Ketahanan Pangan dan Kesejahteraan Petani, Prof. Dewa Suprapta: Ubi Ungu Bahan Pangan Fungsional, Cukup Gizi dan Menyehatkan
Prof. Dewa Suprapta
DENPASAR – baliprawara.com
Luas lahan padi di Bali rata-rata di bawah 50 are per KK petani. Dengan luas lahan seluas itu, hasil yang diperoleh tentu kurang dapat mensejahterakan petani. Idealnya, satu KK petani menggarap 2-3 hektar lahan, dengan perolehan hasil sekitar Rp 7-10 juta per bulan. Karena itu perlu ada diperfikasi atau pengganti tanaman yang tak hanya mengandalkan padi, tetapi nonpadi. Salah satunya ubi jalar ungu.
Guru Besar Fakultas Pertanian Unud Prof. Dr. Dewa Ngurah Suprapta menyampaikan, ubi jalar ungu sangat prospektif dikembangkan di Bali, di sela-sela musim tanam padi. Masa tanamnya sekitar 4 bulan, ubi ungu sudah bisa menghasilkan.
”Ubi ungu mengandung gizi cukup dan cukup sehat dikonsumsi. Ia bisa menjadi bahan pangan fungsional pengganti beras dan pangan lainnya,” kata Dewa Suprapta penerima Penghargaan The Order of the Rising Sun Gold Rays with Neck Ribbon dari Pemerintah Jepang tersebut.
Dikatakan, harga Ubi ungu di pasaran mencapai Rp 10 ribu per kg, bahkan di supermarket bisa mencapai Rp 40 ribu per kg. Jika di tingkat petani bisa dijual Rp 5-8 ribu per kg, kesejahteraan petani akan bisa meningkat. Sebab, satu hektar lahan bisa menghasilkan sekitar 20 ton. Jika dikalikan Rp 8 ribu, hasilnya sudah seratusan juta. Dipotong biaya produksi–ongkos pengolahan lahan, bibit dan sarana produksi sekitar 40 persen, sebesar itulah keuntungan diperoleh petani per satu hektar/per 4 bulan.
Peraih gelar Doktor Kehormatan dari Ibaraki University, Jepang ini mengatakan lebih lanjut, bahwa akademisi Unud telah mengembangkan varietas lokal ubi ungu Bali. Varietas lokal itu dinamai Sela Ungu Pertiwi yang telah didaftarkan di Kementerian Pertanian oleh Gubernur Bali.
Penanaman ubi ungu varietas lokal itu sudah diujicoba di kawasan Desa Bongkasa Pertiwi, Abiansemal Badung, atas kerjasama antara akademisi Unud dengan Pemkab Badung (Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan), salah satu perusahaan swasta, dan Pemerintahan Desa Bongkasa Pertiwi.
Selanjutnya, varietas ini akan dikembangkan di daerah lain. Mengingat, kebutuhan ubi ungu di pasaran lumayan tinggi. Selain sebagai pengganti beras, ubi ungu bisa diolah menjadi berbagai produk makanan dan minuman. Bahkan, Prof. Dewa Suprapta telah memproduksi wine, sirup dan jus berbahan ubi ungu sejak lama.

Doktor dan Magister Ubi Ungu
Akademisi Unud telah meneliti ubi ungu sejak 2003 lalu. Kata Prof. Dewa Suprapta, ubi ungu memiliki kandungan antosianin yang dapat mencegah penyakit degeneratif seperti jantung, kencing manis, darah tinggi, dan stroke. Bersifat antioksidan, antosianin Ubi ungu dapat mencegah stres oksidatif dan pembengkakan, karena mengandung anti inflamasi.
Karena kandungan antosianinnya cukup tinggi, ubi ungu telah banyak diteliti para akademisi. Bahkan Program Pascasarjana Unud telah meluluskan 15 orang doktor dan sejumlah magister yang disertasi dan tesisnya meneliti ubi ungu, kaitannya dengan penyakit dalam, penyakit saraf, epilepsi, ketergantungan obat terlarang dan sebagainya.
”Jadi, selain mengandung antosianin yang dapat mencegah penyakit degeneratif, ubi ungu mengandung gizi yang cukup sebagai alternatif makanan yang sehat. Dalam konteks ketahanan pangan, ubi ungu sangat menjanjikan dikembangkan di Bali, ” ujar Prof. Dewa Suprapta, peraih penghargaan Kalpataru dari Presiden RI. (MBP2)