Dua RS Baru di Badung Belum Beroperasi Penuh, Perizinan dan Pemenuhan SDM Masih Berproses

 Dua RS Baru di Badung Belum Beroperasi Penuh, Perizinan dan Pemenuhan SDM Masih Berproses

MANGUPURA – baliprawara.com

Pemerintah Kabupaten Badung hingga kini masih mempersiapkan pengoperasian dua rumah sakit baru yang berlokasi di wilayah Abiansemal dan Petang. Dua fasilitas kesehatan tersebut adalah RS Giri Asih Abiansemal dan RS Suwiti Petang yang pembangunannya telah rampung sejak beberapa waktu lalu, namun belum memberikan layanan secara menyeluruh kepada masyarakat.

Keberadaan dua rumah sakit ini sejatinya diharapkan mampu memperluas akses layanan kesehatan bagi warga Badung bagian tengah dan utara. Namun, proses administrasi dan pemenuhan sejumlah persyaratan teknis membuat operasional penuh belum bisa segera dilakukan. Pemerintah daerah menegaskan bahwa seluruh tahapan harus dilalui sesuai aturan demi menjamin mutu layanan kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Badung, dr Made Padma Puspita, menjelaskan bahwa saat ini fokus utama masih pada penyelesaian izin operasional. Proses tersebut menjadi syarat awal sebelum rumah sakit dapat melangkah ke tahap berikutnya, yakni akreditasi.

dr Made Padma Puspita menyampaikan bahwa pengoperasian rumah sakit tidak bisa dilakukan secara instan karena harus mengikuti prosedur yang telah ditetapkan. Ia menyebutkan bahwa izin operasional merupakan tahapan pertama yang wajib diselesaikan sebelum rumah sakit dapat memberikan layanan secara resmi kepada masyarakat.

Menurut dr Padma, izin operasional untuk RS Giri Asih Abiansemal dan RS Suwiti Petang saat ini masih berproses. Ia berharap seluruh tahapan perizinan tersebut dapat diselesaikan dalam waktu dekat agar rumah sakit bisa segera melangkah ke tahap selanjutnya.

Ia mengungkapkan bahwa proses visitasi telah dilakukan oleh berbagai pihak, mulai dari Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Dinas Kesehatan Kabupaten Badung, hingga organisasi profesi rumah sakit. Visitasi ini bertujuan untuk memastikan kesiapan fasilitas, sistem pelayanan, serta standar keselamatan pasien yang diterapkan di rumah sakit tersebut.

See also  Inspirasi Destinasi Liburan Berdasarkan Pilihan Drama Korea Favoritmu!

“Kalau terkait operasional rumah sakit itu ada tahapan-tahapan. Yang pertama izin operasional, setelah itu akreditasi rumah sakit,” ujar dr Padma belum lama ini.

Ia juga menyampaikan harapan agar izin operasional tersebut dapat terbit dalam waktu dekat sehingga proses selanjutnya bisa segera dilakukan.

Setelah izin operasional terbit, tahapan berikutnya yang harus dilalui adalah akreditasi rumah sakit. Akreditasi menjadi penilaian penting untuk memastikan bahwa rumah sakit telah memenuhi standar pelayanan kesehatan yang ditetapkan secara nasional.

dr Padma menegaskan bahwa tanpa akreditasi, rumah sakit tidak diperkenankan menjalin kerja sama dengan BPJS Kesehatan. Padahal, kerja sama dengan BPJS menjadi kebutuhan penting agar masyarakat dapat mengakses layanan kesehatan dengan jaminan pembiayaan.

Ia menjelaskan bahwa setelah akreditasi dinyatakan selesai dan memenuhi standar, barulah BPJS Kesehatan akan melakukan proses credentialing sebelum kerja sama resmi dijalankan. “Kalau belum akreditasi, tidak boleh atau tidak bisa juga kerja sama dengan BPJS. Nah, setelah itu baru kerja sama BPJS,” jelasnya.

Selain urusan perizinan dan administrasi, Dinas Kesehatan Badung juga tengah mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) untuk mendukung operasional dua rumah sakit tersebut. Salah satu tantangan yang masih dihadapi adalah pemenuhan kebutuhan tenaga medis, khususnya dokter spesialis.

dr Padma mengungkapkan bahwa saat ini proses pemenuhan SDM masih berjalan. Untuk sementara, akan dilakukan pergeseran tenaga kesehatan dari RSD Mangusada yang berperan sebagai rumah sakit induk milik Pemkab Badung.

Langkah ini dilakukan untuk memastikan layanan dasar di RS Giri Asih Abiansemal dan RS Suwiti Petang dapat berjalan sesuai kebutuhan masyarakat setempat. Tenaga kesehatan dari rumah sakit induk akan ditempatkan sementara guna melengkapi formasi yang masih kurang.

See also  FH Unud Hadiri Badan Kerja Sama Dekan FH PTN Wilayah Timur

“Saat ini sedang melengkapi SDM. Nah, memang ada beberapa tenaga kesehatan seperti dokter spesialis yang akan kita lakukan pergeseran,” ungkap dr Padma.

Ia menyebutkan bahwa masyarakat di wilayah Petang dan Abiansemal juga memiliki kebutuhan layanan kesehatan yang cukup tinggi sehingga keberadaan tenaga medis menjadi faktor penting sebelum rumah sakit dibuka secara penuh.

dr Padma menekankan bahwa seluruh tahapan dilakukan secara hati-hati agar rumah sakit yang nantinya beroperasi benar-benar siap dari sisi fasilitas, tenaga medis, hingga sistem pelayanan.

Sementara itu, kebutuhan layanan kesehatan masyarakat di Abiansemal dan Petang dinilai cukup tinggi. RS Giri Asih Abiansemal sendiri dirancang dengan kapasitas awal sekitar 100 tempat tidur untuk melayani pasien dari wilayah sekitarnya.

Untuk RS Giri Asih Abiansemal, Pemkab Badung juga telah melakukan survei terkait kebutuhan masyarakat. Dari hasil survei tersebut, diketahui bahwa minat dan kebutuhan warga terhadap layanan rumah sakit tergolong tinggi.

Namun demikian, kapasitas awal rumah sakit masih terbatas. Pemerintah daerah membuka peluang pengembangan fasilitas ke depan, tergantung pada kondisi fiskal daerah. Penambahan ruang perawatan dan fasilitas penunjang disebut menjadi salah satu opsi pengembangan.

Sementara itu, RS Suwiti Petang direncanakan memiliki konsep layanan yang sedikit berbeda. Rumah sakit ini disebut-sebut akan dikembangkan dengan standar yang lebih luas, bahkan diarahkan untuk memiliki layanan bertaraf internasional di masa mendatang.

Dengan berbagai persiapan yang masih berlangsung, Pemkab Badung berharap dua rumah sakit baru ini dapat segera beroperasi secara penuh setelah seluruh tahapan terpenuhi. Kehadiran RS Giri Asih Abiansemal dan RS Suwiti Petang diharapkan mampu memperkuat layanan kesehatan bagi masyarakat Badung secara merata. (MBP)

redaksi

Related post