Narasi “Bali Sepi” Dinilai Keliru

 Narasi “Bali Sepi” Dinilai Keliru

I Ketut Susila

DENPASAR – baliprawara.com
Narasi “Bali sepi” yang belakangan kerap muncul di ruang publik dinilai tidak hanya keliru, tetapi juga berpotensi memicu sentimen negatif bernuansa rasis terhadap wisatawan Nusantara. Pandangan tersebut dianggap mencerminkan cara berpikir sempit dan tidak sejalan dengan semangat membangun pariwisata nasional secara kolektif.

Hal itu disampaikan I Ketut Susila, pelaku pariwisata sekaligus anggota Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) Bali Divisi Domestik. Menurutnya, pariwisata Indonesia saat ini justru tengah bergerak maju dengan banyak destinasi yang menunjukkan perkembangan signifikan.

“Yogyakarta terus berbenah, Lombok berkembang pesat, Labuan Bajo naik kelas, Raja Ampat mendunia. Ini adalah capaian yang patut dibanggakan bersama, bukan malah dibandingkan secara tidak sehat dengan Bali,” ujar Ketut Susila, mantan pengurus HPI Divisi Domestik itu, Minggu (28/12).

Ia menegaskan, Bali selama puluhan tahun telah menjadi etalase pariwisata Indonesia di mata dunia. Fakta menunjukkan, sekitar 44 persen devisa pariwisata nasional berasal dari Bali, dan kontribusi tersebut disetorkan ke pusat tanpa gaduh, tanpa tuntutan berlebihan, serta tetap dalam bingkai loyalitas terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ketut Susila juga menyoroti narasi “Bali sepi” yang kerap dibarengi stigma terhadap wisatawan domestik. Ia menilai hal itu sangat tidak tepat, karena wisatawan Nusantara bukanlah tamu asing di negeri sendiri.

“Mereka datang ke Bali sebagai bagian dari Indonesia yang sama. Seharusnya disambut dengan rasa memiliki dan tanggung jawab bersama untuk menjaga citra pariwisata nasional, bukan justru diberi label negatif,” tegasnya.

Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa persaingan pariwisata dengan cara menjelekkan daerah lain bukanlah persaingan sehat. Justru, sikap tersebut berpotensi merusak citra pariwisata Indonesia secara keseluruhan di mata dunia.

See also  Prodi Teknik Sipil Rancang Ulang Struktur Kantor Desa Bontihing

“Indonesia tidak kekurangan destinasi unggulan. Tantangannya bukan saling sikut antarwilayah, melainkan bagaimana bersatu dan naik kelas di tingkat global,” katanya.

Ia pun mengajak seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat untuk membangun narasi pariwisata yang dewasa, inklusif, dan penuh solidaritas. Sebab, kemajuan satu daerah sejatinya adalah kemenangan bagi Indonesia secara utuh.

“Ketika Bali maju, Jogja berkembang, dan destinasi lain bersinar, Indonesia-lah yang menang,” pungkas Ketut Susila.(MBP2/r)

Redaksi

Related post