Ekosistem Perfilman Indonesia Semakin Maju, Menteri Kebudayaan Apresiasi Gelaran Festival Film Balinale 2025
Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon.
DENPASAR – baliprawara.com
Ekosistem film di Indonesia, menunjukkan kemajuan yang bagus untuk di sektor budaya. Yang mana pada tahun 2024 lalu, pencapaian untuk perfilman terbukti sangat menyolok, dengan jumlah penonton film Indonesia mencapai jumlah 81 juta orang atau 67% dari total bioskop-bioskop yang di tanah air.
“Tahun lalu pencapainnya sangat bagus terbukti yang menonton film Indonesia sekitar 81 juta atau 67 persen dari penonton bioskop di Indonesia,” kata Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon, saat memberikan keterangan kepada wartawan, jelang penutupan Festival Film Balinale 2025, di The Meru Sanur Sabtu 7 Juni 2025.
Lebih lanjut dikatakan Menteri Fadli Zon, ekosistem perfilman termasuk yang paling maju di dalam sektor budaya Indonesia. Bahkan hal itu baru pertama kali pencapaian yang begitu tinggi. Yang mana di tahun 2024 saja, produksi film Indonesia mencapai sekitar 204 film.
“Ini salah satu hal yang sangat menarik. Karena Baru pertama kali pencapaian yang cukup tinggi dengan produksi di tahun 2024 sebanyak 204 film. Kalau kita lihat semakin banyak insan perfilman, sineas kita yang ikut dalam festival film internasional,” ucap Menteri Fadli Zon.
Pihaknya sangat mengapresiasi dan mendukung semakin banyak festival film yang ada di indonesia. Ia juga berharap, di daerah-daerah akan terus tumbuh festival-festival film yang bisa mengangkat cerita dan kehidupan setempat.
Namun demikian, pihaknya mengungkapkan untuk perfilman masih ada tantangan yang dihadapi. Salah satunya adalah terkait scriptwriting, meski di Indonesia ada begitu banyak cerita yang bisa diangkat. Pasalnya seperti diketahui, Indonesia itu merupakan Mega Diversity. Indonesia memiliki keragaman kekayaan budaya yang luar biasa.
“Tantangan yang kita hadapi adalah di Scriptwriting. Kalau cerita tidak akan habis. Karena terlalu banyak sumber cerita, baik yang tradisional kedaerahan, sampai kontemporer dan juga kehidupan sehari hari,” terangnya, didampingi Andibachtiar Yusuf, Sutradara dan produser, Deborah Gabinetti, Founder and Director of Balinale, Richard Rowland, Penulis Film dan Kebudayaan serta GM The Meru Ed Brea.

Ia juga mengungkapkan bahwa, film menjadi satu pilihan yang sangat penting untuk kemajuan kebudayaan. Indonesian kata dia mempunyai kekuatan yang luar biasa justru di bidang budaya. Kebudayan menurutnya merupakan aset nasional Indonesia. Tentu dengan keberagaman budaya yang dimiliki, Indonesia bisa menjadi Ibukota kebudayan dunia.
“Indonesia bisa menjadi Ibukota kebudayaan dunia, yang sangat penting. Karena keragaman kita itu sangat luar biasa, ekspresi budaya yang luar biasa, yang mencerminkan kekuatan budaya,” ucapnya.
Untuk itu ia sangat mengapresiasi gelaran acara Balinale yang sudah berjalan 18 tahun. Dan Balinale tahun ini memperluas pengaruh globalnya dalam merayakan hampir dua dekade dalam menghadirkan sinema yang luar biasa ke Indonesia.
Penutupan festival Balinale diisi dengan penayangan pilihan film-film Bali dan Indonesia. Acara komunitas ini dihadiri oleh banyak sutradara terkemuka, tokoh-tokoh terkenal, pemimpin komunitas, dan pemangku kepentingan Sanur.
Malam penutupan menampilkan dua film IMAX yang diproduksi di Indonesia: UNDER THE SEA karya Howard Hall (AS, Kanada) dan BORN TO BE WILD karya David Lickley (AS). Balinale dengan bangga mempersembahkan pemutaran film IMAX 3D pertama di Bali.
Malam sebelumnya, juri Festival Film Internasional Bali mengumumkan pemenang film tahun ini dalam lima kategori, menghargai tim kreatif dan teknis yang luar biasa atas narasi yang memikat dan kualitas pembuatan film mereka. (MBP1)