“Divergent Mind”, Pameran Tunggal I Made Romi Sukadana di Santrian Gallery Sanur
Dari kiri ke kanan: Made Susanta Dwitanaya, I Made Romi Sukadana, Dr. Sujana Suklu dan Made Dolar Astawa.
DENPASAR – baliprawara.com
Santrian Art Gallery Sanur kembali menggelar pameran seni rupa. Kali ini Santrian Gallery menampilkan karya-karya pelukis I Made Romi Sukadana dalam pameran tunggal bertajuk “Divergent Mind” hingga 28 Februari 2026 mendatang. Pada pameran yang dibuka perupa dan akademisi ISI Bali Dr. I Wayan Sujana Suklu ini, Romi Sukadana menyuguhkan 24 karya lukisan berbagai ukuran.
”Ini pameran tunggal saya yang ketujuh, setelah sebelumnya di TIM Jakarta tahun 2015 lalu. Dalam pameran tunggal kali ini saya menampilkan karya tahun pembuatan dari 2011 hingga 2025,” ujar I Made Romi Sukadana, saat pembukaan pamerannya, Jumat (9/2/2026).
Kata Romi, setiap karya yang dipamerkan berbicara sendiri-sendiri. Tetapi secara umum, tema pameran kali ini menyampaikan pengakuan terhadap karyanya yang berubah-ubah, baik dari tema, media, teknik, maupun gaya– ada yang realis. Ada yang ekspresionis. Ada pula yang abstrak. Juga pandangannya tentang konsep berkarya, bahwa pelukis memiliki otoritas penuh terhadap karya yang dihasilkan.
Manajer Santrian Art Gallery Made “Dolar” Astawa menyampaikan, Santrian tetap memberi ruang bagi seniman untuk berpameran, baik tunggal maupun tampil bersama.
Santrian rutin memberikan support kepada seniman berbagai genre di Bali maupun luar Bali untuk menampilkan karyanya. Kali ini Santrian memberi kesempatan kepada pelukis Romi Sukadana untuk pameran tunggal. “Ini pameran pertama Gallery Santrian di awal tahun 2026. Bagi Romi Sukadana, ini pameran tunggalnya yang ketujuh, ” ujar Dolar Astawa yang juga pelukis kenamaan Bali.
Kurator pameran, I Made Susanta Dwitanaya menyampaikan, proses kreatif I Made Romi Sukadana, divergent thinking berkembang lebih jauh menjadi apa yang dapat disebut
sebagai divergent mind. Istilah ini selain merujuk pada kecenderungan menghasilkan variasi visual, juga meluas pada struktur
mental dan sikap artistik yang membentuk keseluruhan praktik berkaryanya.
Perbedaan gaya dalam karya-karyanya tidak mudah dibaca sebagai fase-fase kronologis yang rapi, sehingga tidak dapat terbaca sebagai periodeisasi. Ia bergerak secara non-linier, melompat dari satu pendekatan ke pendekatan lain. Seolah-olah menolak logika perkembangan progresif yang lazim digunakan dalam historiografi seni modern yang mengedepankan liniearitas.
Jika ditinjau melalui kerangka Pierre Bourdieu, praktik Made Romi dapat dibaca sebagai bentuk agen kreatif yang terus
merundingkan posisinya di dalam medan seni. Alih-alih tunduk pada habitus yang menuntut konsistensi gaya demi legitimasi umum sebagai seniman yang “ber-identitas”, ia justru memilih strategi diferensiasi yang cair. Setiap karya menjadi
negosiasi baru terhadap dirinya sendiri, bukan pengulangan dari formula yang telah mapan, ia seperti sedang menolak cara berpikir tentang “kemapanan” itu.
Kecenderungan tematik dan visual yang berubah-ubah dalam karya Made Romi akan sering disalahpahami sebagai ketiadaan identitas. Namun pembacaan dan pemaknaan semacam ini berangkat dari asumsi bahwa identitas harus selalu berwujud dalam
satu rupa visual tertentu atau setidaknya dapat dirunut dalam periodeisasi yang jelas.
Dengan demikian, penolakan Made Romi terhadap identitas tunggal justru dapat dibaca sebagai sikap kritis terhadap
pemahaman identitas yang membeku. Identitas artistiknya tidak berhenti pada gaya, atau tema tertentu, tetapi hadir
sebagai pencarian yang terus bergulir selama proses melukis itu sendiri. Melukis menjadi medan uji, ruang berpikir, dan arena eksperimentasi yang terbuka, sebuah praktik reflektif yang terus berlangsung.

Sebuah Sikap Berpikir
Sementara itu Dr. Sujana Suklu, menyampaikan, kekuatan karya Romi,
dalam pameran berjudul “Divergent Mind” bukan sekadar penanda pameran, melainkan sebuah sikap berpikir—cara memandang dunia yang tidak tunduk pada satu jalur logika tunggal, tidak patuh pada satu pusat makna, dan tidak berhenti pada satu tafsir. Di sini, Made Romi mengajak kita memasuki ruang kesadaran yang bercabang, bertabrakan, sekaligus saling berkelindan sebagai benang merah dari berbagai logika rupa yang berbeda-beda.
”Melalui karya-karya yang dipamerkan, kita bisa merasakan bahwa Romi tidak sedang menawarkan jawaban yang selesai. Ia justru membuka ruang: ruang untuk berpikir bebas, ruang untuk merasa tidak nyaman, ruang untuk melihat sesuatu dari sudut yang mungkin jarang kita pakai. Ada kegelisahan, ada spontanitas, ada keberanian untuk berbeda dan itu semua terasa sangat jujur,” ujar Sujana Suklu.

Seperti diketahui, I Made Romi Sukadana lahir di Denpasar pada 22 Januari 1973. Dia menamatkan pendidikan seni rupa di ISI Denpasar. Sejak 1993 Romi Sukadana telah aktif dalam banyak pameran bersama dan pameran tunggal.
Karya-karya Romi menunjukkan keberagaman tematik dan aliran, namun selalu mengandung cita rasa tersendiri. Romi mampu melukis realis dengan baik, namun juga bisa melukis abstrak yang menawan. (MBP2)