Perupa Sutawijaya Hadirkan Sangkring Bali di Angseri, Art Space Kedua Setelah Yogyakarta

 Perupa Sutawijaya Hadirkan Sangkring Bali di Angseri, Art Space Kedua Setelah Yogyakarta

Putu Sutawijaya

TABANAN – baliprawara.com
‎Angseri, salah satu desa di Kecamatan Baturiti, Tabanan, Bali, selain  dikenal dengan hutan bambunya yang asri, juga kaya sumber air panas alami. Berudara sejuk di kaki Bukit Adeng, kini di ujung barat laut Desa Angseri  sedang dibangun art space yang dinamai Sangkring  Bali. Pendirinya adalah perupa asal desa setempat, Putu Sutawijaya. Ini merupakan  art space kedua Putu Sutawijaya, setelah Sangkring Art Space Yogyakarta yang didirikan tahun 2007.

‎Putu Leong, demikian ia akrab dipanggil, sejak tahun 2022 lalu membangun Sangkring Bali secara bertahap di atas lahan 50 are.  Tempat itu dulunya lahan bekas budidaya tanaman vanili, kini difungsikan untuk bangunan galeri dilengkapi 20 ruang pamer berukuran besar,  ruang  berkarya, dan sejumlah ruang residensi bagi seniman dan wisatawan yang ingin menikmati suasana alam yang asri sambil berkarya. Saat ini Sangkring Bali sedang tahap pengerjaan bangunan penunjang. Akhir tahun 2026 ini ditargetkan bisa dibuka untuk umum, dengan agenda utama pameran senirupa dan kegiatan seni lainnya.

‎Sangkring Bali berdiri di kawasan agak tinggi dikelilingi pepohonan yang rindang. Gugusan gunung di sebelah utara tampak dekat  terlihat.  Demikian juga kawasan Bali  Selatan terlihat benderang dari lantai atas bangunan Sangkring Bali. Sebelah timur Sangkring Bali merupakan kawasan hutan bambu yang amat dilestarikan desa adat setempat.

‎”Cita-cita mendirikan art space yang representatif di Bali, saya wujudkan dengan cara bertahap sejak 2022 lalu. Diawali dengan mendirikan bangunan pendopo, ruang office, kemudian  ruang pamer karya dan sebagainya.  Membangun art space ini betul-betul bermodal nekat, ” ujar Putu Sutawijaya, Senin (5/1/2026).  Sangkring Bali ini nanti disediakan bagi perupa Indonesia dan mancanegara untuk memamerkan karyanya, berkarya seni, dan menggelar kegiatan seni budaya lainnya.

“Megagapan” Ruang Seni Kontemporer

‎Perupa yang penulis seni I Gde Made Surya Darma menyebutkan, dalam tradisi para perantau Bali, “megagapan” merujuk pada kepulangan ke kampung halaman dengan membawa oleh-oleh bukan sekadar barang, melainkan pengalaman, pengetahuan, dan nilai yang diperoleh di perantauan.

‎Dalam konteks inilah kepulangan Putu Sutawijaya ke tanah kelahirannya, Desa Angseri, menemukan maknanya yang paling dalam. Ia pulang bukan hanya sebagai individu, melainkan sebagai seniman yang membawa pulang sebuah visi: ruang seni kontemporer sebagai oleh-oleh kultural bagi kampung, sekaligus persembahan untuk dunia seni.

‎”Kepulangan ini menandai bab penting dalam lanskap seni kontemporer Indonesia. Putu Sutawijaya tidak sekadar kembali ke akar, tetapi menghadirkan sebuah infrastruktur kultural ruang seni yang dirancang sebagai medan dialog antara praktik seni kontemporer, tradisi lokal, dan dinamika global,” ujar Surya Darma, perupa asal Desa Senganan, lulusan ISI Yogyakarta.

‎Berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 5.000 meter persegi, Sangkring Bali disiapkan untuk merespons kecenderungan seni kontemporer hari ini. Seni tidak lagi dibatasi oleh medium tunggal, melainkan bergerak lintas bentuk: lukisan, patung, instalasi berskala ruang, performance, hingga praktik interdisipliner.

‎Skala ruang yang lapang memungkinkan karya tidak hanya dilihat, tetapi dialami menghadirkan relasi tubuh, ruang, dan waktu. Di pusat kawasan, sebuah pendopo berukuran luas menjadi ruang peralihan antara pameran dan kehidupan sosial.

‎Pendopo ini berfungsi sebagai arena diskursus: diskusi seni, pemutaran film, pertunjukan, lokakarya, hingga residensi seniman. Secara simbolik, pendopo menghadirkan nilai keterbukaan dan musyawarah arsitektur tradisional yang diberi tafsir baru dalam kerangka seni kontemporer. Lebih jauh, ruang ini dirancang tidak hanya sebagai tempat pamer, tetapi juga sebagai pusat riset dan pengetahuan.

See also  Presiden Jokowi Sampaikan Lima Arahan pada Rakornas Penanggulangan Bencana 2022

‎Ke depan, kompleks ini akan dilengkapi dengan perpustakaan seni yang memuat arsip, buku, katalog, dan publikasi seni rupa kontemporer baik lokal maupun internasional. Perpustakaan ini diharapkan menjadi ruang belajar bersama bagi seniman, peneliti, kurator, mahasiswa, serta masyarakat luas.

‎Melalui program riset, residensi, dan pertukaran pengetahuan, ruang seni ini diarahkan menjadi media pertukaran budaya yang aktif. Ia membuka jalur dialog antara praktik seni di kampung dengan jaringan seni internasional, mempertemukan perspektif lokal dengan wacana global secara setara dan berkesadaran.

‎Yang signifikan, ruang seni ini tumbuh di luar pusat urban dan destinasi wisata utama. Pilihan ini merupakan pernyataan kritis terhadap pemusatan ekosistem seni dan pariwisata di kota-kota besar atau kawasan komersial. Dalam konteks Bali, kehadiran ruang seni kontemporer di kampung membuka kemungkinan baru bagi pariwisata berbasis pengetahuan, pengalaman, dan refleksi, bukan semata konsumsi visual.

‎Alih-alih menjadi objek wisata instan, ruang ini mengundang pengunjung untuk melambat: memahami proses artistik, menyelami konteks lokal, dan berinteraksi langsung dengan komunitas. Pariwisata, dalam pengertian ini, bergerak dari ekonomi tontonan menuju ekonomi perjumpaan di mana seni, budaya, dan kehidupan sehari-hari warga saling bersilangan secara setara.

‎”Pulang kampung yang dilakukan Putu Sutawijaya adalah sebuah strategi kultural. Ia menunjukkan bahwa seni kontemporer dapat berakar kuat di lokalitas tanpa kehilangan daya jelajah global. Dari kampung, ruang ini berbicara kepada dunia menawarkan model alternatif tentang bagaimana seni, riset, dan pariwisata dapat tumbuh berdampingan secara berkelanjutan, bermartabat, dan berkesadaran. ‎Sebuah ‘gagapan’ seni kontemporer: pulang kampung bukan untuk kembali ke masa lalu, melainkan untuk merumuskan masa depan,” pungkas Surya Darma.

Putu Sutawijaya (tengah) dan Gde Made Surya Darma (kanan)


Unik dan Ekspresif

‎Seperti diketahui, Putu Sutawijaya adalah perupa Indonesia yang terkenal dengan karya-karyanya yang unik dan ekspresif. Ia lahir pada 27 November 1970 di Desa Angseri, Baturiti, Tabanan, Bali, dan menempuh pendidikan seni rupa di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

‎Putu Sutawijaya dikenal karena karya-karyanya yang menampilkan figur tubuh manusia dengan gerakan yang dinamis dan ekspresif. Belakangan ia kerap menghadirkan keindahan lanskap dan candi kuno di bidang-bidang kanvasnya.

‎Beberapa penghargaan pernah diterima oleh Putu Sutawijaya antara lain:
‎Lukisan Cat Minyak Terbaik dari Departemen Seni Rupa, ISI Yogyakarta (1992), Seni Rupa Terbaik dari ISI Yogyakarta pada Dies Natalis ke-11 (1995), Finalis Philip Morris Indonesia Art Award (1999) dan Penghargaan Lempad dari Sanggar Dewata Indonesia (2000).

‎Selain aktif berkarya, ia berupaya mewadahi aktivitas senirupa dengan mendirikan Sangkring Art Space di Yogyakarta pada 31 Mei 2007.(MBP2)

Redaksi

Related post