Gianyar Juara Dharmacarita Putra dan Putri pada Ajang UDG Provinsi Bali 2026
DENPASAR – baliprawara.com
Duta Kabupaten Gianyar keluar sebagai juara pertama Lomba Dharmacarita kategori anak-anak putra dan anak-anak putri dalam Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026. Lomba yang tergolong cabang baru ini menjadi panggung untuk memperkenalkan beragam tradisi dan budaya keagamaan Hindu dari kabupaten/kota se-Bali.
Lomba Dharmacarita anak-anak putra dan putri masing-masing diikuti lima peserta. Adapun para peraih juara putri, yakni: juara I Gianyar, juara II Karangasem, juara III Denpasar, Harapan I Badung, dan Harapan II Tabanan. Sementara juara putra sebagai berikut: juara I Gianyar, juara II Badung, juara III Denpasar, Harapan I Tabanan, dan Harapan II Klungkung.
Lomba Dharmacarita dalam ajang UDG Provinsi Bali XXXIII menjadi wadah bagi generasi muda untuk mengenal sekaligus memperkenalkan kekayaan tradisi dan budaya keagamaan Hindu yang hidup di berbagai kabupaten/kota di Bali.
Juri Dharmacarita, Putu Gede Suarya Natha, menjelaskan bahwa cabang lomba ini merupakan kategori yang relatif baru dalam Utsawa Dharmagita. Secara konsep, Dharmacarita memiliki kemiripan dengan lomba Mesatua Bali atau storytelling, namun berbeda pada substansi cerita yang dibawakan peserta.
“Yang membedakan adalah isi cerita yang disampaikan. Dharma Carita berisi cerita-cerita tentang budaya keagamaan Hindu yang ada di masing-masing daerah kabupaten atau kota,” ujar Suarya Natha ditemui usai menjuri, Senin (14/9) di Taman Budaya Bali.
Menurut Suarya Natha, tema yang diangkat pada UDG Bali XXXIII berfokus pada ekoteologi atau Green Dharma, seperti Dana Punia Hijau, Adopsi Pohon, dan Eco Temple. Karena itu, peserta tidak membawakan cerita rakyat yang lazim ditemui dalam lomba Mesatua Bali, melainkan kisah-kisah yang berkaitan dengan praktik budaya dan keagamaan Hindu yang berkembang di daerah asal mereka.
Lomba ini diikuti peserta kategori anak-anak berusia 7 hingga 13 tahun yang mewakili kabupaten/kota se-Bali. Melalui cerita yang dibawakan, para peserta diajak memahami nilai-nilai agama sekaligus kepedulian terhadap lingkungan.
Juri lainnya, Dewa Ayu Carma Miradayanti, mengatakan setiap peserta menampilkan cerita yang berbeda sesuai tradisi khas daerah masing-masing. Keragaman tema tersebut menjadikan lomba Dharmacarita sebagai sarana edukasi budaya yang menarik.
“Ada yang membahas tradisi Nyelung dari Buahan, Gianyar, ada Segara Samuh dari Badung yang mengangkat upaya menjaga laut di tengah perkembangan pariwisata, ada cerita tentang Pura Batukaru dari Tabanan, tradisi Dewa Masraman dari Klungkung, hingga Magarang Nasi dari Tanjung Bungkak, Denpasar,” jelas dosen Universitas Udayana tersebut.
Ia menambahkan, seluruh cerita yang dibawakan peserta tetap berlandaskan nilai-nilai agama Hindu dan dikaitkan dengan pelestarian lingkungan sesuai tema yang ditetapkan panitia.
Dalam penilaiannya, dewan juri menggunakan empat aspek utama, yakni performa atau penampilan, vokal dan artikulasi, isi cerita serta kesesuaian tema, dan ketepatan waktu. Aspek performa serta vokal masing-masing memiliki bobot penilaian terbesar, disusul isi cerita dan kesesuaian tema.
“Peserta tampil sangat baik. Kemarin kategori putri dan hari ini kategori putra. Selisih nilainya tipis karena penampilan mereka bagus-bagus semua,” ujar Carma Miradayanti.
Kedua juri menilai cabang Dharmacarita memiliki peran penting dalam memperkenalkan keragaman tradisi keagamaan Hindu di Bali kepada generasi muda. Melalui cerita yang dibawakan para peserta, masyarakat dapat mengenal berbagai tradisi unik dari sembilan kabupaten/kota di Bali dalam satu panggung yang sama. (MBP2)
