Beautiverse Perkuat Ekosistem Beauty dan Wellness Lewat Peluncuran Aplikasi Baru di Bali

 Beautiverse Perkuat Ekosistem Beauty dan Wellness Lewat Peluncuran Aplikasi Baru di Bali

Rangkaian Road to Beautiverse, di The Meru Sanur, Sabtu 26 September 2026.

DENPASAR – baliprawara.com

Beautiverse terus memperluas perannya di industri kecantikan dan wellness dengan meluncurkan aplikasi digital resmi dalam rangkaian Road to Beautiverse yang digelar di The Meru Sanur, Bali, Sabtu 26 September 2026. Langkah ini menandai perubahan Beautiverse dari sekadar penyelenggara acara menjadi platform yang memungkinkan interaksi dan kolaborasi berlangsung sepanjang tahun.

Selama ini Beautiverse dikenal sebagai ruang yang mempertemukan pelaku industri kecantikan, kesehatan, dan keberlanjutan melalui berbagai forum diskusi. Kini, melalui aplikasi baru tersebut, koneksi antarbrand, profesional, kreator, komunitas, hingga konsumen dapat terus terjaga tanpa harus menunggu perhelatan acara tatap muka.

Setelah sejumlah diskusi yang digelar dalam rangkaian Road to Beautiverse sebelumnya, muncul berbagai masukan terkait perubahan perilaku konsumen dan perkembangan industri beauty serta wellness. Tren yang berkembang menunjukkan bahwa kecantikan dan kesehatan kini semakin terintegrasi, sementara konsumen juga semakin memperhatikan nilai keberlanjutan yang diusung sebuah brand.

Founder & Project Director Beautiverse, Dr. Paulus Herry Arianto, mengatakan aplikasi tersebut lahir dari kebutuhan untuk menghadirkan ruang kolaborasi yang berkelanjutan bagi seluruh elemen dalam ekosistem industri. Menurutnya, banyak brand kini tidak hanya menawarkan produk, tetapi juga pengalaman serta nilai yang relevan dengan gaya hidup masyarakat modern.

Founder & Project Director Beautiverse, Dr. Paulus Herry Arianto (kanan) saat memberi keterangan kepada wartawan.

Peluncuran aplikasi ini juga menjadi bagian dari persiapan menuju Beautiverse 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 18-20 Desember 2026. Pihaknya menargetkan sekitar 10.000 peserta hadir dalam acara utama tersebut. Untuk mencapai target itu, penguatan jaringan komunitas di Bali terus dilakukan melalui berbagai program dan kolaborasi.

Selain menjadi wadah pertemuan industri, Beautiverse kata dia, juga ingin membuka peluang lebih besar bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). “Dari puluhan brand nasional yang telah menyatakan partisipasi, kamu menargetkan sekitar 30 persen peserta berasal dari UMKM Indonesia. Hal ini diharapkan dapat membantu pelaku usaha lokal memperkenalkan produk dan layanan mereka ke pasar yang lebih luas,” katanya.

Lebih lanjut dikatakan, potensi pasar Bali turut menjadi alasan kuat pengembangan acara ini. Berdasarkan data sejumlah brand peserta, nilai belanja konsumen di Bali disebut lebih tinggi dibanding beberapa kota sekunder lainnya. Kondisi tersebut dinilai memberikan peluang besar bagi pertumbuhan industri kecantikan dan wellness.

Ke depan, Beautiverse tidak hanya berfokus di Bali. Pihahknya juga menyiapkan ekspansi ke Jakarta dan sejumlah pasar internasional, termasuk Manila dan Vietnam. Strategi ini dilakukan untuk memperluas jangkauan ekosistem yang dibangun sekaligus membuka peluang kolaborasi lintas negara.

Sementara itu, Yulia Baltschun, dr. Zie, dan Murni Cosmetics berbagi pengalaman mengenai pentingnya membangun komunitas yang kuat dalam mendukung pertumbuhan brand sekaligus menciptakan hubungan yang lebih dekat dengan audiens.

Di sisi lain, Dr. Tary Mantra menilai Beautiverse memiliki peran sebagai titik temu yang mempertemukan berbagai individu dengan latar belakang berbeda dalam satu ekosistem yang sama. Melalui ruang tersebut, pertukaran gagasan dan pengalaman dapat terjadi secara lebih terbuka.

Seluruh masukan dan insight yang muncul selama rangkaian kegiatan ini menjadi bagian dari persiapan menuju Beautiverse 2026. Dengan dukungan platform digital yang baru diluncurkan, koneksi yang sebelumnya terjalin melalui pertemuan langsung kini dapat terus berkembang secara online.

Beautiverse sendiri dibangun dengan tiga pilar utama, yakni Beauty, Wellness, dan Sustainability. Ketiga fokus tersebut menjadi fondasi dalam membangun ekosistem yang mendorong kolaborasi, pertukaran pengetahuan, serta pengembangan berbagai inisiatif baru yang relevan dengan kebutuhan industri saat ini. (MBP)

 

redaksi

Related post