lalu.

Keberadaan sarkofagus di museum ini menurut Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, sebenarnya merupakan temuan yang sudah lama ada sejak 1958 oleh seorang arkeolog yang legendaris. Tentu keberadaan temuan ini, perlu terus diteliti, ditelaah, dinarasikan, untuk mengedukasi masyarakat tentang keberadaan benda benda yang dinamakan sarkofagus.

Lebih lanjut kata Menteri Fadli Zon, temuan ini menjadi simbol dari konservasi yang terus ada. Yang mana, keberadaan sarkofagus ini, merupakan jejak peradaban megalitik, pra sejarah atau awal sejarah yang umurnya mencapai ribuan tahun. Tentu ini merupakan sebuah warisan dari peradaban, atau jejak peradaban di masa lalu.

“Keberadaan sebanyak 87 sarkofagus di Bali, serta peninggalan yang kira-kira hampir sama hanya berbeda bentuk dan berbeda narasi seperti yang ditemukan di Sumatera, Jawa, Sumbawa, Sulawesi. Ini menunjukkan Indonesia ternyata memiliki suatu peradaban yang sudah sangat lama ada. Apalagi kalau ditarik ke belakang lebih jauh lagi, peradaban yang ada di Indonesia, mungkin boleh dibilang tertua di dunia,” kata Menteri Fadli Zon.

Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon (kanan) saat meresmikan Museum Sarkofagus, di Gianyar, Kamis 27 Februari 2025.

Sarkofagus ini menurut dia, menjadi sesuatu yang menarik dalam kepercayaan masa lalu, bahkan dalam kepercayaan masa kini, dan kepercayaan banyak agama. Bahwa, kematian itu bukanlah sebuah akhir, tapi bisa saja justru sebuah awalan yang baru.

Dikatakan, Sarkofagus yang ada di Bali, keberadaanya lebih primitif. Namun hal itu masih menjadi sebuah misteri yang perlu diteliti lebih lanjut, apa tanda-tanda, lambang-lambang, bahkan ada perwakilan bentuk binatang, ada muka manusia yang terbalik. “Ini menarik, Untuk sarkofagus yang ditemukan di Bali, ada dalam berbagai bentuk dan ukuran. Hal itu menandakan suatu sistem sosial di masa lalu yang masih menjadi hal yang perlu diteliti lebih lanjut,” ucapnya.

See also  Selain Warga Denmark, Rudenim Denpasar Deportasi Dua Wanita Tanzania Terlibat Kasus Prostitusi

Pihaknya berharap, museum sarkofagus ini nantinya bisa menjadi pusat edukasi, informasi, tentang sejarah masa lalu. Mudah mudahan dengan adanya museum sarkofagus ini, akan memberikan satu kesadaran baru bahwa proses kematian seperti halnya proses kelahiran dan proses kehidupan, ini adalah sebuah hal yang tidak pernah bisa dipisahkan dari perjalanan peradaban manusia. “Antara masa lalu masa kini, dan masa depan, antara kelahiran, kehidupan, dan kematian itu menjadi sebuah rangkaian yang harus dilewati, “ katanya.

Dengan mengaktivasi museum sarkofagus ini, ia juga berkeinginan agar museum-museum yang ada di Indonesia, bisa diaktivasi, jangan sampai ada museum yang mangkrak. Saat ini jumlah museum yang ada di indonesia, ada sebanyak 469. Jumlah itu menurutnya masih terlalu kecil dibandingkan luas nusantara, dengan kekayaan indonesia yang luar biasa, tentu jumlah museum yang ada masih terlalu sedikit.

“Untuk itu kementerian kebudayaan mendorong museum itu bukan hanya untuk menyimpan artefak atau koleksi. Namun bisa menjadi pusat edukasi, pusat literasi dan bahkan pusat seni,” harapnya.

Sementara itu, Plt. Kepala BPK Wil. XV, I Gusti Agung Gede Artanegara, mengatakan, peresmian dan aktivasi museum sarkofagus ini sebagai upaya untuk menghidupkan kembali narasi yang telah lama tersimpan. Ia berkomitmen untuk menyusun ulang narasi museum yang lebih relevan dan dekat dengan masyarakat. Mengedepankan teknologi digital interaktif untuk menghadirkan pengalaman edukatif yang lebih imersif.

“Museum buka hanya tentang masa lalu, namun bagaimana kita memaknainya di masa kini, dan mewariskannya ke mas denon dengan semangat kolaborasi dan inovasi, kita bisa menjadikan museum sarkofagus Sebagai destinasi budaya yang interaktif edukatif dan imersif,” harapnya.

See also  JBU Berani Melangkah dan Bersaing dalam Ajang Duta Bahasa Provinsi Bali

Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia (AMI) Putu Supadma Rudana, mengatakan, nama Museum Sarkofagus ini merupakan satu satunya di Indonesia dan satu-satunya di dunia. Tentu dari sini diharapkan bisa meningkatkan kunjungan ke museum. Pihaknya dari AMI bersama kementerian kebudayaan ingin menggaungkan satu gerakan agar seluruh lapisan masyarakat, khususnya anak muda dan pelajar, untuk berkunjung ke museum.

“Kami dari AMI siap bersinergi untuk memastikan agar museum dan penghormatan kepada kebudayaan dan peninggalan luhur leluhur kita, itu menjadi kunjungan pertama, baik untuk masyarakat Indonesia maupun pengunjung dari seluruh dunia,” katanya menambahkan.

Di dalam museum Sarkofagus ini, menampilkan 33 koleksi sarkofagus yang berasal dari berbagai daerah di Bali, yang pertama kali dikumpulkan oleh arkeolog senior Indonesia R.P. Soejono tahun 1958. Keberadaan sarkofagus di Bali, terkait erat dengan budaya megalitik di berbagai wilayah Indonesia. Mulai dari kubur batu di Sumba, liang atau makam tebing di Toraja, hingga pemakaman tempayan di Gilimanuk, Bali Barat.

Pada peresmian ini juga dilakukan simulasi penggunaan informasi multimedia interaktif, yang dilakukan Menteri Kebudayaan didampingi oleh Ketua AMI, Putu Supadma Rudana; Kepala Majelis Kebudayaan Bali, Prof. I Made Bandem; Kepala Badan Layanan Umum Museum dan Cagar Budaya, Abi Kusno; serta Anggota Dewan Pengawas Museum dan Cagar Budaya, Tamalia Alisjahbana. (MBP1)

 

redaksi

Related post