Manusia Silver Bawa Pisau di Simpang Imam Bonjol Badung Diamankan Satpol PP dan Polisi

 Manusia Silver Bawa Pisau di Simpang Imam Bonjol Badung Diamankan Satpol PP dan Polisi

Aksi manusia silver acungkan pisau akhirnya diatensi pihak terkait. (ist)

MANGUPURA – baliprawara.com
Aksi manusia silver yang biasa terlihat meminta-minta di sejumlah persimpangan jalan di wilayah Badung kembali menjadi sorotan. Kali ini, keresahan warga memuncak setelah beredar video yang memperlihatkan seorang manusia silver membawa senjata tajam saat beraktivitas di kawasan lampu lalu lintas Simpang Imam Bonjol, Kuta.

Rekaman tersebut menyebar luas di media sosial dan memicu perhatian masyarakat. Dalam video yang beredar, sosok manusia silver itu tampak membawa sebilah pisau sambil mendekati kendaraan yang berhenti di lampu merah. Bahkan, benda tajam itu sempat digunakan untuk mengetuk kaca mobil pengguna jalan.

Kondisi tersebut memicu kekhawatiran, terutama karena lokasi kejadian berada di kawasan padat lalu lintas yang juga menjadi salah satu jalur strategis menuju destinasi wisata di Kabupaten Badung. Keberadaan aksi seperti itu dinilai tidak hanya mengganggu ketertiban umum, tetapi juga berpotensi mencoreng citra pariwisata Bali yang selama ini dijaga.

Hal itu langsung menjadi perhatian serius aparat gabungan, khususnya Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Badung bersama jajaran Polsek Kuta. Setelah video tersebut ramai diperbincangkan publik, petugas langsung bergerak melakukan penelusuran terhadap sosok manusia silver yang terekam membawa senjata tajam tersebut.

Langkah cepat aparat membuahkan hasil dalam waktu singkat. Kurang dari 24 jam setelah video viral, terduga pelaku berhasil diamankan petugas. Saat ini, yang bersangkutan tengah menjalani pemeriksaan oleh jajaran reserse kriminal Polsek Kuta guna pendalaman lebih lanjut.

Kepala Satuan Polisi Pamong Praja Badung, I Gusti Agung Ketut Suryanegara, membenarkan adanya penindakan terhadap terduga manusia silver yang viral tersebut. Ia menyampaikan bahwa laporan awal diterima dari Komandan Regu Satpol PP BKO Kuta, Wayan Suantara.
Menurutnya, fenomena manusia silver di kawasan Kuta sejatinya bukan persoalan baru. Aktivitas mereka sudah cukup lama menjadi perhatian petugas karena kerap muncul di sejumlah titik persimpangan yang ramai kendaraan.

Ia menjelaskan bahwa pihak Satpol PP selama ini sudah berulang kali melakukan penertiban terhadap manusia silver, pengemis, gelandangan, hingga pengamen jalanan yang beroperasi di wilayah Badung. “Mereka tidak hanya diamankan, namun juga diberikan pembinaan dan dalam beberapa kasus dipulangkan ke daerah asal,” katanya dalam keterangan tertulis, Minggu 17 Mei 2026.

Namun demikian, keberadaan mereka disebut sering kembali muncul. Salah satu faktor yang memicu kondisi itu adalah masih adanya respons dari pengguna jalan yang memberikan uang ketika lampu merah menyala.
Fenomena ini membuat para pelaku terus berdatangan dan menjadikan persimpangan jalan sebagai lokasi yang dianggap potensial untuk memperoleh penghasilan.

Suryanegara menegaskan bahwa kasus kali ini berbeda dibanding penertiban sebelumnya. Jika biasanya penanganan hanya sebatas pembinaan dan penegakan ketertiban umum, maka membawa senjata tajam masuk dalam ranah pidana yang menjadi kewenangan aparat kepolisian.

Menurutnya, tindakan membawa pisau saat meminta-minta di jalan raya bukan hanya melanggar aturan ketertiban, tetapi juga menimbulkan ancaman serius terhadap keselamatan pengguna jalan. Aparat Satpol PP pun langsung menjalin koordinasi intensif dengan Polsek Kuta untuk memastikan proses penanganan berjalan sesuai aturan hukum yang berlaku.

Ia menegaskan bahwa kewenangan Satpol PP terbatas pada penertiban dan pembinaan sosial. Ketika ditemukan unsur pidana seperti kepemilikan atau penggunaan senjata tajam yang mengarah pada ancaman, maka proses hukum sepenuhnya menjadi domain kepolisian.

Meski terduga pelaku telah diamankan, Satpol PP Badung hingga kini masih menunggu hasil pendalaman dari pihak kepolisian terkait identitas lengkap yang bersangkutan. “Petugas juga belum dapat memastikan apakah pelaku merupakan individu yang sebelumnya pernah ditindak dan dibina oleh aparat atau merupakan pelaku baru,” ucapnya.

Hal itu cukup sulit dipastikan karena sebagian besar manusia silver menutupi hampir seluruh tubuh mereka dengan cat berwarna metalik, sehingga menyulitkan proses identifikasi secara visual. Selain itu, pola kemunculan manusia silver di wilayah Badung juga cenderung berubah-ubah. Para pelaku tidak selalu orang yang sama dan kerap berpindah lokasi dalam waktu tertentu.

Karena itulah, koordinasi lintas instansi dinilai sangat penting agar penanganan persoalan ini tidak hanya bersifat sementara, tetapi mampu memberikan efek jera. Satpol PP Badung juga meminta dukungan masyarakat agar tidak memberikan uang kepada manusia silver maupun pengemis jalanan. Respons semacam itu dinilai menjadi salah satu alasan mengapa aktivitas tersebut terus berlangsung.

Di sisi lain, kepolisian kini tengah mendalami motif pelaku membawa senjata tajam saat beraksi di persimpangan. Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan apakah pisau tersebut memang digunakan sebagai alat ancaman atau hanya dibawa tanpa tujuan tertentu. Meski begitu, fakta bahwa benda tajam itu sempat digunakan mengetuk kaca mobil telah memicu keresahan publik.

Kasus ini sekaligus menjadi pengingat bahwa penertiban terhadap aktivitas jalanan di kawasan wisata perlu dilakukan secara konsisten. Pemerintah daerah bersama aparat keamanan diharapkan terus menjaga ketertiban, keamanan, dan kenyamanan masyarakat maupun wisatawan yang melintas di kawasan strategis Kabupaten Badung. (MBP)

 

redaksi

Related post