Aktivitas di Selat Lombok Meningkat, Ratusan Gempa Tektonik Tercatat Awal Januari 2026
DENPASAR – baliprawara.com
Wilayah Selat Lombok mengalami peningkatan aktivitas gempa bumi tektonik dalam beberapa hari terakhir. Fenomena ini tercatat terjadi sejak awal Januari 2026 dan menjadi perhatian karena jumlah getaran yang cukup banyak dalam waktu relatif singkat.
Aktivitas seismik tersebut terpantau berlangsung secara beruntun, dengan pusat gempa berada di wilayah laut. Meskipun magnitudo yang tercatat relatif kecil, intensitas kejadian yang sering menunjukkan adanya dinamika tektonik yang aktif di kawasan tersebut.
Selat Lombok sendiri dikenal sebagai salah satu wilayah dengan kondisi geologi yang kompleks. Keberadaan sesar aktif di dasar laut menjadikan kawasan ini rawan terhadap gempa bumi tektonik, baik dalam skala kecil maupun menengah.
Selama periode pemantauan 5 hingga 8 Januari 2026 sampai pukul 06.00 WITA, tercatat sebanyak 209 kejadian gempa bumi tektonik. Seluruh gempa tersebut memiliki episenter di laut dengan kekuatan magnitudo berkisar antara 1,4 hingga 2,8.
Kepala BBMKG Wilayah III Denpasar, Cahyo Nugroho, menjelaskan bahwa berdasarkan hasil analisis lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, rangkaian gempa ini termasuk dalam kategori gempa bumi dangkal. “Gempa dangkal umumnya terjadi pada kedalaman kurang dari 60 kilometer dan sering kali dipicu oleh pergerakan sesar aktif,” katanya dalam keterangan tertulis, Kamis 8 Januari 2026
Aktivitas sesar di dasar laut Selat Lombok menjadi faktor utama terjadinya rentetan gempa tersebut. Pergerakan lempeng dan tekanan tektonik yang terus berlangsung menyebabkan pelepasan energi secara berulang, yang terekam sebagai gempa bumi dengan magnitudo kecil.
Ia menegaskan bahwa hingga saat ini, ilmu pengetahuan belum mampu memprediksi secara pasti kapan dan di mana gempa bumi akan terjadi. Gempa merupakan fenomena alam yang berkaitan dengan dinamika bumi yang sangat kompleks dan terus berkembang.
Oleh karena itu, peningkatan pemahaman masyarakat terhadap potensi bencana menjadi hal yang penting. Edukasi mengenai kebencanaan, termasuk gempa bumi, dinilai dapat membantu masyarakat untuk lebih siap menghadapi situasi darurat apabila terjadi gempa yang lebih kuat.
Lebih lanjut juga ditekankan pentingnya kegiatan sosialisasi dan simulasi kebencanaan. Langkah ini bertujuan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat serta meminimalkan risiko kerugian materi maupun korban jiwa akibat gempa bumi.
Dalam konteks mendukung program zero victim atau nol korban, masyarakat diimbau untuk memahami dan menerapkan langkah-langkah mitigasi mandiri. Mitigasi ini perlu dilakukan terutama ketika merasakan guncangan gempa yang kuat dan berlangsung cukup lama.
Beberapa langkah mitigasi yang dianjurkan antara lain melindungi bagian kepala dari benda jatuh, menjauh dari kaca, lemari, dan bangunan yang berpotensi roboh. Selain itu, masyarakat juga diminta untuk segera menjauh dari bangunan rapuh yang berisiko runtuh akibat guncangan.
Bagi masyarakat yang berada di wilayah pesisir, BMKG mengingatkan agar segera menjauhi area pantai setelah merasakan gempa bumi. Langkah ini dilakukan sebagai antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan yang berpotensi memicu bahaya lain.
Menuju area terbuka juga menjadi salah satu langkah yang disarankan. Area terbuka dinilai lebih aman untuk menghindari risiko tertimpa bangunan atau benda keras saat gempa bumi terjadi maupun ketika terjadi gempa susulan.
Informasi resmi terkait gempa bumi dan potensi bencana lainnya hanya disampaikan melalui kanal komunikasi yang telah terverifikasi. Masyarakat diharapkan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum jelas sumber dan kebenarannya.
Untuk memperoleh informasi akurat, BMKG menyediakan berbagai saluran resmi yang dapat diakses masyarakat. Informasi gempa bumi dapat dipantau melalui media sosial resmi @infoBMKG, serta situs web www.bmkg.go.id dan inatews.bmkg.go.id.
Selain itu, BMKG juga menyediakan kanal Telegram InaTEWS BMKG yang menyajikan informasi peringatan dini gempa dan tsunami. Aplikasi mobile seperti WRS-BMKG dan InfoBMKG juga dapat digunakan untuk memantau aktivitas seismik secara real-time.
Dengan memanfaatkan kanal resmi tersebut, masyarakat diharapkan dapat memperoleh informasi yang cepat, tepat, dan dapat dipertanggungjawabkan. Langkah ini penting untuk menghindari kepanikan yang tidak perlu akibat beredarnya informasi tidak resmi.
BMKG terus melakukan pemantauan secara intensif terhadap aktivitas gempa bumi di wilayah Selat Lombok dan sekitarnya. Hasil pemantauan tersebut akan disampaikan kepada publik secara berkala sebagai bagian dari upaya transparansi informasi kebencanaan.
Masyarakat di wilayah terdampak diimbau untuk tetap tenang namun waspada, serta selalu mengikuti arahan dan informasi resmi dari BMKG dan instansi terkait. Peningkatan aktivitas gempa ini menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana alam di wilayah rawan gempa. (MBP)