Angkat Isu Kesetaraan, Sanggar Nong Nong Kling Pentaskan “Mlantjaran ka Sasak”
Garapan drama modern Sanggar Nong Nong Kling.
DENPASAR – baliprawara.com
Sanggar Nong Nong Kling menghadirkan drama Bali modern berjudul “Mlantjaran ka Sasak” dalam rangkaian Bulan Bahasa Bali VIII, Jumat (20/2/2026), di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali. Garapan kolosal ini tak hanya memikat secara artistik, tetapi juga menyuarakan pesan kuat tentang kesetaraan dan pentingnya pendidikan.
Pementasan turut disaksikan oleh Istri Gubernur Bali Bunda Putri Suastini Koster, serta Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana. Kehadiran keduanya menjadi bentuk dukungan nyata terhadap pelestarian bahasa dan sastra Bali melalui panggung teater modern.
Naskah drama diangkat dari novel berbahasa Bali karya Wayan Badra dengan nama pena Gede Srawana. Karya tersebut sempat dimuat di majalah Djatadjoe sekitar tahun 1935–1939 sebelum dibukukan pada 1978. Kisahnya berlatar Denbukit, Buleleng, sekitar 1936, mengangkat realitas sosial Bali saat sistem kasta masih sangat kental.
Cerita berfokus pada Ida Ayu Priya, putri keluarga berkasta, yang gemar belajar dan melanjutkan pendidikan hingga ke Jawa bersama I Made Sarati, seorang pemuda Sudra (Jaba). Dalam perjalanan ke Sasak atas perintah sang ayah, benih cinta tumbuh di antara keduanya. Namun, perbedaan kasta membuat mereka memilih memendam perasaan.
Ketua sanggar sekaligus sutradara, Nyoman Suardika alias Mang Epo, menjelaskan garapan ini melibatkan 41 pemain, sebagian besar generasi muda. Uniknya, pertunjukan tidak menggunakan gamelan. Unsur musikal sepenuhnya mengandalkan vokal para pemain, menyerupai perpaduan kecak, genjek, hingga genggong, namun dikemas dalam konsep teater rakyat modern.
“Kami mengadaptasi konsep Rengganis, kesenian tradisional dari Penglatan, Buleleng. Para penabuh drama gong kami libatkan sebagai pemain sekaligus pengiring dengan suara mulut. Ini solusi artistik sekaligus efisien,” jelas Mang Epo.
Panggung presenium yang luas mampu dikuasai para pemain dengan apik. Setiap adegan mendapat apresiasi penonton. Tata artistik dibuat minimalis—menggunakan latar kain hitam, level multifungsi, serta sepeda sebagai properti simbolik. Level tersebut dapat berubah fungsi menjadi kapal maupun ruang penginapan, sehingga pertunjukan terasa dinamis tanpa dekorasi berlebih.
Mang Ajik, yang mendampingi proses produksi, menegaskan pesan utama drama ini adalah pentingnya keadilan sosial. “Kami ingin menegaskan bahwa semua orang berhak atas pendidikan, kesehatan, dan kesetaraan di hadapan hukum. Ilmu pengetahuan jauh lebih berharga daripada memperdebatkan kasta,” ujarnya.
Selain menjadi tontonan, pementasan ini juga menjadi ruang pelestarian Bahasa Bali. Di tengah kecenderungan penggunaan Bahasa Indonesia dalam komunikasi sehari-hari, khususnya di lingkungan puri atau griya, drama ini menjadi medium edukatif bagi generasi muda untuk kembali mendalami bahasa, sastra, dan aksara Bali.
Melalui Mlantjaran ka Sasak, Sanggar Nong Nong Kling tidak hanya menghidupkan karya sastra klasik ke panggung modern, tetapi juga menghadirkan refleksi sosial yang tetap relevan hingga kini. Dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII, pertunjukan ini menjadi bukti bahwa bahasa dan seni tradisi mampu berdialog dengan isu-isu zaman secara lugas, kritis, dan menyentuh. (MBP2)