Mengolah Limbah Upacara Jadi Bernilai, Inovasi Mai Organic Sabet Citra Karya Raksita 2026

 Mengolah Limbah Upacara Jadi Bernilai, Inovasi Mai Organic Sabet Citra Karya Raksita 2026

Kadek Kamardiyana, petani muda sekaligus pendiri komunitas Mai Organic, menerima penghargaan dari Bupati Gianyar, I Made Mahayastra. (ist)

GIANYAR – baliprawara.com
Pengolahan limbah upacara keagamaan menjadi pakan ternak oleh komunitas Mai Organic berhasil menyabet penghargaan bergengsi dari Bupati Gianyar. Kadek Kamardiyana, petani muda sekaligus pendiri komunitas Mai Organic, menerima penghargaan dari Bupati Gianyar, I Made Mahayastra, dalam ajang Anugerah Citra Karya Raksita 2026, di alun-alun Kota Gianyar, Minggu 19 April 2026, bertepatan dengan peringatan HUT ke-255 Kota Gianyar.

Berkat pengembangan pakan fermentasi berbahan limbah upacara, Kamardiyana meraih penghargaan Citra Karya Raksita 2026 sebagai Terbaik Inovasi Bidang Kelautan dan Perikanan. Pada kategori ini, hanya satu inovator yang terpilih, dan Kamardiyana dinilai unggul dari sisi kematangan konsep hingga pemaparan inovasi.

Namun capaian ini tidak lahir dalam waktu singkat. Jauh sebelum inovasi pakan fermentasi dikenal, Kamardiyana telah lebih dulu menanam fondasi melalui komunitas Mai Organic yang dibentuk sejak 2016. Berawal dari keinginan menjaga pertanian tradisional dan organik, komunitas ini tumbuh menjadi ruang kolaborasi bagi petani muda di Pejeng.

Dari Mai Organic Farm yang berlokasi di Banjar Panglan, Desa Pejeng, Kecamatan Tampaksiring, sistem pertanian terintegrasi mulai dibangun. Pihaknya menggabungkan pertanian, peternakan, dan perikanan dalam satu siklus yang saling mendukung, bahkan dipadukan dengan konsep pariwisata berbasis edukasi.

Ujian datang saat pandemi Covid-19. Biaya pakan ternak yang melonjak menjadi tekanan nyata bagi keberlanjutan usaha. Di tengah situasi itu, Kamardiyana tidak memilih jalan instan. Ia justru menoleh pada potensi yang ada di sekitarnya.

Limbah upacara keagamaan, seperti penek, yang selama ini belum dimanfaatkan optimal, menjadi titik awal eksperimen. Melalui proses fermentasi dengan prebiotik alami, limbah tersebut diolah menjadi pakan alternatif.
Hasilnya tidak hanya menekan biaya produksi, tetapi juga membawa perubahan pada kualitas lingkungan. Ayam menyukai pakan ini dan areal kandang juga tidak bau.

See also  Penerimaan Mahasiswa Baru Jalur Mandiri, PNB Lakukan Tes Bakat Skolastik 

Inovasi ini kemudian berkembang melampaui sektor peternakan. Pakan fermentasi dimanfaatkan sebagai tambahan dalam budidaya lele, memperkuat konsep pertanian terpadu yang sudah lebih dulu dibangun. Dipadukan dengan sistem hidroganik dan pertanian organik, kawasan Mai Organic kini menjadi ekosistem berkelanjutan sekaligus ruang belajar dan rekreasi.

Bagi Kamardiyana, inovasi bukan sekadar soal menemukan hal baru, melainkan bagaimana memaksimalkan apa yang sudah ada di sekitar. “Dari limbah yang kerap diabaikan, lahir solusi yang memberi manfaat ekonomi sekaligus menjaga lingkungan,” kata Kelian Banjar Dinas Panglan ini.

Atas pencapaian tersebut, Bupati Gianyar, I Made Mahayastra mendorong agar inovasi ini terus dikembangkan dan diperluas. Harapannya, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh komunitas, tetapi juga masyarakat luas, sekaligus menjadi inspirasi lahirnya terobosan baru. (MBP)

 

prawarautama

Related post