Desainer Adit Hendar Siapkan Busana dari Sampah Botol Plastik di Ajang BFP 2025

 Desainer Adit Hendar Siapkan Busana dari Sampah Botol Plastik di Ajang BFP 2025

Adit Hendar dengan karya busana berbahan sampah botol plastik.

MANGUPURA – baliprawara.com
Permasalahan sampah plastik yang selama ini menjadi kendala di masyarakat, kini mulai dimanfaatkan untuk dunia fashion. Hal ini tentu menjadi alternatif dalam pengembangan fashion berkelanjutan atau sustainable fashion.

Upaya berkelanjutan ini bahkan diterapkan pada gelaran Bali Fashion Parade (BFP) 2025 yang akan dilaksanakan 31 Agustus dan 1 September 2025. Yang mana pada gelaran peragaan busana terbesar di Bali ini, para desainer diharapkan bisa memanfaatkan bahan daur ulang pada produk yang akan ditampilkan. Salah satu yang akan ditampilkan adalah karya dari Desainer Adit Hendar, dengan busana berhias daur ulang botol plastik.

Menurut Creative Director BFP 2025 sekaligus desainer, Adit Hendar, Bali Fashion Parade ini harus menjadi platform yang sustainable atau berkelanjutan. Dikatakan, fashion show tidak boleh berhenti hanya pada presentasi busana di panggung, tetapi juga harus memperhatikan konsep berkelanjutan. “Saya tidak ingin karya desainer hanya kembali ke lemari setelah dipamerkan. Karena itu, kami menetapkan lima pilar untuk memilih para desainer yang tampil, salah satunya adalah komitmen terhadap sustainability,” katanya.

Lebih lanjut kata Adit, keberlanjutan yang dimaksud mencakup etika pembuatan koleksi, pemakaian bahan ramah lingkungan, prinsip zero waste, hingga kesadaran akan dampak industri fashion terhadap bumi.

“Kita tahu bahwa limbah fashion adalah pencemar nomor dua di dunia. Karena itu, desainer yang tampil di BFP 2025 harus membawa kesadaran bahwa karya mereka bukan hanya indah, tetapi juga bertanggung jawab,” tegasnya.

Adit mengungkapkan, pihaknya sebenarnya sudah memberlakukan yang namanya sustainable fashion itu sejak 3 tahun yang lalu. Ia menegaskan, sustainable fashion itu harus memiliki ethic dalam pembuatannya.

“Jadi sebetulnya itu enggak cuman daur ulang, tapi juga ada namanya zero waste, dimana kita tidak boleh menyisakan sampah sama sekali. Dalam karya, kita juga banyak menggunakan bahan-bahan daur ulang salah satunya adalah plastik-plastik,” ucapnya.

See also  Petani Diminta Ciptakan Produk Agrowisata Mengesankan

Untuk busana yang menggunakan bahan tambahan berupa barang bekas seperti plastik berupa botol-botol, dimanfaatkan dan dibuat semacam embellishment atau hiasan. Karya yang akan ditampilkan ini, kata dia, pengerjaannya memakan waktu sekitar 2 bulan atau kurang lebih sekitar 1400 jam karena harus dijahit satu-satu. Dalam pengerjaanya, ia dibantu oleh 4 orang artisan, dimana botol plastik tersebut dibuat pernak-pernik seperti bunga, motif-motif seperti bulat-bulat dan segala macam.

“Jadi ide itu muncul karena memang saya berpikir it’s time untuk kita bisa mengangkat sesuatu yang berkelanjutan dan lebih bertanggung jawab atas apa yang kita lakukan, dan kita juga membantu bumi kan untuk kita bisa lepas dari permasalahan sampah,” ucapnya.

Melalui upaya berkelanjutan ini, Ia juga ingin mengubah image bahwa produk fashion merupakan penyumbang limbah nomor 2 terbesar di dunia. Menurutnya, upaya berkelanjutan ini tentu bisa sedikit mengurangi hal itu. Salah satunya dengan kita memberikan awareness ke masyarakat, bahwa penting sekali untuk kita bisa memiliki sustainable dalam fashion.

Pada Bali Fashion Parade dirinya akan membawa sekitar 15 karya. Adapun karya yang dibawakan semuanya mengangkat warna-warna yang menjadi tren di 2025-2026, yaitu tren warnanya Leci lacquer. Jadi warna seperti warna merah tua, lalu warna ungu, di mana itu nanti akan tren sekitar 2025 akhir sampai 2026 pertengahan.

“Karena saya tahu bahwa ada sedikit problem dengan sampah yang ada di Bali, saya berharap teman-teman kreatif, tidak hanya dari dunia fashion, tapi juga dari masing-masing industri agar memiliki kepedulian untuk bisa mengangkat plastik itu menjadi sesuatu yang bisa didayagunakan. Dan saya berharap juga untuk masyarakat Bali mungkin lebih aware. Memang Ini kepedulian kita untuk bisa menjadikan fashion sebagai platform untuk menyuarakan kebaikan,” harapnya. (MBP1)

See also  WNA Amerika Perusak Rumah Warga dan Pria Nigeria Overstay, Dideportasi Rudenim Denpasar

 

redaksi

Related post