Perayaan Tumpek Kandang di DTW Uluwatu, Sebagai Wujud Syukur dan Upaya Pelestarian Satwa

 Perayaan Tumpek Kandang di DTW Uluwatu, Sebagai Wujud Syukur dan Upaya Pelestarian Satwa

Perayaan Tumpek Kandang di DTW Uluwatu jadi daya tarik wisatawan.

MANGUPURA – baliprawara.com
Perayaan Tumpek Kandang kembali dilaksanakan di kawasan Daya Tarik Wisata (DTW) Uluwatu, Sabtu 7 Februari 2026, sebagai bagian dari tradisi keagamaan yang rutin digelar setiap enam bulan sekali. Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi pengelola kawasan untuk terus melakukan pembenahan, baik dari sisi pelaksanaan upacara, pelibatan pelaku usaha lokal, hingga peningkatan perhatian terhadap satwa yang hidup di kawasan DTW Uluwatu.

Upacara ini, bahkan menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan yang berkunjung. Hal ini terlihat selama prosesi dilaksanakan, wisatawan memadati area untuk menyaksikan secara langsung upacara ini.

Dalam pelaksanaannya, pengelola DTW Uluwatu terus meningkatkan kualitas persembahan, salah satunya melalui gebogan yang digunakan dalam upacara. Persembahan tersebut tidak hanya memiliki makna religius, tetapi juga dimanfaatkan sebagai media untuk melibatkan pelaku UMKM serta distributor yang selama ini memberikan dukungan terhadap pengelolaan kawasan wisata.

Tujuan utama dari pelaksanaan Tumpek Kandang ini adalah sebagai bentuk rasa syukur dan upaya pelestarian satwa. Rasa syukur tersebut ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kepada lingkungan sekitar khususnya satwa yang hidup di kawasan Uluwatu, serta kepada sesama manusia yang terlibat dalam aktivitas di DTW Uluwatu.

Manajer Pengelola DTW Uluwatu, Wayan Wijana, menyampaikan bahwa, konsep Tumpek Kandang tidak hanya ditujukan kepada satu jenis satwa saja, melainkan kepada seluruh hewan. Namun, karena kawasan Uluwatu didominasi oleh kawanan monyet, maka perhatian khusus diberikan kepada satwa tersebut sebagai bagian dari penghormatan dan pelestarian.

Tumpek Kandang, yang juga dikenal sebagai Tumpek Uye, kata dia, merupakan upacara keagamaan umat Hindu yang bertujuan untuk memberikan penghormatan kepada seluruh satwa. Dalam konteks DTW Uluwatu, monyet menjadi satwa yang paling dominan dan mendapat perhatian utama dalam pelaksanaan upacara ini.

See also  Penyesuaian Tarif Tol Bali Mandara Mulai Diberlakukan 27 April 2024, Berikut Rinciannya

Pihaknya menyebutkan bahwa monyet-monyet yang ada di Uluwatu dilestarikan dan dipelihara dengan baik. Satwa tersebut dijadikan sebagai aset daya dukung yang berperan penting dalam pengembangan kawasan wisata. “Selain monyet, terdapat juga satwa lain seperti kijang yang berada di sisi utara kawasan dan turut mendapatkan perlakuan upacara serupa,” kata Wijana saat ditemui usai prosesi.

Lebih lanjut dikatakan, untuk habitat monyet di kawasan luar Pura Luhur Uluwatu, tercatat jumlah populasi mencapai sekitar 650 ekor. Pengelola DTW Uluwatu kata dis, secara rutin melakukan pengecekan terhadap kondisi satwa, mulai dari aspek sanitasi lingkungan hingga kesehatan masing-masing monyet.

“Perhatian khusus diberikan untuk memastikan monyet-monyet tersebut tetap sehat dan terawat. Pemeriksaan kesehatan dilakukan secara berkala, termasuk pemantauan kondisi fisik dan pencegahan penyakit yang berpotensi mengganggu keseimbangan ekosistem di kawasan wisata,” terangnya.

Harapannya, monyet-monyet yang ada di Uluwatu dapat terus menjadi daya dukung dan memberikan kontribusi positif terhadap keberlangsungan DTW Uluwatu sebagai salah satu destinasi wisata unggulan di Bali.

Dalam keseharian, monyet-monyet di kawasan Uluwatu tetap mendapatkan pakan secara rutin. Pemberian makanan dilakukan tiga kali sehari, yakni pada pagi, siang, dan sore hari. Meskipun Tumpek Kandang hanya dilaksanakan enam bulan sekali, perhatian terhadap kebutuhan satwa tetap berjalan setiap hari.

Makanan dan nutrisi yang diberikan kepada monyet tidak dilakukan secara sembarangan. Seluruh jenis pakan telah melalui analisa dan disesuaikan dengan rekomendasi dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana. Kerja sama ini dilakukan untuk memastikan asupan nutrisi yang diberikan sesuai dengan kebutuhan kesehatan satwa.

Wijana juga menyebutkan bahwa alokasi anggaran terbesar dalam pengelolaan kawasan, salah satunya digunakan untuk kebutuhan makanan monyet. Hal tersebut dilakukan untuk memastikan rasa aman dan nyaman, baik bagi satwa maupun bagi pengunjung yang datang ke kawasan wisata.

See also  Raih Dua Penghargaan Bergengsi, Manajemen DTW Uluwatu Beri Apresiasi Karyawan Terbaik saat Gathering Internal

Selain pemberian pakan, monyet-monyet di Uluwatu juga mendapatkan perawatan kesehatan secara berkala. Dalam kurun waktu tiga hingga enam bulan, dilakukan pemeriksaan kesehatan menyeluruh, termasuk pemotongan taring dan pengecekan kondisi fisik untuk mencegah potensi penyakit.

Pengelola memastikan bahwa seluruh proses perawatan dilakukan secara terukur dan sesuai dengan standar kesehatan satwa. Bahkan, monyet-monyet yang ada, telah memiliki sertifikat bebas rabies, sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan lingkungan dan pengunjung.

Tumpek Kandang telah menjadi agenda rutin yang dilaksanakan setiap enam bulan sekali di DTW Uluwatu. Ke depan, diharapkan pelaksanaan upacara ini dapat terus berjalan dengan dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Badung, mengingat kegiatan ini telah menjadi salah satu event tahunan yang konsisten dilakukan. Dukungan tersebut diharapkan dapat memperkuat pelaksanaan upacara sekaligus mendukung upaya pelestarian satwa dan lingkungan di kawasan Uluwatu.

Terkait dengan kunjungan wisatawan, pengelola mencatat bahwa tren kunjungan pada tahun 2026 menunjukkan perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada tahun 2025, jumlah kunjungan tercatat mengalami penurunan sekitar 1 persen dibandingkan 2024, dengan total kunjungan sekitar 97 ribu wisatawan.
Penurunan tersebut didominasi oleh berkurangnya kunjungan domestik, yang diduga dipengaruhi oleh faktor cuaca ekstrem dan bencana alam di beberapa wilayah Indonesia. Meski demikian, secara keseluruhan jumlah kunjungan masih menunjukkan angka yang signifikan.

Memasuki tahun ini, rata-rata kunjungan harian telah mencapai sekitar 4 ribu orang, bahkan sempat menyentuh angka 5 ribu pengunjung pada awal tahun. Kondisi tersebut dipengaruhi oleh nuansa liburan dan perayaan tahun baru yang turut mendukung peningkatan jumlah wisatawan.

Ke depan, pengelola berharap tren positif ini dapat terus berlanjut hingga tahun 2026 dan memberikan kontribusi yang baik bagi pengembangan DTW Uluwatu secara berkelanjutan. (MBP)

See also  Vaksinasi Tuntas, DTW Uluwatu Siap Menyambut Kunjungan Wisatawan Internasional

 

redaksi

Related post