IFBEC Bali Gathering 2026, Pelaku Hotel dan Restoran Diminta Lebih Kreatif Hadapi Tantangan Pariwisata
Suasana IFBEC Bali Gathering, Jumat 30 Januari 2026 di Grand Istana Rama, Kuta.
MANGUPURA – baliprawara.com
Indonesian Food and Beverage Executive Association (IFBEC) Bali menggelar kegiatan IFBEC Bali Gathering 2026, pada Jumat, 30 Januari 2026. Acara ini berlangsung di Grand Istana Rama, Kuta, dan dihadiri oleh para anggota IFBEC Bali serta sejumlah undangan dari kalangan industri perhotelan dan restoran.
Kegiatan gathering ini menjadi momentum awal bagi IFBEC Bali untuk menyatukan visi dan langkah para pelaku industri food and beverage (F&B) di tengah dinamika pariwisata Bali yang terus berubah. Selain sebagai ajang silaturahmi, forum ini juga dimanfaatkan untuk menyampaikan gambaran kondisi industri serta strategi menghadapi tantangan di tahun 2026.
Ketua DPD IFBEC Bali, I Wayan Eka Darmawan, menyampaikan bahwa gathering tersebut merupakan kegiatan perdana IFBEC Bali di awal tahun 2026. Ia menegaskan pentingnya pertemuan semacam ini sebagai sarana komunikasi dan penguatan solidaritas antaranggota, khususnya dalam situasi industri yang penuh tantangan.
Eka Darmawan menekankan bahwa para anggota IFBEC yang sebagian besar merupakan manajer di hotel dan restoran perlu mulai bersikap lebih adaptif. Ia mengajak seluruh anggota untuk “mengencangkan ikat pinggang” serta mengedepankan sikap agile, proaktif, dan kreatif dalam menjalankan operasional bisnis masing-masing.
Menurutnya, kreativitas menjadi kunci utama agar sektor hotel dan restoran tetap mampu menarik minat wisatawan. Hal tersebut dapat diwujudkan melalui penciptaan menu-menu yang menarik, penyelenggaraan event-event tematik, hingga pengemasan pengalaman bersantap yang berbeda. Ia juga menyoroti pentingnya mengangkat kembali unsur budaya lokal Bali di setiap restoran maupun hotel, baik melalui pertunjukan seni maupun konsep layanan yang berciri khas budaya Bali.
I Wayan Eka Darmawan juga menyinggung kondisi pariwisata sepanjang tahun 2025 hingga memasuki Januari 2026 yang dinilai penuh dinamika. Berbagai fenomena global dan regional turut memengaruhi kunjungan wisatawan ke Bali. Di sisi lain, Bali kini menghadapi persaingan yang semakin ketat dengan destinasi wisata lain di kawasan Asia Tenggara seperti Vietnam dan Thailand.
Meski Bali masih memperoleh pengakuan sebagai destinasi favorit dunia, termasuk raihan peringkat teratas di salah satu platform perjalanan internasional, hal tersebut dinilai tidak boleh membuat pelaku industri terlena. “Para pengelola hotel dan restoran tetap dituntut untuk terus berinovasi dan menjaga daya saing agar Bali tetap relevan di mata wisatawan mancanegara,” katanya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya kemampuan adaptasi dalam berbagai situasi, terutama pada periode low season yang umumnya terjadi pada bulan Januari dan Februari. Menurutnya, pada periode tersebut, kondisi industri pariwisata memang terasa lebih berat dan membutuhkan strategi yang tepat agar operasional tetap berjalan sehat.
Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum DPP IFBEC Nasional, I Ketut Darmayasa, S.I. Pem, MM, CHT., turut memberikan pandangan terkait kondisi industri perhotelan dan restoran di Bali. Ia mengingatkan bahwa tantangan yang dihadapi tidak hanya bersifat lokal, melainkan juga dirasakan secara luas oleh industri perhotelan di berbagai daerah.
Ia menyampaikan bahwa IFBEC mengusung tagline “fun but professional” yang harus tetap dijaga oleh seluruh anggotanya. Menurutnya, suasana kerja yang menyenangkan tetap penting, namun profesionalisme tidak boleh ditinggalkan, terlebih di tengah situasi industri yang sedang menghadapi tekanan.
Darmayasa juga menyoroti bahwa hampir seluruh hotel di Bali saat ini menghadapi tantangan yang relatif serupa. Kondisi tersebut menuntut para pelaku industri untuk lebih waspada dan cermat dalam mengambil keputusan strategis, terutama pada kuartal pertama tahun 2026 yang dinilai belum sepenuhnya kondusif bagi pariwisata Bali.
Dalam arahannya, ia kembali mengingatkan para anggota IFBEC yang hadir untuk lebih berhati-hati dalam mengelola sumber daya, baik dari sisi operasional maupun keuangan. Ia menyebutkan bahwa pada kondisi saat ini, diperlukan langkah-langkah penghematan yang terukur agar bisnis tetap dapat bertahan.
Selain mendorong kreativitas melalui penyelenggaraan event-event menarik, anggota IFBEC juga diingatkan untuk memperhatikan aspek manajemen tenaga kerja. I Ketut Darmayasa menegaskan bahwa pengelolaan manpower harus dilakukan secara cermat dan realistis, dengan mempertimbangkan kondisi pasar yang belum sepenuhnya stabil.
Ia mengingatkan agar jumlah tenaga kerja tidak hanya didasarkan pada kuantitas, tetapi juga pada kebutuhan riil operasional. Dalam situasi yang disebutnya “tidak baik-baik saja”, pengaturan jam kerja dan sistem kerja alternatif seperti floating seat atau split seat dinilai dapat menjadi solusi untuk mengurangi beban operasional tanpa mengorbankan kualitas layanan.
Melalui gathering ini, IFBEC Bali berharap para anggotanya dapat saling berbagi pandangan dan pengalaman dalam menghadapi kondisi industri saat ini. Forum tersebut juga menjadi ruang diskusi untuk mencari solusi bersama agar sektor food and beverage serta perhotelan di Bali tetap mampu bertahan dan berkembang di tengah persaingan global. (MBP)