Pendaki 84 Tahun yang Hilang di Gunung Batukaru Ditemukan, Evakuasi Dramatis dari Jurang Sedalam 90 Meter
Evakuasi jenazah pendaki 84 tahun yang hilang di Gunung Batukaru. (ist)
TABANAN – baliprawara.com
Upaya pencarian panjang terhadap seorang pendaki lanjut usia yang sebelumnya dinyatakan hilang di kawasan Gunung Batukaru, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan, akhirnya menemukan titik terang. Setelah sempat dihentikan, operasi pencarian kembali dibuka menyusul adanya laporan penemuan jasad di area jurang yang berada di lereng gunung tersebut.
Korban diketahui merupakan kakek berusia 84 tahun bernama Made Dibya. Ia sebelumnya dilaporkan terpisah dari rombongan saat melakukan pendakian dan diduga tersesat di jalur pendakian Gunung Batukaru.
Penemuan jasad korban terjadi pada Sabtu sore, 9 Mei 2026 sekitar pukul 16.20 Wita. Lokasinya berada di jurang dengan kedalaman kurang lebih 90 meter pada ketinggian sekitar 1.700 meter di atas permukaan laut.
Saat pertama kali ditemukan, tim di lapangan menduga kuat jasad tersebut merupakan Made Dibya yang sebelumnya telah masuk daftar pencarian sejak beberapa hari terakhir. Dugaan itu menguat karena lokasi penemuan berada di sekitar area pencarian yang sebelumnya telah disisir oleh tim gabungan.
Sebelumnya, Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Denpasar atau Basarnas Bali sempat menghentikan operasi pencarian terhadap korban. Penghentian dilakukan setelah proses pencarian berlangsung selama tujuh hari sesuai standar operasional yang berlaku.
Operasi tersebut secara resmi dihentikan pada Sabtu, 2 Mei 2026, setelah berbagai metode pencarian dilakukan oleh tim SAR gabungan namun belum membuahkan hasil. Namun laporan terbaru terkait dugaan keberadaan korban membuat operasi kembali diaktifkan.
Basarnas Bali bergerak cepat menindaklanjuti informasi tersebut dengan melakukan koordinasi intensif bersama SAR Samapta Polda Bali serta pemandu lokal yang memahami detail medan pendakian Gunung Batukaru.
Setelah seluruh informasi diverifikasi, sebanyak lima personel dari Kantor Basarnas Bali di Jimbaran, Kuta Selatan diberangkatkan menuju Posko Pendakian Gunung Batukaru pada Sabtu sore sekitar pukul 16.40 Wita.
Tim yang tiba di lokasi kemudian melakukan evaluasi kondisi lapangan. Mengingat malam mulai turun dengan pencahayaan yang sangat terbatas, serta medan yang dikenal ekstrem dan licin, diputuskan proses evakuasi dilakukan keesokan harinya demi keselamatan seluruh personel.
Pada Minggu pagi, 10 Mei 2026, tepat pukul 08.00 Wita, tim SAR gabungan mulai bergerak dari titik awal di ketinggian 1.197 meter di atas permukaan laut menuju lokasi penemuan korban. Setelah menempuh perjalanan selama lebih dari dua jam, tim akhirnya berhasil menjangkau posisi korban pada pukul 10.20 Wita.
Korban ditemukan pada koordinat 8°20’46.67″S – 115°5’6.32″E dengan posisi berada di kedalaman jurang sekitar 90 meter pada ketinggian 1.808 meter di atas permukaan laut.
Kondisi medan di lokasi membuat proses evakuasi harus dilakukan dengan ekstra hati-hati. Kabut tebal membuat jarak pandang sangat terbatas, sementara bebatuan yang mudah bergeser meningkatkan risiko bagi personel yang turun ke dasar jurang.
Selain tantangan medan, kondisi jenazah yang telah mengalami pembengkakan dan pembusukan organ tubuh juga menjadi kendala tersendiri dalam proses penanganan.
Sekitar pukul 11.45 Wita, korban berhasil dievakuasi dari dasar jurang menuju jalur aman untuk kemudian ditandu secara estafet menuruni lereng Gunung Batukaru menuju Posko SAR Gabungan di kawasan Jatiluwih.
Proses penurunan berlangsung cukup lama karena medan licin. Evakuasi akhirnya tuntas dilakukan pada pukul 13.40 Wita.
Setibanya di posko, jenazah korban langsung diserahkan kepada pihak keluarga untuk selanjutnya dibawa menuju rumah duka menggunakan ambulans milik Bhuana Bali Rescue.
Operasi melibatkan personel dari Tim Rescue Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar, Ditsamapta Sabhara Polda Bali, Ditsamapta Sabhara Polres Tabanan, Polsek Selemadeg, Polairud Polres Tabanan, Babinsa Desa Jegu, BPBD Kabupaten Tabanan, Bhuana Bali Rescue, RAPI Tabanan, PMI Kabupaten Tabanan, komunitas pendaki gunung, ORARI Bali, IOF Bali, keluarga korban, hingga masyarakat sekitar. (MBP)