Jatiluwih, A Beauty Interrupted: Pameran Putu “PW” Winata Soroti Konflik Subak dan Pariwisata Bali

 Jatiluwih, A Beauty Interrupted: Pameran Putu “PW” Winata Soroti Konflik Subak dan Pariwisata Bali

Putu “PW” Winata (kiri) bersama kurator Arif Bagus Prasetyo, saat pembukaan pameran seni rupa bertajuk Jatiluwih, A Beauty Interrupted karya Putu “PW” Winata, di Deus Ex Machina Bali.

MAGUPURA – baliprawara.com
Kawasan subak Jatiluwih di Tabanan, Bali, yang dikenal sebagai Warisan Budaya Dunia UNESCO, mengalami gejolak pada Desember 2025. Aksi protes warga dan petani muncul sebagai respons atas kebijakan penutupan sejumlah usaha pariwisata yang dinilai melanggar aturan pemerintah dan dianggap mengancam keberlangsungan ekonomi masyarakat lokal.

Protes tersebut ditandai dengan pemasangan barisan seng di area persawahan, yang berdampak pada menurunnya kunjungan wisatawan serta membuka konflik laten antara regulasi, industri pariwisata, dan hak hidup petani. Situasi tersebut menjadi latar utama pameran seni rupa bertajuk Jatiluwih, A Beauty Interrupted karya Putu “PW” Winata, di Deus Ex Machina Bali.

Sejak 2024, PW menjalani proses kreatif intens dengan melakukan riset lapangan dan pengamatan langsung terhadap lanskap alam, ritual sakral, serta dinamika sosial-ekonomi masyarakat subak Jatiluwih. Dari proses tersebut, PW menghasilkan lebih dari seratus karya yang sebelumnya telah dipamerkan di berbagai kota di dalam dan luar negeri.

Pameran yang dikuratori oleh Arif Bagus Prasetyo ini, menampilkan sebanyak 42 karya lukisan dengan berbagai ukuran, serta sebuah instalasi seng yang merefleksikan aksi protes petani Jatiluwih. Melalui karya-karyanya, PW tidak hanya merekam keindahan alam Jatiluwih, tetapi juga menghadirkan ketegangan antara kepadatan visual dan ruang kosong sebagai metafora keresahan sosial dan ekonomi yang dialami masyarakat setempat.

Menurutnya, Jatiluwih dipilih sebagai tema karena statusnya sebagai warisan budaya UNESCO yang dinilai masih menghadapi banyak persoalan. “Seperti diketahui bersama kan Jatiluwih itu warisan budaya UNESCO yang ada di Bali. Jadi salah satu penyebab saya untuk mengangkat Jatiluwih dan saya melihat banyak hal-hal yang perlu diperbaiki,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya menjaga sistem irigasi subak serta tanggung jawab bersama dalam melestarikan warisan budaya tersebut. PW menjelaskan bahwa pameran ini dipersiapkan sekitar enam bulan dan berlangsung mulai 24 Januari hingga 22 Februari 2026. Karya-karya dibagi ke dalam tiga ukuran utama, dengan konsep lanskap Jatiluwih dari perspektif pagi, siang, dan malam hari. Instalasi seng dihadirkan sebagai simbol dari peristiwa protes petani pada Desember 2025.

See also  FISIP Unud Gelar Tirta Yatra ke Pura Rambut Siwi dan Perancak

Pemilihan Deus Ex Machina Bali sebagai lokasi pameran didasarkan pada jangkauan pengunjung internasional yang dinilai potensial untuk memperkenalkan isu Jatiluwih ke audiens yang lebih luas. (MBP)

 

redaksi

Related post