Bali Villa Connect 2026, Perlu Sinergi Bangun Masa Depan Pariwisata Bali
Suasana pembukaan Bali Villa Connect 2026, Selasa (26/5).
DENPASAR – baliprawa.com
Masa depan pariwisata Bali tidak bisa dibangun secara sendiri-sendiri. Bali membutuhkan sinergi antara pemerintah, asosiasi, investor, akademisi, masyarakat lokal, dan seluruh pelaku industri untuk menciptakan tata kelola pariwisata yang lebih sehat, profesional, dan berkelanjutan. Melalui Bali Villa Connect (BVC) 2026, Bali Villa Rental and Management Association (BVRMA) menghadirkan ruang untuk belajar, berbagi pengalaman, memperluas koneksi bisnis, sekaligus menyatukan visi dalam membangun pariwisata Bali yang lebih berkualitas dan berdaya saing global.
Demikian antara lain disampaikan Ketua BVRMA, Kadek Adnyana saat memberi sambutan pada acara Bali Villa Connect (BVC) 2026 di Bali Sunset Road Convention, Selasa (26/5/2026). Kegiatan yang dibuka Gubernur Bali yang diwakili Staf Ahli Gubernur Tjok Bagus Pemayun tersebut, berlangsung selama dua hari.

Lanjut Kadek Adnyana, BVC 2026 merupakan event tahunan kedua sejak BVRMA resmi berdiri. “Dalam waktu yang relatif singkat, kami memberanikan diri membangun sebuah forum industri berskala besar yang mempertemukan villa operator, villa rental & management, travel agent, home-based agent, rent car, penyedia teknologi hospitality, PMS system, amenities supplier, hingga berbagai pelaku industri pendukung lainnya dalam satu ekosistem kolaboratif,” ujar Adnyana.
Pada kesempatan ini, BVC 2026 juga menghadirkan institusi pendidikan sebagai bagian penting dalam membangun ekosistem industri villa yang lebih kuat dan berkelanjutan. “Ke depan, kami akan menjalin kerja sama strategis melalui penandatanganan MoU bersama institusi pendidikan, termasuk Universitas Udayana, dalam rangka penyediaan SDM yang lebih relevan dengan kebutuhan industri villa operator, villa rental, dan villa management,” ujarnya.
Sebab, selama ini sebagian besar kurikulum pariwisata masih berfokus pada sektor perhotelan, sementara industri villa berkembang sangat pesat dan membutuhkan kompetensi SDM yang lebih spesifik. Karena itu, kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri menjadi langkah penting dalam menciptakan talenta pariwisata yang adaptif dan siap menghadapi kebutuhan global.
Pada tahun ini BVC 2026 menghadirkan:
40 exhibitor dari berbagai sektor industri pariwisata dan hospitality serta 30 narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi nasional maupun internasional, termasuk dari Australia, Dubai, dan Bangkok. Lebih dari 900 peserta yang telah terdaftar serta partisipasi UMKM lokal sebagai bagian penting dalam penguatan ekonomi masyarakat Bali.
BVRMA memiliki perhatian yang sangat serius terhadap isu kepatuhan dan tata kelola industri akomodasi pariwisata di Bali. BVRMA melihat pertumbuhan investasi di sektor villa dan hospitality berkembang sangat cepat. Namun di sisi lain, kita juga menghadapi berbagai tantangan serius — mulai dari villa ilegal, alih fungsi lahan yang tidak terkendali, pengelolaan limbah dan sampah, kemacetan, perang harga yang tidak sehat, hingga persoalan keamanan dan kualitas destinasi Bali itu sendiri.
”Kami juga melihat masih adanya praktik usaha yang belum memberikan kontribusi optimal terhadap pembangunan daerah, pelestarian budaya Bali, maupun kesejahteraan masyarakat lokal. Karena itu, kita harus berani membangun sistem industri yang lebih tertib, profesional, transparan, dan berkeadilan. Kita harus mampu mengelola pertumbuhan industri ini dengan lebih baik agar infrastruktur Bali tetap terjaga, lingkungan tetap lestari, dunia usaha tetap sehat, dan masyarakat lokal tetap menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Jangan sampai masyarakat Bali hanya menjadi penonton di tanah kelahirannya sendiri,” tegasnya.
Bali adalah “golden goose” pariwisata Indonesia. Jangan hanya mengambil telur emasnya saja, tetapi mari bersama-sama menjaga dan merawat angsanya agar tetap hidup, sehat, dan berkelanjutan untuk generasi mendatang.
Melalui Bali Villa Connect 2026, pihaknya mengajak seluruh pemangku kepentingan — pemerintah, asosiasi, investor, pelaku usaha, media, akademisi, dan masyarakat — untuk bersama-sama membangun quality tourism ecosystem yang berkelanjutan, bertanggung jawab, dan memberikan manfaat nyata bagi Bali.
Pihaknya percaya, Bali bukan hanya destinasi wisata dunia. Bali adalah warisan budaya, rumah bagi masyarakat lokal, dan masa depan yang harus kita jaga bersama.
Inisiatif Brilliant
Gubernur Bali yang diwakili Staf Ahli Gubernur Bidang Hukum, Politik dan Pemerintahan, Tjok Bagus Pemayun menyambut baik kegiatan ini.
Ini merupakan sebuah inisiatif brilliant dalam dunia pariwisata yang diharapkan mampu menciptakan ekosistem usaha vila di Bali bisa berjalan dengan sehat sesuai yang diharapkan bersama.
Dikatakan, beberapa tahun terakhir di Bali selalu diisukan terdapat ribuan usaha vila ilegal. Dari usaha vila yang tidak berizin sampai pada usaha vila milik orang asing yang juga ditengarai tidak memiliki dokumen perijinan yang sesuai dengan aturan.
Maka dari itu acara ini diharapkan bisa menjadi ajang tukar informasi bagaimana sistem pengelolaan usaha vila yang legal.
Disampaikan, Bali sudah komit untuk membangun pariwisata yang berbasis budaya, yang berkualitas dan bermartabat. Maka dari itu seluruh usaha pariwisata yang ada di Bali diwajibkan memenuhi segala ketentuan yang ada. Setiap usaha pariwisata wajib memenuhi seluruh persyaratan perizinan yang diperlukan, mentaati segala peraturan yang dikeluarkan oleh pemerintah Provinsi Bali, baik Peraturan Daerah maupun Peraturan Gubernur.
Begitu juga dengan ketentuan yang ada di pemerintah kabupaten dan kota, semua harus ditaati dan dilaksanakan dengan penuh rasa tanggung jawab.
Ekonomi Bali sepanjang tahun 2025 tumbuh kuat sebesar 5,82 persen. Ini merupakan yang tertinggi dalam 7 tahun terakhir. Yang salah satunya didorong oleh sektor pariwisata yaitu penyediaan akomodasi dan makan minum.
Kondisinya cukup tinggi melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya mencapai 5,11 persen.
Usaha vila ini sebenarnya memiliki peran yang sangat besar terhadap pertumbuhan ekonomi terutama di wilayah-wilayah kawasan pariwisata seperti Canggu, Seminyak, Ubud, dan daerah-daerah lain di Bali. Akan tetapi setiap orang yang membuat usaha hendaknya paham dengan regulasi yang ada. Setiap usaha jangan sampai melanggar kata ruang dan merusak lingkungan. Setiap usaha yang dibuat harus tetap memikirkan keberlanjutan pariwisata Bali khususnya dalam dan keberlanjutan Bali pada umumnya. (MBP2)
