Berawal dari Tiga Indukan, Candi Kusuma Pinatih Farm Sukses Kembangkan Peternakan Modern

 Berawal dari Tiga Indukan, Candi Kusuma Pinatih Farm Sukses Kembangkan Peternakan Modern

Candi Kusuma Pinatih Farm sukses kembangkan peternakan modern beromzet miliaran rupiah.

MANGUPURA – baliprawara.com

Membangun usaha peternakan tidak selalu harus dimulai dengan modal besar. Dengan perencanaan yang matang, penerapan manajemen modern, serta konsistensi dalam menjaga kualitas, sebuah usaha kecil dapat berkembang menjadi bisnis menjanjikan.

Hal itulah yang dibuktikan oleh pasangan suami istri asal Banjar Griya, Desa Ayunan, Kecamatan Abiansemal, Badung, Bali. Dari hanya tiga ekor indukan babi yang dipelihara pada 2017, keduanya berhasil mengembangkan peternakan hingga memiliki ratusan ekor ternak yang mampu memenuhi kebutuhan pasar di dalam maupun luar Pulau Bali.

Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa perubahan pola pengelolaan menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan produktivitas peternakan. Tidak hanya mengandalkan cara konvensional, mereka mulai menerapkan sistem yang lebih terstruktur sehingga pertumbuhan ternak, kualitas hasil, hingga efisiensi operasional dapat terus ditingkatkan.

Ni Ketut Nenik Suryanadi, bersama suaminya, Kadek Dwi Andika.

Usaha peternakan tersebut dirintis oleh Ni Ketut Nenik Suryanadi bersama suaminya, Kadek Dwi Andika. Saat ini, peternakan yang mereka kelola di Candi Kusuma Pinatih Farm, telah berkembang hingga memiliki sekitar 255 ekor babi, terdiri atas 55 indukan dan sekitar 200 ekor babi penggemukan.

Sebelum fokus mengembangkan peternakan, Nenik memiliki pengalaman bekerja di luar negeri. Ia pernah bekerja di Amerika Serikat selama lebih dari dua tahun, kemudian melanjutkan karier selama empat tahun di sebuah perusahaan telekomunikasi.

Pengalaman tersebut menjadi bekal berharga dalam menerapkan sistem kerja yang lebih modern ketika memutuskan membangun usaha peternakan bersama keluarga. Menurut Nenik, pada tahap awal usaha mereka masih menggunakan metode pemeliharaan tradisional sebagaimana banyak dilakukan peternak pada umumnya.

Namun setelah mempelajari berbagai sistem budidaya, mereka memutuskan beralih menggunakan pola manajemen modern karena dinilai lebih efektif dalam mendukung pertumbuhan ternak. “Perubahan tersebut menjadi titik penting dalam perkembangan usaha. Dengan sistem yang lebih tertata, populasi ternak terus bertambah dari tahun ke tahun hingga mampu mencapai ratusan ekor,” katanya, Rabu 1 Juli 2026, saat ditemui di lokasi peternakannya.

Salah satu penerapan manajemen modern terlihat pada desain kandang yang menggunakan kombinasi sistem baterai dan koloni. Pada kandang baterai kata dia, setiap ekor babi ditempatkan dalam petak tersendiri sehingga ruang geraknya lebih terbatas. “Kondisi tersebut membuat energi yang dihasilkan ternak lebih banyak digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan bobot dibandingkan aktivitas bergerak,” ujarnya.

Melalui sistem tersebut, babi yang dipelihara dapat mencapai bobot panen ideal sekitar 120 kilogram. Pengelolaan kandang juga menjadi lebih mudah karena setiap ternak dapat dipantau sesuai kebutuhan masing-masing.

Selain sistem kandang, perhatian terhadap kualitas pakan juga menjadi bagian penting dalam manajemen peternakan yang diterapkan. Candi Kusuma Pinatih Farm memproduksi pakan secara mandiri dengan formulasi yang disesuaikan berdasarkan fase pertumbuhan ternak.

“Komposisi pakan untuk anak babi dibuat berbeda dengan pakan indukan maupun babi penggemukan. Pengaturan tersebut, agar kebutuhan nutrisi setiap fase pertumbuhan dapat terpenuhi secara optimal,” ucapnya.

Pendekatan tersebut kata dia, turut memengaruhi kualitas hasil produksi. Keseimbangan antara daging dan lemak menjadi salah satu karakteristik yang membuat produk dari peternakan ini diminati konsumen.

Tidak hanya menjual babi hidup, usaha tersebut juga melayani penjualan babi bersih atau karkas. Produk mereka menjadi salah satu pemasok bagi sejumlah pelaku usaha babi guling di Bali yang membutuhkan pasokan secara rutin. Permintaan datang dari berbagai sektor, mulai dari kebutuhan upacara adat, piodalan, rumah makan, hingga pelaku usaha kuliner yang memerlukan bahan baku dengan kualitas yang konsisten.

Jangkauan pemasaran pun terus berkembang. Selain memenuhi kebutuhan pasar di Bali, peternakan tersebut juga pernah mengirim babi hidup maupun karkas ke luar daerah.

Dalam satu kali pengiriman, jumlah ternak yang dikirim dapat mencapai sekitar 40 hingga 50 ekor. Beberapa daerah tujuan yang pernah menerima pasokan dari Candi Kusuma Pinatih Farm di antaranya Manado dan Medan. Menurut Nenik, pembeli memilih produk dari peternakannya karena kualitas daging yang dinilai memiliki komposisi seimbang antara daging dan lemak sehingga sesuai dengan kebutuhan pasar.

Meski usaha berkembang cukup pesat, tantangan dalam industri peternakan babi masih terus dihadapi. “Salah satu persoalan yang paling sering dirasakan adalah fluktuasi harga pakan yang cenderung meningkat, sementara harga jual babi tidak selalu mengalami kenaikan,” bebernya.

Kondisi tersebut membuat margin keuntungan peternak sering berubah-ubah. Ketidakpastian harga jual juga menjadi tantangan tersendiri karena belum adanya patokan harga yang benar-benar stabil di pasaran.

Selain persoalan biaya produksi, sektor peternakan babi juga menghadapi risiko penyakit. Nenik menyoroti pentingnya perhatian terhadap penanganan wabah African Swine Fever (ASF) yang sebelumnya sempat memberikan dampak besar bagi peternak.

Menurutnya, banyak peternak mengalami kerugian akibat kehilangan ternak dan modal ketika wabah terjadi. Oleh karena itu, dukungan dalam bentuk penanganan maupun ketersediaan sarana pendukung dinilai menjadi kebutuhan yang penting bagi keberlangsungan usaha peternakan.

Ia juga berharap akses pasar dapat semakin diperluas sehingga hasil produksi peternak lokal tidak hanya bergantung pada permintaan domestik.

Peluang pemasaran ke pasar yang lebih luas, termasuk pasar internasional, diharapkan dapat memberikan nilai tambah sekaligus meningkatkan daya saing peternak babi asal Bali. (MBP)

 

redaksi

Related post