Kuningan, Hari Suci yang Penuh Makna Kehidupan
Prof. Surada
Oleh Prof. I Made Surada (Guru besar UHN I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar).
Masih rangkaian hari suci Galungan. Pada Sabtu 29 November 2025 ini, umat Hindu merayakan hari raya Kuningan — tepatnya 10 hari setelah Galungan. Kemudian pada hari Rabu, Kliwon, wuku Pahang, disebut dengan hari Pegatwakan yang merupakan hari terakhir dari semua rangkaian Hari Raya Galungan-Kuningan yang berlangsung selama 42 hari.
Kuningan atau lazim disebut Tumpek Kuningan adalah hari yang penuh makna dalam kehidupan umat Hindu. Dalam sastra agama Hindu disebutkan, Kuningan berasal dari kata “kuning “, yang selain berarti warna, juga bermakna “amertha “. Kuningan dapat pula berarti “Keuningan atau uning” yang mengandung arti ” Kepradnyanan ” (uning = tahu, mengerti, bahasa Bali).
Sehari sebelum Kuningan (Jumat pon Kuningan) disebut hari Penampa Kuningan, bukan penampahan Kuningan. Dinamakan hari Penampa Kuningan karena hari tersebut memiliki magis (kekuatan) sebagai pemagpag kala (penyambutan) dari Tumpek Kuningan. Karena itu pada hari Jumat itu tidak ada kegiatan persembahyangan.
Dalam lontar Sundarigama disebutkan:
”Sukra Wage Wara Kuningan, Ngaraning Penampa Kuningan, Sawetaning Enjangnia Tumpek Kuningan, Rahina Mapag Kala Ngaran, Tan Wenang Angelaraken Puja, Nirgawe’ya Tan Hana Puspa, Kewala Gaweakna Sopecaraning Gen Engjangnia ….”
Artinya, pada hari Jumat Wage Wuku Kuningan, disebut hari Penampa Kuningan, karena besoknya disebut Tumpek Kuningan, dikatakan sebagai hari mapag kala, tidak boleh memuja, akan sia-sia, tetapi bisa mempersiapkan segala keperluan untuk kebutuhan pelaksanaan upacara Kuningan pada esok harinya ….
Dalam lontar Sundarigama juga disebutkan:
”…Saniscara Kliwon Kuningan tumurun mwah watêki dewata kabeh, mwang sang dewa pitara, asuci laksana, nêhêr amukti banten…” Artinya, “… Saniscara Kliwon Kuningan para dewa turun lagi ke dunia bersama roh leluhur melakukan penyucian; untuk menikmati persembahan. Karena itu umat manusia wajib menyucikan diri dan membuat sesajen…”
Sarana Upakara
Ada berbagai upakara atau sampian dihaturkan pada perayaan hari suci Kuningan, meliputi: Tamiang, Endongan, Kolem, Ter, Sulanggi, Nasi Tebog, Nasi Kuning dan sebagainya.
*Tamiang atau tameng merupakan simbol penolak bala, atau penangkis marabahaya.
*Endongan, sebagai simbol persembahan kepada Hyang Widhi, atau bekal hidup/pengetahuan. Endongan (bahasa Jawa Kuno) berarti bergandengan, saling menuntun.
*Kolem/Pidpid sebagai simbol linggih Hyang Widhi, para Dewa dan leluhur.
*Ter (panah) simbol ketajaman pikiran (manah) atau tingkat kualitas pikiran.
*Sulanggi, wadah seperti bunga mekar, (su-langgi bahasa Jawa Kuna yang bermakna panutan yang baik).
*Nasi Tebog (tebog dalam bahasa Jawa Kuno berarti sama rata atau adil).
*Nasi Kuning, yaitu nasi kemakmuran.
Perlengkapan upakara yang khas pada Kuningan yaitu: ter (panah) dan endongan yang merupakan simbol perbekalan (logistik) dalam perang. Pada saat itu dipasang hiasan ter atau panah (senjata). Panah itu sesungguhnya simbol ketajaman pikiran (manah) atau tingkat kualitas pikiran.
Sementara dalam konteks keberagamaan, endongan bermakna bekal dalam mengarungi kehidupan seterusnya. Bekal itu tiada lain adalah karma atau hasil dari perbuatan–
subha karma (perbuatan baik), atau
asubha karma (perbuatan buruk). Jadi, hanya karma diri sendirilah sebagai bekal utama untuk menuntun menuju perjalanan selanjutnya.
Makna Hari Suci Kuningan
Makna dari Hari Kuningan itu sendiri adalah memohon keselamatan, kemakmuran, kesejahteraan, perlindungan juga tuntunan lahir-bathin kepada para Dewa, Bhatara, dan para Pitara agar semua yang diinginkan bisa terkabul dan terlaksana.
Kata kunci dalam Kuningan adalah suddha jnana, atau kesucian pikiran.
Orang yang memiliki tingkat suddha jnana akan menemukan siddha (keberhasilan) yang disebut siddhi. Dengan demikian umat tak akan memiliki berantha jnana atau pikiran kotor alias diselimuti kebingungan. Hal itu didapat ketika umat mampu memenangkan musuh yang ada dalam tubuh yang disebut Dasa Indria.
Pada hari suci Kuningan ini umat memuja Tuhan dalam keheningan. Dalam keheningan itu diharapkan muncul div atau sinar suci Tuhan.
Waktu Perayaan
Perayaan Kuningan mengambil waktu pagi hari, ketika matahari mulai terbit. Memang, pancaran kesucian atau situasi keheningan didapat pada waktu tersebut.
”…haywa muja bantĕn kalangkahang jĕjĕg sang hyang Sūrya, watĕk dewatā kabeh mur mantuk ring suralaya…” Artinya, “.. jangan memuja lewat dari tengah hari, sebab setelah tengah hari para dewa kembali ke Sorga…” (*)