Mekotek, Tradisi Sakral yang Selalu Dinantikan Masyarakat Desa Adat Munggu

 Mekotek, Tradisi Sakral yang Selalu Dinantikan Masyarakat Desa Adat Munggu

Tadisi Mekotek, Desa Adat Munggu, Sabtu 29 November 2025.

MANGUPURA – baliprawara.com
Perayaan Hari Suci Kuningan, kembali menjadi momentum penting bagi masyarakat Desa Adat Munggu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung. Pada Sabtu 29 November 2025, warga kembali melaksanakan tradisi Mekotek, sebuah ritual sakral yang telah diwariskan turun-temurun sejak masa kerajaan.

Suasana desa sejak pagi tampak ramai dengan persiapan upacara, di mana kayu-kayu pulet yang menjadi ikon tradisi ini disiapkan oleh para krama banjar untuk nantinya ditegakkan bersama.

Setiap kayu pulet yang ditata membentuk formasi piramida itu menghasilkan bunyi ngerupyuk ketika saling beradu. Bagi masyarakat setempat, suara khas tersebut bukan sekadar atraksi yang menarik perhatian, melainkan simbol kemenangan dan bentuk syukur atas keberhasilan di masa lampau.

Masyarakat mempercayai bahwa ritual tersebut adalah cara mereka menjaga keharmonisan, sekaligus sebagai media memohon keselamatan bagi seluruh warga desa.

Bendesa Adat Munggu, I Made Suwinda, menjelaskan bahwa Mekotek mengandung nilai-nilai sejarah yang sangat kuat. Tradisi ini, menurutnya, tidak lahir begitu saja, melainkan merupakan penanda kemenangan yang pernah dicapai leluhur mereka. “Pelaksanaan ritual ini menjadi bagian penting dari rangkaian peringatan Hari Raya Kuningan bagi masyarakat adat di Munggu,” katanya.

Suwinda menuturkan bahwa Mekotek merupakan wujud rasa syukur masyarakat Munggu atas kemenangan leluhur dalam mempertahankan kekuasaan Blambangan pada masa lampau. Tradisi ini selalu dilaksanakan setiap Saniscara Kliwon Kuningan sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah perjuangan tersebut.

Dalam kisah yang diwariskan generasi ke generasi, disebutkan bahwa asal-usul Mekotek berkaitan erat dengan sosok I Gusti Nyoman Munggu, penguasa Mengwi yang dahulu menetap di wilayah Munggu. Sebelum berangkat menuju Blambangan untuk menjalankan tugas perang, beliau melakukan tapa di Pura Dalem Kahyangan Wisesa Munggu.

See also  “Satu Langkah, Satu Harapan”, Bakti Sosial Sispala Satu Atap Satu Tanah di Desa Sepang, Busungbiu

Pada saat itu, Gusti Nyoman Munggu juga mengucapkan sesangi atau kaul sebagai janji spiritual apabila kelak berhasil memenangkan peperangan tersebut.

Kemenangan yang diraih I Gusti Nyoman Munggu kemudian dirayakan masyarakat dengan penuh suka cita. Dalam perayaan itu, warga membawa kayu dan berbagai perlengkapan lain yang saling berhimpitan hingga menghasilkan bunyi ngerupyuk khas. Dari sanalah kemudian lahir tradisi Mekotek yang terus dipertahankan hingga kini dan dipusatkan setiap Hari Raya Kuningan.

Selain menjadi peringatan kemenangan leluhur, masyarakat Munggu juga memaknai Mekotek sebagai upaya penolak bala. Suwinda menjelaskan bahwa keyakinan tersebut sudah tertanam kuat sejak zaman dahulu. Berdasarkan cerita para tetua desa, Mekotek diyakini menjadi ritual penting yang menjaga desa agar terhindar dari berbagai jenis wabah atau grubug.

Pernah tercatat dalam sejarah desa, menurut penuturan tetua, tradisi ini sempat dihentikan pada masa penjajahan Belanda karena kekhawatiran bahwa warga akan memanfaatkan ritual tersebut untuk melakukan penyerangan. Namun setelah ritual tidak dilaksanakan, tiba-tiba muncul wabah penyakit yang menyerang masyarakat.

Sejak kejadian itu, tradisi Mekotek kembali dilakukan secara konsisten setiap tahun tanpa terputus.

Suwinda menambahkan bahwa pandangan turun-temurun tersebut tetap dijaga oleh warga. Mereka percaya bahwa selama tradisi Mekotek tetap dilaksanakan sesuai pakemnya, desa akan senantiasa berada dalam keadaan aman dan terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Selain aspek spiritual, Mekotek juga memiliki fungsi sosial yang sangat penting bagi masyarakat Munggu. Tradisi ini menjadi ajang untuk mempererat hubungan antarbanjar sekaligus menjaga kekompakan seluruh warga. Pelaksanaan Mekotek melibatkan seluruh elemen desa, mulai dari persiapan kayu pulet, penyusunan formasi, hingga prosesi pawai yang dilakukan bersama.

Dalam beberapa tahun terakhir, tradisi ini sempat diwarnai dengan aksi warga yang mencoba menaiki tumpuan kayu Mekotek. Aksi tersebut dianggap menantang adrenalin dan menarik perhatian banyak orang. Namun, setelah muncul satu insiden yang dinilai dapat membahayakan keselamatan, pihak desa memutuskan untuk melarang praktik tersebut agar tidak menimbulkan risiko pada pesertanya maupun pada keberlangsungan ritual itu sendiri.

See also  Jalan-jala Hingga Perbukitan di Desa Sebelah, Kakek Rerod Belum Kembali ke Rumah

Suwinda menegaskan bahwa tindakan naik ke atas formasi kayu tidak memiliki nilai historis dalam tradisi Mekotek. Oleh karena itu, larangan tersebut diberlakukan agar ritual tetap berjalan sesuai makna aslinya dan tidak menimbulkan hal-hal yang bisa mencederai kesakralan tradisi yang sudah dijaga turun-temurun oleh masyarakat Munggu. (MBP)

 

redaksi

Related post