Kasus Tumor Otak Masih Tinggi, KIH Kedonganan Tekankan Pentingnya Skrining
Dokter Spesialis Bedah Saraf di Kasih Ibu Hospital (KIH) Kedonganan, dr. Steven Awyono, Sp.BS, FTO.
MANGUPURA – baliprawara.com
Kasus tumor otak masih menjadi perhatian serius dalam dunia medis, khususnya di bidang bedah saraf. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga dapat memengaruhi fungsi tubuh secara menyeluruh.
Tingginya angka kejadian membuat penanganan tumor otak membutuhkan perhatian lebih dari tenaga medis maupun masyarakat. Pemahaman terhadap gejala awal dinilai penting agar pasien bisa mendapatkan penanganan lebih cepat.
Dalam praktik medis, tumor otak menjadi salah satu diagnosis yang cukup sering ditemui setelah kasus trauma. Hal ini menunjukkan bahwa penyakit ini masih menjadi beban besar dalam layanan kesehatan.
Kesadaran masyarakat terhadap gejala awal tumor otak masih tergolong rendah. Banyak pasien datang ke fasilitas kesehatan dalam kondisi yang sudah cukup berat karena sebelumnya mengabaikan tanda-tanda yang muncul.
Dokter Spesialis Bedah Saraf di Kasih Ibu Hospital (KIH) Kedonganan, dr. Steven Awyono, Sp.BS, FTO., menyebutkan bahwa jumlah kasus tumor otak tergolong tinggi. Dalam praktiknya, kondisi ini bahkan menempati urutan kedua setelah trauma.
Ia mengungkapkan, meskipun belum ada data menyeluruh di Bali, gambaran dari salah satu fasilitas kesehatan menunjukkan adanya sekitar 10 pasien baru setiap minggu. Sementara itu, kapasitas tindakan operasi hanya mampu menangani sekitar tujuh kasus per minggu.
Keterbatasan jumlah operasi bukan tanpa alasan. Prosedur bedah tumor otak membutuhkan waktu panjang dan tingkat ketelitian tinggi. Bahkan, melakukan dua operasi dalam satu hari sudah menjadi tantangan besar bagi tim medis.
Salah satu gejala yang sering dialami penderita adalah sakit kepala. Namun, keluhan ini kerap dianggap ringan karena bisa mereda dengan obat biasa.
“Padahal, sakit kepala yang terjadi berulang dan terus menerus perlu mendapat perhatian lebih. Kondisi ini bisa menjadi tanda awal yang memerlukan pemeriksaan lanjutan,” kata dr. Steven dalam kegiatan Focus Group Discussion (FGD), Senin 20 April 2026 di Kasih Ibu Hospital Kedonganan.

Ia juga menegaskan bahwa tidak semua sakit kepala berkaitan dengan tumor otak. Gejala dapat berbeda tergantung lokasi tumor, sehingga pemeriksaan medis tetap diperlukan untuk memastikan diagnosis.
Di beberapa negara, skrining otak telah menjadi bagian dari pemeriksaan rutin, terutama bagi individu berusia di atas 40 tahun. Pemeriksaan ini umumnya dilakukan setiap lima tahun untuk mendeteksi gangguan sejak dini.
Namun, penerapan skrining secara luas masih terkendala biaya. Dukungan pemerintah dinilai penting agar program ini dapat diakses masyarakat secara merata.
Tumor otak sendiri dapat terjadi pada berbagai usia. Dalam beberapa kasus, faktor hormonal juga berperan, sehingga risiko tertentu lebih sering ditemukan pada perempuan usia 30 hingga 40 tahun.
Direktur Kasih Ibu Hospital Kedonganan, dr. Ni Putu Ayu Utari Laksmi, menekankan bahwa penanganan tumor otak harus dilakukan secara cepat dan terintegrasi sejak awal diagnosis. “Pada kasus tumor otak, waktu sangat menentukan. Semakin cepat terdeteksi, semakin besar peluang pasien mendapatkan penanganan yang lebih optimal,” ujarnya.
Dalam proses diagnosis, teknologi seperti CT scan dan MRI menjadi standar penting. Kedua metode ini membantu dokter mengetahui lokasi, ukuran, dan karakteristik tumor secara detail.
Rumah sakit tersebut juga telah dilengkapi fasilitas medis yang mendukung penanganan menyeluruh, mulai dari instalasi gawat darurat, rawat jalan, hingga rawat inap.
Selain itu, teknologi radiologi modern yang terintegrasi secara digital memungkinkan hasil pemeriksaan dapat diakses dengan cepat oleh dokter. Hal ini membantu mempercepat proses diagnosis dan penanganan pasien.
Fasilitas ruang operasi juga dirancang untuk mendukung tindakan medis kompleks, termasuk bedah saraf. Dengan dukungan peralatan modern dan tim dokter berpengalaman, operasi dapat dilakukan dengan standar keselamatan yang tinggi. (MBP)