APK Pendidikan Tinggi Masih Rendah, ITB STIKOM Bali Dorong Akses Kuliah Lewat Beragam Skema
Rektor ITB STIKOM Bali, Dr. Dadang Hermawan, saat memaparkan terkait APK Pendidikan Tinggi di Indonesia.
DENPASAR – baliprawara.com
Angka Partisipasi Kasar (APK) Pendidikan Tinggi masih menjadi tantangan serius dalam pembangunan sumber daya manusia di Indonesia. Data menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat dalam mengenyam pendidikan tinggi belum merata, meskipun kebutuhan akan tenaga kerja berpendidikan semakin meningkat di tengah perubahan global yang cepat.
Kondisi tersebut turut dirasakan di berbagai daerah, termasuk Provinsi Bali. Di tengah pertumbuhan sektor ekonomi dan tuntutan kompetensi yang semakin kompleks, akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi dinilai perlu terus diperluas agar selaras dengan kebutuhan zaman.
Pendidikan tinggi tidak hanya dipandang sebagai jenjang akademik lanjutan, tetapi juga sebagai sarana peningkatan kualitas hidup masyarakat. Semakin banyak lulusan perguruan tinggi, semakin besar peluang terciptanya masyarakat yang adaptif, produktif, dan memiliki daya saing.
Rektor Institut Teknologi dan Bisnis (ITB) STIKOM Bali Dr. Dadang Hermawan menyampaikan bahwa Angka Partisipasi Kasar Pendidikan Tinggi di Indonesia saat ini masih berada di kisaran 35 persen. Angka tersebut dinilai belum ideal jika dibandingkan dengan tantangan era global yang menuntut kualitas sumber daya manusia yang unggul.
Menurut Dadang, dunia saat ini berada dalam kondisi penuh ketidakpastian atau dikenal dengan era VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity). Situasi tersebut menuntut individu yang memiliki wawasan luas, kemampuan berpikir kritis, serta kesiapan menghadapi perubahan yang cepat.
Ia menjelaskan bahwa pendidikan tinggi menjadi salah satu jalur penting untuk membentuk kapasitas tersebut. Melalui proses akademik, mahasiswa tidak hanya memperoleh ilmu pengetahuan, tetapi juga kemampuan analisis, adaptasi, dan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
“Kondisi dunia yang terus berubah membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki wawasan luas, dan salah satu cara untuk memperolehnya adalah melalui pendidikan tinggi,” ujar Dadang dalam acara Coffee Morning bersama media, Rabu 7 Januari 2026, di Kampus ITB STIKOM Bali, Renon, Denpasar.
Dadang juga menyinggung target peningkatan APK Pendidikan Tinggi di Bali. Ia menyebutkan bahwa idealnya APK di Bali dapat mencapai angka 60 persen agar dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat dapat dirasakan lebih luas.
Semakin tinggi APK Pendidikan Tinggi, kata dia, maka semakin besar pula peluang masyarakat untuk meningkatkan taraf hidupnya. Pendidikan tinggi dinilai mampu membuka akses terhadap lapangan kerja yang lebih baik serta meningkatkan kapasitas individu dalam berkontribusi pada pembangunan daerah.
Namun demikian, ia mengakui masih banyak lulusan SMA dan SMK yang belum dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Salah satu faktor utama yang dihadapi adalah keterbatasan kondisi keuangan keluarga.
Kendala finansial masih menjadi alasan dominan mengapa sebagian lulusan sekolah menengah memilih untuk tidak melanjutkan pendidikan tinggi. Biaya kuliah, biaya hidup, serta keterbatasan informasi mengenai program bantuan pendidikan kerap menjadi penghalang.
Menanggapi kondisi tersebut, ITB STIKOM Bali menyiapkan sejumlah skema untuk membantu calon mahasiswa agar tetap dapat mengakses pendidikan tinggi. Program-program tersebut dirancang untuk memberikan alternatif solusi bagi masyarakat dengan berbagai latar belakang ekonomi.
Beberapa skema yang tersedia di antaranya KIP Kuliah, program 1 Keluarga 1 Sarjana, Beasiswa Yayasan, hingga program Kuliah Sambil Magang atau bekerja ke luar negeri.
Program Kuliah Sambil Magang menjadi salah satu upaya yang dinilai efektif dalam menjawab kendala biaya sekaligus kebutuhan pengalaman kerja. Melalui program ini, mahasiswa dapat menjalani perkuliahan sembari mengikuti program magang, termasuk di luar negeri.
Dadang menjelaskan bahwa program tersebut juga sejalan dengan kebijakan Pemerintah Indonesia yang saat ini tengah mendorong implementasi kuliah berbasis magang. Pemerintah bahkan telah melakukan pendataan terhadap perguruan tinggi yang menyelenggarakan program serupa.
Ia menyebutkan bahwa ITB STIKOM Bali telah lebih dahulu melaksanakan program kuliah sambil magang sebelum adanya pendataan resmi dari pemerintah. Program ini diharapkan dapat menjadi jembatan antara dunia pendidikan dan dunia kerja.
Melalui program magang ke luar negeri, mahasiswa tidak hanya mendapatkan pengalaman kerja internasional, tetapi juga kesempatan untuk mengasah kemampuan bahasa asing serta memperoleh penghasilan. Pengalaman tersebut dinilai dapat menjadi nilai tambah bagi lulusan saat memasuki dunia kerja.
Dalam acara tersebut, ITB STIKOM Bali juga merangkaikan kegiatan dengan pelepasan mahasiswa peserta Program Kuliah Magang ke Jepang. Tiga mahasiswa yang dilepas adalah Ni Kadek Anita Setyari, Tarsisius Danrianus Tupen Lanan, dan Ni Made Ratih Purwasih.
Program ini diharapkan dapat memberikan gambaran kepada masyarakat bahwa pendidikan tinggi dapat dijalani dengan berbagai model pembelajaran yang lebih fleksibel dan aplikatif. (MBP)