Makotek di Desa Munggu, Ritual Tolak Bala yang Terus Dijaga Lintas Generasi
Tradisi Mekotek, di Desa Adat Munggu, Sabtu 27 Juni 2026.
MANGUPURA – baliprawara.com
Suasana Hari Raya Kuningan di Desa Adat Munggu, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Sabtu 27 Juni 2026, kembali diwarnai dengan pelaksanaan Tradisi Ngerebeg atau yang lebih dikenal masyarakat sebagai Makotek. Tradisi yang telah berlangsung secara turun-temurun tersebut kembali menjadi bagian penting dari rangkaian upacara adat yang diyakini sebagai ritual penolak bala sekaligus upaya menyucikan wilayah desa dari pengaruh energi negatif.
Pelaksanaan tradisi ini melibatkan ratusan krama lanang atau warga laki-laki yang berjalan mengelilingi kawasan desa sambil membawa tongkat yang terbuat dari kayu pulet. Prosesi berlangsung dengan penuh semangat, diiringi sorak-sorai peserta yang menciptakan suasana khas setiap kali ritual dilaksanakan pada Hari Raya Kuningan.
Setiap rombongan tiba di titik persimpangan, baik di pertigaan maupun perempatan jalan, tongkat-tongkat kayu yang dibawa para peserta kemudian disatukan hingga membentuk susunan menyerupai piramida. Formasi tersebut menjadi salah satu ciri utama Tradisi Makotek yang terus dipertahankan hingga sekarang.
Persimpangan jalan dipercaya sebagai lokasi yang menjadi tempat berkumpulnya roh-roh jahat atau bhuta kala. Oleh sebab itu, prosesi penyatuan tongkat selalu dilakukan di titik-titik tersebut sebagai simbol penolak bala.
Ketika puluhan tongkat saling bertumpu membentuk piramida, terdengar bunyi khas “tek, tek, tek” yang berasal dari benturan kayu. Suara itu berpadu dengan pekikan semangat para peserta yang dipercaya memiliki makna spiritual untuk mengusir berbagai energi negatif agar tidak mengganggu kehidupan masyarakat Desa Adat Munggu.
Selain memiliki nilai religius, tradisi ini juga menjadi simbol kuatnya kebersamaan masyarakat adat yang tetap menjaga warisan leluhur di tengah perkembangan zaman. Seluruh rangkaian prosesi dilaksanakan dengan tetap mengedepankan nilai gotong royong dan rasa persaudaraan antarwarga.
Bendesa Adat Munggu, I Made Suwinda, menjelaskan bahwa Makotek bukan sekadar tradisi seremonial, melainkan ritual yang memiliki makna mendalam bagi masyarakat desa. “Dua belas banjar yang ada di Desa Adat Munggu bersatu melangsungkan tradisi Makotek,” terangnya.
Menurut Suwinda, keterlibatan seluruh banjar adat menjadi bukti bahwa tradisi tersebut juga berfungsi mempererat hubungan antarpemuda maupun seluruh warga Desa Adat Munggu. Kebersamaan yang terbangun selama prosesi menjadi bagian penting dari nilai yang diwariskan secara turun-temurun.
Ia juga menjelaskan bahwa penggunaan kayu pulet dalam pelaksanaan Makotek memiliki latar belakang sejarah yang panjang. Pada masa lampau, masyarakat menggunakan tombak dalam prosesi tersebut. Namun, seiring perubahan zaman, tombak kemudian digantikan dengan tongkat kayu pulet.
Pergantian tersebut dilakukan bukan tanpa alasan. Dahulu, pohon pulet tumbuh cukup banyak di wilayah Desa Adat Munggu sehingga mudah diperoleh masyarakat untuk kebutuhan ritual adat.
Selain mudah ditemukan, kayu pulet dipilih karena memiliki karakteristik yang lentur, kuat, dan tidak mudah patah. Sifat tersebut dinilai sangat sesuai digunakan dalam Tradisi Makotek, mengingat puluhan tongkat harus saling bertumpu saat membentuk formasi piramida selama prosesi berlangsung.
“Karena kelenturan dari pada kayu itu, maka itulah yang dipakai untuk tradisi Makotek menggantikan tombak,” jelas Suwinda.
Tradisi Makotek secara rutin dilaksanakan setiap Saniscara Kliwon Kuningan. Pesertanya terdiri dari krama lanang atau warga laki-laki berusia sekitar 15 hingga 60 tahun yang berasal dari 12 banjar adat di Desa Adat Munggu.
Selama prosesi berlangsung, para peserta berjalan mengelilingi wilayah desa sambil membawa tongkat kayu pulet sebagai bagian dari ritual penyucian kawasan desa. Kegiatan tersebut menjadi simbol harapan agar masyarakat senantiasa memperoleh keselamatan, kedamaian, dan terhindar dari berbagai gangguan yang dipercaya dapat memengaruhi keseimbangan kehidupan.
Tidak hanya membawa tongkat kayu, pelaksanaan Makotek juga disertai prosesi membawa berbagai pusaka sakral milik desa adat. Salah satunya adalah Perisai Tamiang Kolem yang dipundut dari Pura Dalem Kahyangan Wisesa.
Selain Tamiang Kolem, sejumlah pusaka lainnya dari Pura Desa lan Puseh Desa Adat Munggu juga ikut diarak mengelilingi desa sebagai bagian dari rangkaian ritual adat yang telah diwariskan selama bergenerasi.
Keberadaan pusaka-pusaka tersebut memiliki makna spiritual tersendiri dalam pelaksanaan tradisi. Masyarakat meyakini bahwa benda-benda sakral tersebut menjadi bagian penting dalam ritual penolak bala yang dilaksanakan setiap Hari Raya Kuningan. “Tamiang Kolem itulah sebagai penolak bala,” papar Suwinda.
Hingga kini, Tradisi Makotek tetap menjadi salah satu warisan budaya yang terus dijaga oleh masyarakat Desa Adat Munggu. Selain mempertahankan nilai spiritual dan adat istiadat, tradisi ini juga menjadi simbol persatuan seluruh banjar adat yang bersama-sama menjaga keberlangsungan budaya leluhur agar tetap lestari dari generasi ke generasi. (MBP)
