Lewat Lukisan, Agus Eri Putra Obati Kerinduan Tentang Suasana Bali Tempo Dulu
Perupa Agus Eri Putra
UBUD – baliprawara.com
Jika kita rindu suasana alam Bali era lampau yang kental dengan kehidupan masyarakat agrarisnya, datanglah ke Studio Lukis Agus Eri Putra, di bilangan Banjar Kelingkung, Desa Lodtunduh, Ubud Gianyar. Di studio lukis yang berada dekat dengan Restoran Bebek Teba Sari itu, kita dapat mengapresiasi suasana Bali era di bawah tahun 1970-an pada sejumlah lukisan.
Pada bidang-bidang kanvas berbagai ukuran, kita akan disuguhkan suasana Bali yang masih alami dan kehidupan masyarakatnya yang bersahaja. Seperti, aktivitas petani membawa sapi melintasi jalan pedesaan yang belum tersentuh aspal. Atau, aktivitas petani yang menggembalakan itiknya melawati jalan tanah, serta perempuan Bali yang menjunjung gebogan dengan berjalan kaki ke Pura dan sebagainya.
Dalam lukisan-lukisan itu, kita juga disuguhkan bangunan khas masyarakat Bali yang masih menyatu dengan alam. Angkul-angkul dan tembok rumah yang berbuat dari tanah polpolan beratap jerami atau alang-alang– ciri menonjol bangunan masyarakat Bali masa lalu– tersaji detail di bidang-bidang kanvas dengan pewarnaan yang serasi.
Itulah karya-karya Agus Eri Putra, perupa muda Bali yang multitalenta. Hingga kini ia masih setia melukis objek yang menggambarkan suasana Bali tempoe doeloe.
”Mari hening sejenak. Kembali bernostalgia tentang suasana alam Bali yang penuh kehidupan yang bersahaja. Bali yang masih alami, Bali yang belum ada bangunan beton dan minim kendaraan bermotor,” kata Agus Eri Putra, seniman muda berbakat yang lahir di lingkungan keluarga seni. Ayahnya, Ketut Gemuh (alm) seorang pematung. Kini, putri-putra Agus Eri Putra — Ni Putu Kartika Ayudya Prameswari dan I Made Teguh Surya Baktara juga tertarik pada bidang seni.

Jika kita cermati karya Agus Eri Putra, unsur pencahayaan menjadi ciri khasnya, seperti kita lihat pada karya Walter Spies. Suasana Bali pagi dan siang hari, tampak dalam karya-karya Agus Eri Putra, dengan menghadirkan sinar mentari yang menembus celah-celah objek. Kemudian, bayangan figur menyertai. Inilah ciri khas karyanya yang elegan, dengan objek suasana Bali pada zaman lawas.
Karya-karyanya memiliki ciri khas yang kuat, menghadirkan suasana pedesaan Bali dengan detail yang hidup dan memancarkan ketenangan.
Tetapi, Agus Eri Putra tidak hanya berfokus pada lukisan bernuansa alam pedesaan Bali, ia juga membuat lukisan plein air dengan objek lain yang masih kental nuansa Bali-nya.
Selain aktif melukis, Agus Eri Putra juga merambah berbagai bentuk seni kreatif seperti patung anyaman bambu, patung jerami dan patung batok kelapa. Bahkan, berkat patungnya berjudul Dwi Sri berbahan jerami dan Patung Presiden pertama RI, Soekarno berbahan anyaman bambu, Agus Eri Putra mendapat 2 (dua) penghargaan MURI.

Selain aktif berkarya, suami Ni Wayan Awik Anggraheni ini juga sering terterlibat dalam pameran senirupa dan kegiatan sosial dan budaya. Agus memang memiliki dedikasi dan komitmen yang kuat untuk mengembangkan seni sekaligus menjaga nilai-nilai tradisi Bali. (MBP2)