Dikukuhkan Jadi Guru Besar, Ida Ayu Tary Puspa Bawakan Orasi “Peran Walaka Griya dalam Tradisi Ngaben”

 Dikukuhkan Jadi Guru Besar, Ida Ayu Tary Puspa Bawakan Orasi “Peran Walaka Griya dalam Tradisi Ngaben”

Prof. Ida Ayu Tary Puspa

DENPASAR – baliprawara.com
Prof. Dr. Ida Ayu Tary Puspa, salah satu dari empat guru besar yang dikukuhkan  Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar di Gedung Darma Negara Alaya Denpasar, Minggu 28 Desember 2025. Ida Ayu Tary Puspa dikukuhkan sebagai guru besar pada Bidang Ilmu Sosial dan Budaya Hindu.

‎Mantan Dekan Fakultas Dharma Duta UHN Sugriwa ini menyampaikan orasi berjudul “Peran Walaka Griya dalam Tradisi Ngaben: Studi atas Keberlanjutan Warisan Leluhur di Bali” pada Sidang Senat Terbuka UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, yang dihadiri Dirjen Bimas Hindu Kemenag, Prof. Nengah Duija dan mantan Dirjen Bimas Hindu Prof. Ida Bagus Yudha Triguna.

‎Pada acara tersebut, Ketua Lembaga Penjaminan Mutu UHN Sugriwa periode 2021-2024 ini memaparkan tentang peran walaka griya dalam tradisi upacara Ngaben. Walaka griya memiliki kedudukan yang strategis karena menjadi penghubung antara sisya atau murid dengan Sang Pendeta. Oleh karena banyak sisya yang tidak bisa
‎bertutur dalam bahasa Bali halus, maka biasanya yang datang ke griya adalah para orangtua. Dengan demikian kehadiran walaka griya sangat penting sebagai jembatan penghubung dengan sang sulinggih atau pendeta. Dalam hal ini umat Hindu atau sisya lebih leluasa berbahasa karena boleh memakai bahasa Indonesia atau bahasa Bali lumrah. Mereka lebih rileks dalam hal berbicara tanpa sekat. Untuk itulah walaka griya harus memahami seni berbicara untuk membuat suasana lebih cair. Hal ini ‎menjadi media pula dalam mengajarkan umat untuk menjalankan tradisi ngaben ‎sebagai hal yang harus dilakukan bila menghadapi kematian, menjalankan upacara ini sesuai kitab suci atau lontar, dan memberikan semangat dalam hal pewarisan nilai-nilai tradisi budaya pada setiap generasi yaitu umat Hindu di Bali.

‎”Walaka griya memegang peran sentral dalam menjaga keberlanjutan upacara Ngaben sebagai warisan leluhur yang mencakup dimensi spiritual, sosial, dan budaya. Di tengah tantangan modernisasi, peran mereka tidak hanya terbatas pada pelaksanaan ritual, tetapi juga bersifat adaptif dan strategis dalam memastikan eksistensi tradisi ini. Namun, perubahan sosial menuntut reposisi
‎peran walaka griya melalui strategi adaptasi yang kontekstual, di mana pelestarian tidak lagi bersifat simbolis melainkan memerlukan pendekatan holistik berbasis pendidikan, penguatan komunitas, serta dukungan kebijakan ‎adat dan negara,” ujarnya.

‎Kemudian, Ngaben bukan sekadar ritual kematian, melainkan manifestasi filosofi
‎Hindu Bali yang menekankan keseimbangan antara sekala dan niskala.
‎Sebagai warisan budaya hidup, tradisi ini berfungsi membentuk identitas kolektif
‎masyarakat Bali sekaligus memperkuat spiritualitas dan solidaritas sosial. Karena itu, pelestarian Ngaben bukan hanya menjadi tanggung jawab umat Hindu Bali, tetapi juga bagian dari upaya global dalam melindungi kekayaan ‎budaya tak benda, sebagaimana diakui oleh UNESCO.

See also  ITDC Sampaikan Tali Asih untuk Anak-anak Berkebutuhan Khusus 

‎Untuk memastikan keberlanjutan peran walaka griya, kata Ida Ayu Tary Puspa diperlukan penguatan kelembagaan melalui: Pertama, regulasi yang melindungi eksistensi dan otoritas keagamaan mereka. Kedua, dokumentasi digital untuk mengarsipkan pengetahuan tradisional secara sistematis.
‎Ketiga, penguatan kapasitas intergenerasional agar nilai-nilai Ngaben dapat ditransmisikan secara efektif kepada generasi muda. Dengan demikian, pelestarian Ngaben dapat tetap relevan sebagai bagian dari dinamika budaya kontemporer tanpa kehilangan esensi filosofisnya.

Siapakah Prof. Ida Ayu Tary Puspa?

‎Ida Ayu Tary Puspa merupakan anak ketiga dari enam bersaudara. Ia lahir di lingkungan Candi Baru Gianyar yang kental dengan suasana seni budaya, dan spiritualitas Hindu.
‎Sejak usia dini ia telah dikenalkan pada dunia seni tari, drama, teater dan sastra yang diwarisi dari keluarga dan lingkungan. Pengalaman tersebut membentuk kepekaan estetik dan kultural yang kemudian menjadi pondasi penting dalam perjalanan akademik dan pengabdiannya.
‎Setelah menamatkan pendidikan SMA di Gianyar, Ida Ayu Tary Puspa melanjutkan kuliah di Fakultas Sastra Udayana dan Sekolah Tinggi Agama Hindu Denpasar. Lulus S1, Ida Ayu Tary Puspa melanjutkan pendidikan Magister di Kajian Pariwisata Unud dan lanjut Program Doktor pada Kajian Budaya Unud.
‎Ida Ayu Tary Puspa aktif dalam bidang seni dan komunikasi publik. Pada saat remaja ia terlibat dalam seni teater. Kiprahnya sebagai pengisi acara dan presenter di televisi dan radio nasional dan daerah, memperkuat perannya sebagai komunikator budaya Hindu yang menjembatani tradisi dan masyarakat kontemporer. (MBP2)

Redaksi

Related post