Membangun Bali Bukan Sekadar Membangun di Bali, Ini Makna dan Tanggung Jawab Bersama
Prof. Dr. I Made Arya Utama,SH.,M.Hum.
DENPASAR – baliprawara.com
Kondisi Bali saat ini menunjukkan perkembangan yang cukup positif dari sisi kehidupan masyarakat. Aktivitas ekonomi berjalan, kebutuhan keluarga dapat dipenuhi, dan kegiatan adat maupun keagamaan tetap berlangsung dengan khidmat serta meriah.
Upacara keagamaan yang rutin digelar menjadi gambaran kuatnya kehidupan sosial dan spiritual masyarakat Bali. Dalam situasi apa pun, warga tetap menjalankan kewajiban adat dan bakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa tanpa mengurangi makna dan kekhusyukannya.
Bagi sebagian orang luar, Bali bahkan terlihat stabil dan relatif aman dari gejolak ekonomi seperti inflasi atau resesi yang signifikan. Namun di balik gambaran tersebut, masih ada tantangan yang perlu dihadapi bersama.
Seperti yang disampaikan Prof. Dr. I Made Arya Utama,SH.,M.Hum., Guru Besar Fakultas Hukum Udayana, kesejahteraan di Bali belum dirasakan merata. Kemiskinan masih ditemukan, dan masih ada warga yang kesulitan mengakses pendidikan. Kondisi ini menjadi pengingat bahwa pembangunan tidak boleh hanya dilihat dari permukaan. “Karena itu, muncul penekanan pada pentingnya membangun Bali, bukan sekadar membangun di Bali. Perbedaan istilah ini dinilai memiliki makna yang sangat mendalam,” katanya, Minggu 15 Februari 2026.
Lebih lanjut dikatakan, membangun di Bali sering kali hanya berorientasi pada pembangunan fisik dan kepentingan ekonomi semata. Sementara membangun Bali kata dia, menuntut kesadaran kolektif untuk menjaga sumber kehidupan, budaya, dan nilai spiritual yang menjadi identitas Pulau Dewata.
“Bali tidak hanya hidup dari aspek pragmatis atau sekala, tetapi juga dari nilai-nilai niskala yang diwariskan turun-temurun. Keseimbangan inilah yang melahirkan taksu Bali dan membuatnya dikenal hingga mancanegara.,” terangnya.
Daya tarik Bali kata dia, bukan semata keindahan alamnya. Rasa nyaman dan aman yang dirasakan wisatawan menjadi nilai lebih yang membedakannya dari daerah lain. Faktor ini tidak lepas dari kehidupan spiritual dan kebersamaan masyarakatnya.
Pariwisata sebagai sumber pendapatan utama Bali juga bersifat rentan. Gangguan terhadap citra dan kepercayaan wisatawan dapat berdampak besar pada perekonomian daerah.
“Karena itu, semua pihak yang memiliki keterkaitan dengan Bali, termasuk pelaku usaha, didorong untuk turut berkontribusi. Partisipasi melalui program tanggung jawab sosial perusahaan menjadi salah satu bentuk kepedulian yang diharapkan,” katanya menambahkan.
Tak hanya itu, pemerintah juga memiliki tanggung jawab tidak hanya dalam regulasi, tetapi juga dalam pembinaan dan pendampingan masyarakat. Salah satu isu yang kini menjadi perhatian adalah persoalan sampah yang berpotensi mencoreng citra pariwisata Bali.
Penanganan sampah memerlukan kerja sama dari hulu hingga hilir. Pemilahan, pengurangan, dan pengolahan harus dilakukan secara konsisten agar wajah Bali tetap bersih dan nyaman. “Kesadaran masyarakat menjadi kunci utama. Jika bukan masyarakat yang menjaga lingkungannya sendiri, maka keberlanjutan Bali akan sulit terwujud,” ucapnya.
Membangun Bali kata dia, berarti menghadirkan rasa memiliki dan tanggung jawab bersama. Jika Bali rusak, dampaknya akan dirasakan oleh seluruh pihak yang menggantungkan hidupnya di pulau ini.
“Karena itu, membangun Bali bukan hanya soal infrastruktur, melainkan menjaga budaya, lingkungan, dan kebersamaan. Inilah esensi yang perlu terus dijaga demi keberlanjutan Bali untuk generasi mendatang,” tegasnya. (MBP)