Edukasi Keadaban Digital, Dosen Universitas Primakara Dorong Ratusan Siswa SMPN 12 Denpasar Bijak Bermedia Sosial

 Edukasi Keadaban Digital, Dosen Universitas Primakara Dorong Ratusan Siswa SMPN 12 Denpasar Bijak Bermedia Sosial

Dosen Universitas Primakara saat memberi edukasi ratusan siswa SMPN 12 Denpasar untuk bijak bermedia sosial.

DENPASAR – baliprawara.com

Sebanyak 300 peserta didik baru SMP Negeri 12 Denpasar mendapatkan pembekalan mengenai keadaban digital dalam rangkaian kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), Senin 13 Juli 2026. Kegiatan yang dimulai pukul 10.00 WITA tersebut bertujuan menanamkan pemahaman kepada siswa tentang pentingnya menggunakan teknologi secara bijaksana, bertanggung jawab, dan tetap menjunjung etika saat beraktivitas di ruang digital.

Edukasi ini menghadirkan Putri Anugrah Cahya Dewi, S.Pd., M.Pd., yang akrab disapa Bu Cahya. Selain berprofesi sebagai dosen, ia juga menjabat sebagai Wakil Rektor III Universitas Primakara. Kehadirannya menjadi bagian dari program pengabdian kepada masyarakat yang difokuskan pada peningkatan literasi dan karakter digital bagi generasi muda.

Selama sesi berlangsung, para siswa memperoleh pemahaman mengenai pentingnya menjaga perilaku positif ketika berkomunikasi melalui media digital. Mereka juga diajak memahami bahwa dunia maya merupakan bagian dari kehidupan sosial sehingga setiap interaksi tetap memerlukan sikap saling menghormati, tanggung jawab, dan etika yang baik.

Materi yang diberikan menekankan bahwa kemampuan digital tidak hanya sebatas menguasai perangkat atau aplikasi, tetapi juga mencakup cara seseorang memperlakukan orang lain ketika berada di ruang digital. Para siswa diajak berpikir lebih kritis sebelum menyebarkan informasi, memahami dampak dari jejak digital, serta mempertimbangkan konsekuensi dari setiap unggahan, komentar, maupun konten yang dibagikan di internet.

“Kecakapan digital tidak hanya tentang kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga tentang bagaimana kita bersikap dan memperlakukan orang lain di ruang digital. Setiap jejak digital yang kita tinggalkan dapat memberikan dampak, sehingga penting bagi kita untuk berpikir sebelum mengunggah, berkomentar, atau membagikan sesuatu,” ujar Cahya dalam kegiatan tersebut.

Penyampaian materi berlangsung secara interaktif. Selain pemaparan materi, siswa juga dilibatkan dalam sesi diskusi, tanya jawab, serta berbagai aktivitas yang mendorong partisipasi aktif peserta. Antusiasme terlihat dari banyaknya siswa yang terlibat dalam menjawab pertanyaan maupun menyampaikan pendapat selama kegiatan berlangsung.

Menurut Cahya, pendidikan mengenai keadaban digital sudah sepatutnya diberikan sejak jenjang sekolah agar para pelajar memiliki bekal dalam menghadapi perkembangan teknologi yang semakin pesat. Tidak hanya mampu memanfaatkan teknologi, siswa juga perlu memahami bagaimana menjadi pengguna internet yang bertanggung jawab, menjaga keamanan diri, serta menghargai hak dan perasaan orang lain.

Ia menambahkan bahwa interaksi di ruang digital tetap melibatkan individu yang memiliki perasaan dan hak untuk dihormati. Karena itu, nilai-nilai seperti empati, kesopanan, tanggung jawab, serta rasa hormat harus selalu diterapkan meskipun komunikasi dilakukan melalui layar gawai.

“Anak-anak perlu memahami bahwa di balik setiap akun dan layar terdapat manusia yang memiliki perasaan. Karena itu, nilai-nilai seperti empati, tanggung jawab, kesopanan, dan rasa hormat tetap harus diterapkan ketika berinteraksi di dunia digital,” tambahnya.

Melalui kegiatan tersebut, para siswa diharapkan mampu menerapkan prinsip-prinsip keadaban digital dalam aktivitas sehari-hari. Penerapan itu mencakup penggunaan media sosial secara bijak, komunikasi melalui berbagai platform digital dengan etika yang baik, hingga kemampuan menyaring informasi sebelum membagikannya kepada orang lain.

Program pengabdian kepada masyarakat ini juga diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya memiliki kemampuan memanfaatkan teknologi, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, etika yang baik, serta kesadaran akan tanggung jawab sebagai pengguna ruang digital.

Dengan bekal tersebut, para pelajar diharapkan mampu menciptakan lingkungan digital yang lebih sehat, aman, dan saling menghargai, sehingga teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana belajar, berkolaborasi, dan berkomunikasi secara positif di tengah perkembangan era digital yang terus berkembang. (MBP)

 

redaksi

Related post