Indeks Keyakinan Konsumen Bali Februari 2026 Tetap Optimis Meski Alami Perlambatan

 Indeks Keyakinan Konsumen Bali Februari 2026 Tetap Optimis Meski Alami Perlambatan

pedagang pasar.

DRNPASAR – baliprawara.com
Persepsi positif masyarakat terhadap kondisi perekonomian di Bali masih terjaga pada awal tahun 2026. Hal ini tercermin dari tingkat keyakinan konsumen yang tetap berada di zona optimistis meskipun mengalami sedikit penurunan dibandingkan bulan sebelumnya.

Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Provinsi Bali pada Februari 2026 tercatat berada di angka 130,6. Angka ini memang mengalami penurunan sebesar 3,6 persen secara bulanan atau month to month (mtm). Meski demikian, nilai tersebut masih berada di atas level 100 yang menandakan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap kondisi ekonomi tetap dalam kategori optimistis.

Menurut Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja, capaian tersebut bahkan masih lebih tinggi dibandingkan tingkat keyakinan konsumen secara nasional. Pada periode yang sama, Indeks Keyakinan Konsumen tingkat nasional tercatat sebesar 125,2.

Survei konsumen yang dilakukan setiap bulan oleh Bank Indonesia bertujuan untuk mengukur tingkat keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini serta ekspektasi mereka terhadap perkembangan ekonomi di masa mendatang.

Optimisme konsumen di Bali pada Februari 2026 terutama didorong oleh sejumlah kelompok pendapatan. Kelompok masyarakat dengan pendapatan Rp5 juta hingga Rp6 juta mencatat tingkat keyakinan paling tinggi dengan indeks mencapai 139,5.

Sementara itu lanjut dia, kelompok pendapatan Rp4 juta hingga Rp5 juta juga menunjukkan optimisme yang kuat dengan indeks 138,2. Kemudian diikuti kelompok pendapatan Rp6 juta hingga Rp7 juta yang mencatat indeks 135,8.
Kelompok masyarakat dengan pendapatan di atas Rp8 juta juga masih menunjukkan tingkat keyakinan yang cukup tinggi dengan indeks 132,8. “Kondisi ini menunjukkan bahwa berbagai kelompok pendapatan masih memandang kondisi ekonomi Bali secara positif,” katanya dalam keterangan tertulis, Jumat 13 Maret 2026.

See also  Wagub Cok Ace Resmikan Rumah Sepeda Indonesia di Bali

Optimisme tersebut juga tercermin dari responden berdasarkan jenis pekerjaan. Pekerja di sektor formal mencatat indeks keyakinan sebesar 135,3, sedangkan pekerja sektor informal berada di angka 121,1. Kedua kelompok ini masih berada pada level optimis.
Namun demikian, terdapat beberapa komponen yang menahan laju peningkatan IKK pada periode tersebut.

Erwin Soeriadimadja, menjelaskan bahwa perlambatan terutama dipengaruhi oleh penurunan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE). IKE pada Februari 2026 tercatat turun dari 128,3 pada bulan sebelumnya menjadi 121,0 atau mengalami perlambatan sebesar 5,7 persen secara bulanan.

Penurunan tersebut terutama dipengaruhi oleh turunnya indeks konsumsi barang-barang kebutuhan tahan lama dibandingkan enam bulan sebelumnya. Komponen ini mengalami penurunan hingga 13,1 persen secara bulanan.
Sebagian besar responden yang menyatakan adanya penurunan konsumsi mengaku menunda pembelian sejumlah barang elektronik.

Keputusan tersebut dilakukan sebagai langkah menahan pengeluaran di tengah kondisi tertentu yang dinilai belum sepenuhnya stabil. “Selain itu, penurunan IKE juga dipengaruhi oleh turunnya indeks penghasilan saat ini dibandingkan enam bulan sebelumnya yang tercatat menurun sebesar 6,3 persen secara bulanan,” bebernya.

Sebagian responden menilai bahwa omzet usaha berpotensi menurun sehingga mereka memilih untuk menahan konsumsi. Kondisi ini berkaitan dengan periode low season atau masa sepi kunjungan wisatawan di Bali. Data dari Angkasa Pura menunjukkan bahwa pada Februari 2026 jumlah kunjungan wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara mengalami penurunan sebesar 11,2 persen secara bulanan.

Total kunjungan wisatawan pada periode tersebut tercatat sekitar 814 ribu orang. Penurunan jumlah wisatawan tersebut turut memengaruhi aktivitas ekonomi di sejumlah sektor, khususnya yang berkaitan dengan pariwisata. Selain IKE, komponen lain yang mengalami perlambatan adalah Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK). Indeks ini turun dari 142,7 pada Januari 2026 menjadi 140,2 pada Februari 2026 atau turun 1,8 persen secara bulanan.

See also  Resmikan Aula TK Darma Kumala, Nyonya Rai Sanjaya Dukung Pengembangan PAUD di Desa-Desa

Penurunan IEK terutama disebabkan oleh turunnya indeks prakiraan ketersediaan lapangan kerja dalam enam bulan mendatang dibandingkan kondisi saat ini. Indeks tersebut tercatat sebesar 135,0 atau turun 4,3 persen secara bulanan. Indeks prakiraan kegiatan usaha enam bulan mendatang juga mengalami penurunan sebesar 1,4 persen secara bulanan dengan posisi di angka 140,0.

Sebagian responden menilai bahwa ketidakpastian geopolitik global masih dapat memengaruhi sektor pariwisata, terutama dalam hal kunjungan wisatawan. Kondisi ini berpotensi meningkatkan persaingan usaha di berbagai sektor ekonomi.

Meski beberapa komponen mengalami perlambatan, secara keseluruhan tingkat keyakinan konsumen di Bali masih berada pada level optimistis. Hal ini terlihat dari nilai IKE dan IEK yang tetap berada di atas angka 100.
Optimisme tersebut juga didukung oleh meningkatnya indeks ketersediaan lapangan kerja saat ini dibandingkan enam bulan sebelumnya yang naik sebesar 1,5 persen secara bulanan.

Rangkaian Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) turut menjadi salah satu faktor yang menjaga keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi. Untuk menjaga stabilitas harga dan mendorong pertumbuhan ekonomi, Bank Indonesia Provinsi Bali bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) terus melakukan berbagai langkah strategis.

Menjelang Hari Raya Nyepi dan Idulfitri pada Maret 2026, TPID di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota melakukan berbagai upaya untuk memastikan ketersediaan pasokan pangan. Langkah tersebut antara lain melalui penyelenggaraan operasi pasar murah, pemantauan harga komoditas pangan utama, serta koordinasi rutin untuk memastikan kelancaran distribusi pangan.

Di sisi lain, pelaku usaha di sektor perhotelan serta makanan dan minuman juga mulai meningkatkan stok bahan pangan sejak beberapa bulan sebelumnya. Langkah ini dilakukan untuk mengantisipasi peningkatan permintaan selama periode libur panjang.
Dari sisi kebijakan moneter, Bank Indonesia pada rapat yang berlangsung pada 18–19 Februari 2026 memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 4,75 persen.

See also  Buaya Besar Muncul di Pantai Legian, Sempat Gegerkan Pengunjung

Selain itu, suku bunga Deposit Facility juga dipertahankan sebesar 3,75 persen, sementara suku bunga Lending Facility tetap berada pada level 5,50 persen. Pemerintah juga memberikan sejumlah stimulus untuk menjaga tingkat kunjungan wisatawan domestik selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional.

Promo transportasi laut diberikan hingga 30 persen untuk perjalanan mulai 1 Maret hingga 5 April 2026. Selain itu, diskon tiket pesawat rute domestik hingga 18 persen juga diberikan untuk keberangkatan pada 14 hingga 29 Maret 2026.
Berbagai stimulus tersebut diharapkan dapat membantu menjaga stabilitas harga sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi, khususnya di wilayah Bali yang sangat bergantung pada sektor pariwisata. (MBP)

 

redaksi

Related post