Matangkan Persiapan Pentas di PKB XLVIII, Pakem Drama Gong Paguyuban DGL Diharapkan Jadi Percontohan

 Matangkan Persiapan Pentas di PKB XLVIII, Pakem Drama Gong Paguyuban DGL Diharapkan Jadi Percontohan

Pragina dan penabuh Paguyuban DGL matangkan persiapan pentas di PKB 2026.

DENPASAR – baliprawara.com
‎Penonton Pesta Kesenian Bali (PKB) akan kembali mendapat suguhan drama gong lawas, persembahan Paguyuban Drama Gong Lawas (DGL). DGL akan kembali menampilkan kesenian tradisional tersebut pada PKB XLVIII 2026, berlakon “Aji Grenggeng Maya”. Dipastikan pragina dan penabuh Paguyuban DGL tampil maksimal pada Kamis, 2 Juli 2026 malam di Gedung Ardha Candra, Taman Budaya Provinsi Bali, Art Center Denpasar.
‎
‎Menjelang tampil pada ajang pesta kesenian tahunan itu, Paguyuban DGL telah mematangkan persiapan,  salah satunya mengadakan pertemuan dengan seluruh kru  pregina dan perwakilan  penabuh pada Sabtu, 6 Juni  2026 di Puri  Gandapura, Jalan Gandapura, Denpasar.
‎Dalam pertemuan tersebut dibahas naskah drama dan evaluasi pentas terakhir di  Pura  Dalem Puri Peliatan agar penampilan DGL  bisa maksimal seperti PKB  sebelumnya. Melalui pembahasan dan evaluasi tersebut diharapkan DGL bisa dijadikan percontohan pakem drama gong bagi seniman-seniman drama gong  lainya.
‎
‎Ketua Paguyuban DGL AA Gede Oka Aryana, S.H., M.Kn. yang kesehariannya seorang notaris, didampingi Wakil Ketua DGL, Dewa Putu Kandel, S.Pd., M.Pd. dan
‎Sekretaris Pande Adi Asmara,
‎menyampaikan, DGL kembali diberikan kesempatan pentas di PKB. “Terimakasih kami haturkan kepada Pemprov Bali atas kesempatan dan kepercayaan yang diberikan kepada DGL untuk pentas drama gong di PKB 2026,” ujar AA Oka Aryana, Sabtu (6/6).
‎
‎Dalam pentas di PKB kali ini, DGL menampilkan lakon “Aji Grenggeng Maya” yang naskahnya disusun Ida Bagus Gede Mambal, dengan sutradara Jero Mangku Suyadnya, dan ide cerita AA Kartika, serta
‎pembina tabuh Ida Bagus Kartika.
‎
‎Dikisahkan, Aji Grenggeng Maya adalah ilmu gaib yang dimiliki oleh kedua istri raja dari Kerajaan Bhuwana Rajya.
‎Diah Ratnasari permaisuri pertama yang diusir dari Kerajaan karena fitnah, menelusuri gelapnya malam menuju hutan Waringin Sungsang. Ratapan tangis dan luka hati bersama sang bayi, memunculkan belas kasih sang penguasa kuburan serta memberi petunjuk agar menetap di Waringin Sungsang sebagai orang biasa. Kemudian diberi anugerah ilmu sakti yaitu Aji Grenggeng Maya.
‎
‎Permaisuri kedua sang raja yang bernama Diah Bedawati juga memiliki Aji Grenggeng Maya yang didapat dari nyeraya atau mohon kehadapan Sanghyang Kalika Maya, dengan tujuan agar bisa membungkam raja dan menguasai Kerajaan Bhuwana Rajya.
‎
‎Seiring berjalannya waktu, tiba saatnya Diah Ratna Sari sebagai orang biasa yang bernama Men Wangi mendapat kesempatan  membalas sakit hatinya untuk menghancurkan Kerajaan Bhuwana Rajya.  Kemudian, akhirnya dua kekuatan yang sama beradu dalam konflik kekuasaan dan dendam. (MBP2)
‎
‎
‎
‎
‎
‎
‎
‎

Redaksi

Related post