Ketut Suasana Kabul “Tangkap” Sinyal Komunikasi Lebah lewat Pameran Tunggal “Nectar Waggle” di Komaneka Fine Art Ubud
Ketut Suasana Kabul
GIANYAR – baliprawara.com
Tak hanya manusia, serangga seperti lebah juga piawai “menari” saat kembali ke sarang setelah menemukan sumber nektar (bunga yang kaya madu). Gerakan tari berpola angka delapan itu dilakukan untuk memberi tahu anggota komunitasnya lokasi dan jarak sumber makanan tersebut. Nektar atau cairan manis dari bunga, merupakan bahan baku madu. Lebah menghasilkan madu, manusia justru mengambilnya– dikonsumsi bahkan diperjualbelikan.
”Nectar Waggle adalah sinyal komunikasi lebah bahwa mereka menemukan nektar yang enak dan berlimpah. Sinyal komunakasi itu dilakukan dengan pola gerakan angka delapan. Unik dan menarik. Lebah memang menginspirasi. Berangkat dari situlah saya mencoba menangkap sinyal itu melalui karya rupa,” kata I Ketut Suasana Kabul, perupa multitalenta asal Banjar/Desa Apuan, Kecamatan Baturiti Tabanan saat pembukaan pameran tunggalnya bertajuk Nectar Waggle, di Komaneka Fine Art Gallery Ubud, Sabtu 29 Agustus 2026. Pameran tunggalnya yang kesekian kalinya ini akan berlangsung hingga 29 September 2026.
Sebelumnya, Desember 2025, Kabul juga sukses berpameran solo di Kelir Gallery The Kayon Jungle Resort, Bresela, Payangan, Gianyar.
Dalam pameran yang dilengkapi karya instalasi berjudul “Nectar Waggle”, Kabul memamerkan sejumlah lukisan berukuran sedang hingga jumbo. Bahkan, ada karyanya berukuran cukup besar yakni 2,5 cm x 6 meter berjudul “Abstraksi Alam Lebah#8 dan Populasi Lebah berukuran 2,5 cm x 6 meter. Karya lainnya seperti Energi Naga Putih, Introspeksi, Elu-Lesung, Energi 2 Naga, dan Bumi Lebah.

Bermedia kanvas dengan warna cat air, karya-karya Kabul bertaburkan lebah beterbangan, membuat pola unik dan menarik. Warna tipis, dengan garis-garis lembut meliuk-liuk, karya Kabul memancarkan keindahan bentuk yang penuh makna filosofis dari lebah itu sendiri.
Memang, kekaryaan pelukis yang telah banyak berpameran ini, sejak lama “berbicara” tentang lebah, serangga penghasil madu. Kabul terinspirasi dari lebah, yang menurutnya ada muatan nilai yang patut ditiru dari kehidupan serangga kecil ini. Ada semangat kebersamaan, kerjasama, dan tanggung jawab dalam memerankan tugas masing-masing. Kemudian, madu yang dihasilkan amat berguna bagi kesehatan manusia.

Kata Suasana Kabul, komunitas serangga ini sangat terorganisir. Ada ratu lebah, lebah pekerja, dan lebah jantan yang masing-masing punya tugas spesial.
Ratu lebah (apis mellifera) atau lebah betina, sangat berperan dalam menjaga kelangsungan hidup koloni. Ratu lebah bertanggung jawab untuk bertelur dan menghasilkan keturunan baru.
Selain itu, ratu lebah mengeluarkan feromon yang mengatur perilaku lebah lain dalam koloni, seperti mengatur pekerjaan, mengatur pertahanan, dan lain-lain.
Ratu lebah juga mengatur keseimbangan koloni dengan mengatur jumlah lebah yang lahir dan mati. Ratu lebah juga mengatur produksi madu dengan mengatur jumlah lebah yang bekerja untuk mengumpulkan nektar.
Ratu lebah dapat hidup hingga 5 tahun, sedangkan lebah pekerja hanya hidup sekitar 4-6 minggu. Ratu lebah memiliki sayap yang lebih panjang daripada lebah lain, sehingga dia dapat terbang lebih jauh. Ratu lebah hanya meninggalkan sarang sekali dalam hidupnya, yaitu saat dia melakukan penerbangan pernikahan dengan lebah jantan.

Proses pembuatan madu lebah juga unik dan menarik. Lebah pekerja mengumpulkan nektar dari bunga menggunakan lidah panjang mereka. Nektar disimpan dalam kantong madu lebah dan dicampur dengan enzim yang memecah gula kompleks menjadi gula sederhana.
Lebah menguapkan air dari nektar dengan cara mengkipas-kipas sayap mereka, sehingga madu menjadi lebih kental. Madu disimpan dalam sel-sel lilin di sarang lebah, yang kemudian ditutup dengan lilin untuk menjaga kesegarannya.
”Madu yang dihasilkan sangat berguna bagi manusia. Madu memiliki sifat antibakteri dan antiseptik, membuatnya berguna untuk pengobatan luka dan perawatan kulit. Jadi, dari koloni lebah, saya terinspirasi membuat karya. Komunitas lebah banyak mengingatkan kita tentang arti gotong royong, semangat kebersamaan untuk menghasilkan tujuan bersama, bertanggung jawab dengan tugas dan fungsi masing-masing. Sungguh sangat indah, jika itu mampu kita terapkan pada kehidupan sehari-hari,” ujar Kabul. (MBP2)
