Bulan Bahasa Bali dan HUT ke-38 WHDI Kian Semarak, Gebogan Buah Lokal Jadi Magnet Generasi Muda

 Bulan Bahasa Bali dan HUT ke-38 WHDI Kian Semarak, Gebogan Buah Lokal Jadi Magnet Generasi Muda

Lomba gebogan buah lokal mewarnai HUT WHDI Bali.

DENPASAR – baliprawara.com
Pelaksanaan Bulan Bahasa Bali, Kamis (12/2), berlangsung semakin meriah. Kegiatan tahunan ini dirangkaikan dengan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-38 Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Provinsi Bali, menghadirkan beragam lomba yang melibatkan perwakilan WHDI dari seluruh kabupaten/kota se-Bali.

Berbagai perlombaan digelar di sejumlah lokasi di Taman Budaya Provinsi Bali. Lomba membuat gebogan dan pejati berlangsung di lantai bawah Gedung Ksirarnawa, lomba kidung di Gedung Ksirarnawa, lomba membaca kakawin di Kalangan Angsoka, serta lomba dharma wacana di Kalangan Ratna Kanda.

Kepala Bidang Sejarah dan Dokumentasi Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Made Dana Tenaya, mengatakan pelaksanaan Bulan Bahasa Bali kali ini terasa lebih beragam karena adanya kolaborasi antara Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Kebudayaan dengan WHDI dalam memeriahkan HUT ke-38 organisasi tersebut.

“Dari lima lomba yang digelar, lomba membuat gebogan dan pejati menjadi daya tarik tersendiri. Apalagi peserta gebogan didominasi kaum muda. Ini membuktikan tradisi membuat gebogan semakin diminati generasi muda,” ujarnya.

Peserta lomba merupakan perwakilan kabupaten/kota di Bali yang tampil antusias dan memikat. Untuk kategori lomba, membaca kakawin diikuti dua orang per daerah, dharma wacana satu orang, kidung melibatkan lima orang, pejati satu grup terdiri atas dua orang, dan gebogan tiga orang per kabupaten/kota. Khusus lomba gebogan, seluruh peserta diwajibkan menggunakan buah lokal.

Ketua Panitia HUT ke-38 WHDI Provinsi Bali, dr. Made Ayu Witriasih, M.Kes., Sp.KKLP, menjelaskan perayaan tahun ini bertepatan dengan Bulan Bahasa Bali sehingga pihaknya menjalin sinergi dengan Dinas Kebudayaan.

“Sinergi ini dilakukan karena memiliki tujuan yang sama, yakni pelestarian budaya. Kebetulan pula pelaksanaannya sama-sama di bulan Februari,” ujarnya.

See also  Prof. Benny Mutiara dan Dr. Husni Teja Pimpin Aptikom 2022 – 2026

Ia menegaskan, sebelum lomba digelar, WHDI telah melakukan pembinaan di seluruh kabupaten/kota dengan melibatkan para pakar. Pembinaan tersebut bertujuan meningkatkan kapasitas dan pemahaman anggota terkait jenis-jenis lomba yang dilaksanakan.

“Kami menghadirkan narasumber kompeten untuk memberikan pemahaman dan penguatan. Lomba ini bukan semata kompetisi, tetapi lebih pada edukasi dan pelestarian budaya,” tegasnya.

Menurutnya, kegiatan ini juga menjadi ruang penguatan peran aktif anggota WHDI lintas generasi. Mayoritas peserta berasal dari kalangan muda, sejalan dengan keanggotaan WHDI yang terbuka bagi perempuan Hindu berusia 18 tahun atau yang telah menikah.

Sementara itu, Wakil Ketua WHDI Provinsi Bali, Made Rai Tantri, menyampaikan bahwa WHDI memiliki lima bidang organisasi, yakni Agama, Pendidikan dan Kebudayaan, Ekonomi, Sosial, serta Organisasi/Umum.
Dalam rangka HUT ke-38, WHDI tidak hanya menggelar lomba, tetapi juga serangkaian kegiatan keagamaan dan sosial. Di antaranya dharma wacana saat Hari Siwalatri, ngayah Rejang pada upacara karya di Besakih dan Uluwatu, serta keterlibatan dalam penyusunan Buku Dharmagita yang akan diluncurkan pada perayaan puncak HUT 2026.

Di bidang sosial, WHDI juga mengadakan kunjungan ke panti werdha, donor darah, sosialisasi pengolahan sampah, edukasi perilaku hidup bersih di pura, serta program sosialisasi pranikah bagi umat Hindu.
Melalui rangkaian kegiatan ini, WHDI menegaskan komitmennya untuk terus berperan aktif dalam pelestarian budaya, penguatan nilai keagamaan, serta pemberdayaan perempuan Hindu di Bali. (MBP2)

Redaksi

Related post