Mesti Dijadikan Mitra Kolaboratif, Penggunaan AI  Melambung Tak Terbendung

 Mesti Dijadikan Mitra Kolaboratif, Penggunaan AI  Melambung Tak Terbendung

Narasumber dan moderator sarasehan Festival Seni Bali Jani VIII 2026, Rabu (22/7/2026).

‎DENPASAR – baliprawara.com
‎Artificial Intelligence (AI) atau
‎Kecerdasan buatan telah membuka beragam peluang baru bagi para seniman, desainer dan sastrawan untuk menghasilkan karya dinamis dan inovatif. Penggunaan AI kian melambung dan tak terbendung. Namun, di balik itu, kehadirannya dalam seni menimbulkan perdebatan yang menarik tentang hak cipta, kreativitas, originalitas, etika dan peran seniman dalam seni. Karena itu AI selayaknya digunakan sebagai alat kreatif atau mitra kolaboratif untuk menghasilkan karya seni.
‎
‎Hal itu mengemuka dalam Sarasehan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII tahun 2026 yang bertopik: Karya Seni di Era Kecerdasan Buatan-AI  (Kolaborasi dan Etika) di Taman Budaya Provinsi Bali, Rabu (22/7/2026).
‎
‎Sarasehan tersebut menghadirkan narasumber Guru Besar FIB Unud Prof. Dr.  I Nyoman Darma Putra, M. Litt. dan Guru Besar ISI Bali, Prof. Dr. Anak Agung Gde Bagus Udayana, S.Sn., M.Si., dipandu jurnalis Drs.  I Made Subrata.
‎
‎Prof. Darma Putra menyampaikan, dalam konteks penciptaan karya sastra, seperti novel dan cerita pendek, penggunaan AI
‎sering mendapat prasangka, sinisme, pesimisme, dan cibiran sebagai bentuk plagiarisme.
‎Respons ini terasa logis karena taruhan kualitas karya sastra terletak pada orisinalitas.
‎Memang, AI tidak dapat menggantikan manusia dalam banyak hal, khususnya dalam rasa, estetika, dan identitas bahasa, tetapi fakta menunjukkan penggunaan AI sudah kian melambung dan tidak terbendung.
‎
‎Lembaga-lembaga pendidikan, jurnal, dan badan lainnya telah mengintegrasikan teknologi AI ke dalam pendidikan, dengan tetap mengutamakan respek pada hak kekayaan intelektual dan mencegah plagiasi.
‎
‎Ditegaskan, dalam konteks proses kreatif penciptaan karya sastra, AI memiliki kemiripan tugas dengan editor atau penyunting (proofreader).
‎Boleh dikatakan bahwa “AI adalah
‎editor masa kini, sedangkan editor adalah AI masa lalu”. Tentu saja peran AI dan editor tidak tergantikan satu sama lain.
‎
‎Antara tugas editor dan AI banyak bedanya, tetapi arsiran kesamaan juga nyata adanya. Untuk mengecek ejaan, misalnya, AI bisa melakukannya dengan super cepat, sementara editor perlu waktu lama dan kadang masih ada kesalahan.
‎
‎Kata Prof.  Darma Putra, pemakaian AI bisa dilacak dengan teknologi, tetapi kolaborasi editor dengan pengarang atau ‎sebaliknya berlangsung di balik layar dan tidak terlacak karena adat dan etik kerja demikian yang sudah menjadi kelaziman.
‎
‎Seberapa banyak pun kontribusi editor dan penyunting selaku kolaborator, statusnya akan tetap sebagai “editor”, apalagi memang itu tugasnya sebagai ‎profesional yang bekerja untuk penerbit.
‎
‎Posisi editor sebagai subordinasi seperti sudah berterima dalam metafora editor sebagai bidan: kalau pengarang adalah ibu yang melahirkan bayi, bidan adalah yang membantu kelancaran proses melahirkan.
‎
‎Absennya atau salahnya pertolongan dari bidan, bisa saja berakibat fatal bagi bayi dan ibundanya. Ketika buku menjadi terkenal, best seller, yang terkenal adalah pengarang, dialah sang ibu yang melahirkan, bukan bidan yang membantu melahirkan.
‎
‎Dalam tradisi kontribusi editor dan atau penyunting dalam proses menulis, kehadiran AI sebagai alat (tool) atau kolaborator seyogianya didudukkan dengan tepat, bukan ditolak atau ‎ditatap dengan pesimisme penuh prasangka.
‎
‎Masalahnya bukan pada seberapa jauh
‎penggunaan AI dan peran editor dalam proses kreatif dan penyuntingan, tetapi pada integritas dan kejujuran intelektual penulis.
‎
‎Selain berperan sebagai editor, AI juga dapat menjadi kolaborator kreatif yang mendampingi penulis dalam menggali ide, mengeksplorasi berbagai kemungkinan alur, serta memberikan ‎umpan balik secara cepat selama proses penulisan.
‎
‎Dengan kemampuannya menganalisis
‎plot, merampingkan narasi, dan mengidentifikasi bagian-bagian yang memerlukan penguatan—fungsi yang mengingatkan pada praktik penyuntingan legendaris Maxwell Perkins—AI layak dipandang sebagai mitra kolaboratif yang valid dalam proses kreatif.
‎
‎Meskipun demikian, AI tetap tidak dapat sepenuhnya menggantikan pertimbangan artistik, intuisi, dan sensitivitas budaya yang dimiliki editor maupun pengarang.

Inovasi yang Bermanfaat
‎‎
‎Oleh karena itu, kehadiran AI tidak semestinya disikapi dengan pesimisme, sinisme, atau semata-mata dikaitkan dengan plagiarisme dan ancaman terhadap kreativitas.
‎
‎Sebaliknya, secara dekonstruktif, AI perlu dipahami sebagai inovasi yang menawarkan banyak manfaat bagi dunia kepenulisan, antara lain meningkatkan efisiensi, memperluas eksplorasi kreatif,
‎mempercepat proses revisi, serta membantu penulis dan editor menghasilkan karya yang
‎lebih matang.
‎
‎”Nilai AI tidak ditentukan oleh teknologinya sendiri, melainkan oleh cara manusia menggunakannya secara bertanggung jawab, etis, dan transparan sebagai sarana untuk memperkuat, bukan menggantikan, kreativitas, daya kritis, dan penilaian manusia, ” pungkas Prof.  Darma Putra.
‎

Kurator, narasumber, moderator foto bersama peserta sarasehan FSBJ 2026.

‎Hal senada disampaikan, Prof. Anak Agung Gde Bagus Udayana. Menurutnya, kecerdasan buatan atau AI telah membawa perubahan mendasar dalam dunia seni dan desain.
‎
‎Perkembangan era revolusi industri berfungsi sebagai alat bantu produksi, pada era AI teknologi telah berkembang menjadi mitra kreatif yang menghasilkan teks, gambar, video, musik, dan  animasi secara mandiri berdasarkan algoritma dan data.
‎
‎AI telah mengubah cara seniman dan desainer menciptakan karya, sekaligus memunculkan perdebatan mengenai batas antara kreativitas manusia dan kemampuan komputasional mesin.
‎Seni atau desain berbasis kecerdasan buatan merepresentasikan fase baru ‎dalam perkembangan budaya visual kontemporer.
‎
‎Inovasi menghadirkan tantangan terhadap konsep orisinalitas, kepenciptaan, dan etika kreatif yang telah lama menjadi fondasi praktik seni
‎dan desain.
‎
‎Keberhasilan AI dalam seni atau desain ditentukan oleh para seniman, desainer, akademisi, dan pembuat kebijakan untuk membangun kerangka ‎etika yang mampu menjaga keseimbangan antara inovasi teknologi dan nilai keindahan.
‎
‎”Dengan demikian, AI seharusnya dipahami sebagai mitra kolaboratif yang
‎memperluas kemungkinan penciptaan dan pemaknaan dalam seni atau
‎desain kontemporer,” ujar Prof. Agung Udayana yang Wakil Rektor Bidang Akademik dan Sistem Informasi ISI Bali. (MBP2)
‎
‎
‎
‎

Redaksi

Related post