Kirab Barongsai dan Liong Meriahkan Prosesi Tolak Bala Sambut Imlek di Vihara Dharmayana Kuta

 Kirab Barongsai dan Liong Meriahkan Prosesi Tolak Bala Sambut Imlek di Vihara Dharmayana Kuta

MANGUPURA – baliprawara.com 

Menyambut Tahun Baru Imlek 2577, Vihara Dharmayana Kuta, menggelar upacara tolak bala, Senin 16 Februari 2026. Prosesi ini juga diisi parade Barongsai dan Liong dan diiringi ratusan krama dari Banjar Dharma Semadi Kuta dengan berjalan keliling Kuta.

Penanggung jawab Vihara Dharmayana Kuta, Adi Dharmaja Kusuma, mengatakan, kehadiran Liong dan Barongsai pada prosesi ini diyakini mampu menetralisir energi-energi negatif, sehingga masyarakat dapat memasuki tahun baru dengan perasaan sukacita dan penuh harapan.

Kirab Barongsai Pusaka Tantra diikuti sekitar 70 orang personil inti. Sementara itu, keterlibatan ibu-ibu PKK mencapai sekitar 125 orang. Ditambah lagi dengan partisipasi keluarga besar Banjar yang jumlahnya mencapai ratusan orang.

Selain peserta inti, umat yang hadir dari lingkungan sekitar juga turut ambil bagian dalam prosesi tersebut. “Secara keseluruhan, jumlah peserta yang mengikuti acara pada sore hari itu diperkirakan mencapai 300 hingga 400 orang,” ucapnya saat ditemui di sela prosesi.

Prosesi kirab diawali dengan rangkaian persembahan sesuai tradisi adat Tionghoa. Persembahan tersebut meliputi pembakaran kertas sembahyang, kertas emas, aneka kue tradisional, serta berbagai sajian lainnya yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Ritual persembahan ini menjadi bagian penting dalam tradisi perayaan Imlek. Setiap unsur memiliki makna simbolis, termasuk kertas emas yang melambangkan doa dan harapan yang dipanjatkan kepada leluhur.

Menariknya, perayaan kirab kali ini juga menampilkan nuansa akulturasi budaya yang kental antara tradisi Tionghoa dan budaya Bali. Ibu-ibu PKK yang turut serta dalam prosesi hadir mengenakan kamen dan kebaya, mencerminkan identitas budaya lokal yang tetap dijaga dalam momentum perayaan tersebut.

Dalam kirab itu, peserta juga membawa lontek sebagaimana lazim ditemukan dalam tradisi Bali. Lontek yang dibawa dilengkapi dengan tirta serta jempana sebagai bagian dari simbol kesucian dan penghormatan.

See also  Vihara Dharmayana Kuta Bersolek Jelang Imlek, Tahun Ini Tradisi Kirab Keliling Kuta Ditiadakan

Tak hanya itu, sejumlah peserta juga terlihat membawa tedung yang biasanya digunakan dalam upacara adat Bali. Kehadiran tedung tersebut mempertegas nuansa akulturasi budaya yang telah berlangsung sejak lama di kawasan tersebut.

Selain unsur-unsur tersebut, canang sari juga tetap dihadirkan sebagaimana lazimnya dalam ritual Bali. Perpaduan antara canang, dupa, dan pengasapan menjadi simbol harmonisasi dua tradisi yang berjalan berdampingan.

Akulturasi antara tradisi Tionghoa dan Bali di tempat ibadah tersebut bukanlah hal baru. Tradisi ini telah berjalan setiap tahun dan menjadi ciri khas perayaan Imlek di wilayah itu. Kehadiran berbagai elemen budaya dalam satu prosesi menunjukkan harmonisasi yang telah terbangun lama. (MBP)

 

redaksi

Related post