Memulai Masa Bercocok Tanam, Desa Pecatu Gelar Ritual Mendak Hujan

 Memulai Masa Bercocok Tanam, Desa Pecatu Gelar Ritual Mendak Hujan

Sejumlah krama Desa Adat Pecatu, Kuta Selatan, mengikuti ritual mendak hujan, di pantai Labuan Sait, Kamis (4/11).

MANGUPURA – baliprawara.com

Ratusan warga Desa Adat Pecatu, Kuta Selatan, Badung, Bali,  Kamis 4 November 2021 memadati kawasan pantai Labuan Sait, untuk mengikuti pemelastian prosesi mendak hujan atau memohon hujan. Upacara ini menjadi tradisi unik karena dalam setahun, Desa Adat Setempat melaksanakan Upacara Melasti sebanyak dua kali. Pertama saat mendekati Tahun Baru Caka dan prosesi melasti untuk mendak hujan. Pada prosesi ini, puluhan warga terlihat mengalami ketedunan Ida Batara, sembari menancapkan keris ke bagian tubuh mereka.

Melasti mendak hujan ini, merupakan tradisi yang sudah berlangsung secara turun temurun, yang digelar setiap tahunnya, bertepatan pada hari Tilem Kalima menurut kalender Bali. Sebelumnya, ratusan warga Pecatu memulai prosesi dengan berjalan dari pura Desa menuju pantai Labuan sait.

Bendesa Adat Pecatu, I Made Sumerta menyampaikan kalau ritual ini digelar pada penghujung musim kemarau atau lebih tepatnya pada Tilem Sasih Kelima kalender Bali. Ritual ini menurutnya, rutin digelar untuk menandai sebelum memulai masa bercocok tanam di Desa. Meskipun kata dia, sebelum prosesi digelar, hujan sudah turun, namun prosesi ini akan tetap digelar setiap tahunnya. “Setelah prosesi ini selesai, sehari setelahnya barulah dimulai untuk bercocok tanam,” kata Sumerta yang juga Ketua Komisi IV DPRD Badung. 

[quads id=1]

 

Diceritakan Sumerta, untuk prosessinya diawali dengan melaksanakan ritual ungkap lawang atau membuka pintu niskala di Pura Dalem Selonding, Pecatu. Kemudian pada saat di pantai Labuan Sait, juga digelar prosesi nedunang Ida Batara yang bertujuan untuk menanyakan apakah upacara ini benar dilaksanakan atau tidak. Selain itu juga meminta petunjuk apa kira-kira kekurangannya. “Astungkara tadi karena prosesi ngungkap lawang di Pura Dalem Selonding, sudah ada aci, dan mecaru sudah dilaksanakan, sehingga tadi sudah diterima dengan baik,” katanya menyampaikan. 

See also  Samsung Hadirkan Jajaran Smart TV 2022 untuk Segala Aktivitas Tanpa Batas

Lebih lanjut Sumerta menjelaskan, upacara melasti tersebut telah lama dilaksanakan. Bahkan ia tidak mengetahui secara pasti kapan pertama kali dilaksanakan tradisi ini. “Sudah sejak tahun tidak enak mungkin sudah saat dilaksanakan. Ini uniknya desa kami biasanya melasti dilaksanakan menjelang Hari Raya Nyepi, tapi kami melaksanakan melasti sebanyak dua kali dalam setahunnya,” bebernya.

Dalam pelaksanaan Melasti Mendak Hujan, akan dilaksanakan aci tabuh rah diaturkan di Pura Dalem, perempatan catus pata, dan perempatan Durga. Aci tabuh rah ini dilaksanakan sampai akhirnya masyarakat Desa Adat Pecatu melaksanakan kembali Melasti Kesanga. “Itu kami laksanakan kira-kira selama tiga bulan, pada saat kajeng kliwon dan saat hari dengan pancawara wage. Jadi nanti tempatnya berpindah-pindah. tabuh rah digelar sebanyak telung saet, dengan mengajukan permakluman ke pihak kepolisian dan tidak diperbolehkan adanya perjudian,” ucapnya. (MBP1)

[quads id=1]

 

redaksi

Related post