Pementasan dan Pengumuman Juara Tari Maskot, Tutup Rangkaian Festival Budaya Ulun Danu Beratan dan The Blooms Bali
TABANAN – baliprawara.com
Rangkaian Festival Budaya Ulun Danu Beratan dan The Blooms Bali, resmi berakhir. Event yang menjadi bagian dari perayaan akhir tahun ini resmi ditutup pada Minggu, 4 Januari 2025, di The Blooms Bali, setelah berlangsung selama kurang lebih 15 hari sejak dibuka pada 20 Desember 2025.
Festival ini digelar sebagai pelengkap suasana libur panjang Natal dan Tahun Baru, sekaligus menjadi wadah promosi seni budaya Bali yang melibatkan desa-desa adat di sekitar kawasan Daya Tarik Wisata (DTW) Ulun Danu Beratan. Selama penyelenggaraan, festival menyuguhkan beragam pertunjukan seni tradisional maupun kreasi baru yang mencerminkan kekayaan budaya lokal.
Berbagai pementasan seni ditampilkan secara bergantian, mulai dari Tari Tradisional Bali, tari-tari kreasi, Tari Kecak, hingga Tari Barong. Seluruh pertunjukan tersebut disajikan di dua lokasi utama, yakni di kawasan Daya Tarik Wisata (DTW) Ulun Danu Beratan dan area The Blooms Bali yang dikenal sebagai destinasi wisata taman bunga.
Penutupan Festival Budaya Ulun Danu Beratan dan The Blooms Bali berlangsung khidmat dan meriah. Acara penutupan ditandai dengan pemukulan gong sebagai simbol berakhirnya rangkaian festival oleh Direktur Utama PT Ulun Danu Beratan Lestari selaku manajemen DTW Ulun Danu Beratan, I Wayan Mustika, didampingi jajaran manajemen terkait.
Prosesi penutupan festival dipusatkan di kawasan The Blooms Bali, dengan menyuguhkan pementasan empat besar hasil lomba tari maskot yang diikuti oleh perwakilan desa adat. Setiap desa menampilkan karya terbaiknya sebagai wujud kreativitas sekaligus pelestarian seni budaya lokal.
Selain pementasan tari, pada momentum penutupan ini juga dilakukan penyerahan dana pembinaan kepada desa-desa adat yang telah berpartisipasi. Dana tersebut diberikan sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan seni dan budaya di tingkat desa, sekaligus apresiasi atas keterlibatan aktif masyarakat adat dalam menyukseskan festival.
Kegiatan ini menjadi penutup rangkaian panjang festival yang selama dua pekan lebih telah menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, yang berkunjung ke kawasan Danau Beratan dan sekitarnya.
Direktur Utama PT Ulun Danu Beratan Lestari, I Wayan Mustika, menyampaikan bahwa penyelenggaraan Festival Budaya Ulun Danu Beratan dan The Blooms Bali memiliki tujuan utama untuk mengangkat potensi budaya yang dimiliki masing-masing gebog atau desa adat.
“Melalui festival ini, setiap desa diberikan ruang untuk menampilkan kekhasan seni budaya mereka, khususnya dalam bentuk tari maskot yang menjadi identitas desa. Dengan demikian, budaya lokal tidak hanya dipentaskan, tetapi juga diperkenalkan kepada publik yang lebih luas,” katanya.
Ia juga menjelaskan bahwa pementasan budaya tersebut diharapkan mampu menarik minat wisatawan untuk berkunjung. Dengan meningkatnya kunjungan wisatawan, diharapkan dapat berdampak positif terhadap pendapatan DTW Ulun Danu Beratan maupun The Blooms Bali sebagai destinasi wisata unggulan di Kabupaten Tabanan.
Lebih lanjut, pihak manajemen berharap ke depannya seluruh desa dapat berpartisipasi dalam kegiatan festival budaya. Menurutnya, keterlibatan desa adat secara menyeluruh akan memperkaya ragam pertunjukan sekaligus memperkuat upaya pelestarian tradisi budaya Bali.
I Wayan Mustika juga menyebutkan bahwa pada tahun 2026 ini, manajemen berencana kembali mengangkat kegiatan berbasis budaya. Langkah ini dilakukan sebagai upaya berkelanjutan untuk memperkuat tradisi yang telah ada dan menjaga eksistensi budaya Bali di tengah perkembangan pariwisata.
“Budaya, menjadi salah satu daya tarik utama kawasan Danau Beratan selain keindahan alam dan taman bunga yang ada di The Blooms Bali. Oleh karena itu, sinergi antara budaya, alam, dan pariwisata terus diupayakan agar saling mendukung,” ucapnya.

Sebagai bagian dari rangkaian festival, lomba tari maskot menjadi salah satu agenda yang paling dinantikan. Lomba ini diikuti oleh perwakilan desa adat yang menampilkan karya tari dengan konsep maskot khas desa masing-masing.
Adapun hasil lomba tari maskot dalam Festival Budaya Ulun Danu Beratan dan The Blooms Bali adalah sebagai berikut:
Juara pertama diraih oleh Desa Adat Candikuning dengan karya tari maskot berjudul Tari Rejang Candimas. Karya ini dinilai mampu menampilkan kekuatan tradisi dengan balutan estetika yang kuat.
Juara kedua diraih oleh Desa Adat Kembang Merta melalui karya tari maskot berjudul Tari Amerta Danu. Tarian ini mengangkat unsur air dan kesuburan yang menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat setempat.
Juara ketiga diraih oleh Desa Adat Batusesa dengan karya Tari Maskot Tri Upa Sedana. Karya ini menonjolkan nilai-nilai keharmonisan dan keseimbangan dalam budaya Bali.
Sementara itu, juara harapan pertama diraih oleh Banjar Bayan dengan karya tari maskot berjudul Pande Karya Natha. Karya ini turut mendapat apresiasi atas kreativitas dan pesan budaya yang disampaikan.
Dengan berakhirnya Festival Budaya Ulun Danu Beratan dan The Blooms Bali, diharapkan semangat pelestarian budaya serta kolaborasi antara desa adat dan pengelola destinasi wisata dapat terus terjaga dan berkembang di tahun-tahun mendatang. (MBP)