Implementasi Ajaran Tat Twam Asi dalam Penggalangan Dana ASN Bali
Prof. IB Raka Suardana
Oleh: Prof. Dr. IB Raka Suardana, S.E.,M.M.
(Guru Besar Undiknas Denpasar)
Banjir besar yang melanda Bali pada 10 September lalu tidak hanya menyisakan kerusakan fisik, tetapi juga memunculkan gelombang solidaritas. Aparatur Sipil Negara (ASN) dan guru di lingkungan Pemerintah Provinsi Bali bergerak kompak menggalang donasi guna membantu warga terdampak. Inisiatif ini berangkat dari keprihatinan dan niat tulus untuk meringankan beban saudara sebangsa.
Sekretaris Daerah Provinsi Bali, Dewa Made Indra, menegaskan bahwa penggalangan dana ini sepenuhnya bersifat sukarela tanpa paksaan, sehingga setiap pegawai bebas menentukan jumlah sumbangan sesuai dengan kemampuan dan ketulusan hati.
Pemprov Bali memang memberikan acuan nominal sesuai jabatan, mulai dari Rp50 juta bagi gubernur hingga Rp150 ribu bagi PPPK.
Namun, angka tersebut hanyalah pedoman, bukan kewajiban yang mengikat. ASN dipersilakan memberi lebih dari acuan, sesuai acuan, lebih rendah, atau bahkan tidak sama sekali. Hal ini menunjukkan bahwa esensi dari penggalangan dana adalah keikhlasan. Dalam ajaran Hindu, tindakan ini dapat dimaknai sebagai implementasi “Tat Twam Asi” yang berarti “aku adalah engkau, engkau adalah aku.” Dengan membantu korban banjir, ASN sesungguhnya membantu dirinya sendiri karena sejatinya semua makhluk saling terhubung dalam satu kesatuan hidup.
Nilai luhur Tat Twam Asi menemukan pijakan spiritualnya dalam berbagai sloka suci. Dalam Bhagavad Gita III.10 disebutkan: “Sahayajñāḥ prajāḥ sṛṣṭvā purovāca prajāpatiḥ, anena prasaviṣyadhvam eṣa vo ’stv iṣṭa-kāmadhuk” yang artinya, “Dengan melakukan yadnya, manusia akan berkembang, dan yadnya akan memenuhi segala kebutuhan hidup.” Melalui penggalangan dana sukarela, ASN Bali melaksanakan yadnya sosial berupa Manusa Yadnya, pengorbanan suci untuk kesejahteraan sesama manusia.
Demikian pula, dalam Atharvaveda XII.1.45 dinyatakan: “Mātā bhūmiḥ putro ’ham pṛthivyāḥ” artinya, “Bumi adalah ibu, dan aku adalah putranya.” Sloka ini menegaskan bahwa manusia berkewajiban menjaga dan melindungi sesama ciptaan Tuhan, termasuk ketika mereka tertimpa bencana. Dengan bergotong royong memberikan bantuan, ASN Bali menjaga harmoni sosial, lingkungan, dan spiritualitas sesuai dengan dharma.
Solidaritas Sosial
Gotong royong yang diwujudkan ASN Bali dalam bentuk donasi adalah praktik nyata solidaritas sosial yang berakar pada budaya Bali. Tradisi saling membantu, menyama braya, dan hidup rukun dengan semangat kekeluargaan mendapat dimensi religius ketika dipadukan dengan nilai Tat Twam Asi. Keikhlasan ASN dalam berbagi juga mencerminkan ajaran Bhagavad Gita XVII.20: “Datavyam iti yad dānaṁ dīyate ’nupakāriṇe, deśe kāle ca pātre ca tad dānaṁ sāttvikaṁ smṛtam” yang berarti, “Pemberian yang dilakukan di tempat yang tepat, waktu yang tepat, kepada orang yang membutuhkan, tanpa mengharap balasan, adalah sedekah yang bersifat sattvika (murni).”
Oleh karena itu, gerakan penggalangan dana ini tidak selayaknya dipandang dengan kacamata curiga atau sinis. Justru sebaliknya, ia menjadi momentum untuk memperkuat nilai kemanusiaan, mempertegas eksistensi ASN sebagai pelayan publik, dan memperlihatkan bahwa birokrasi juga memiliki nurani sosial. Implementasi Tat Twam Asi melalui donasi sukarela ini membawa pesan bahwa dharma selalu hidup dalam tindakan nyata, dan bahwa solidaritas yang lahir dari keikhlasan akan selalu menjadi jalan menuju kesejahteraan bersama. (*)