PHDI Denpasar Gelar Manusa Yadnya Massal, Jawab Anggapan Yadnya Mahal dan Rumit

 PHDI Denpasar Gelar Manusa Yadnya Massal, Jawab Anggapan Yadnya Mahal dan Rumit

DENPASAR – baliprawara.com

Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Denpasar, kembali menghadirkan program pelayanan keagamaan yang ditujukan untuk membantu umat. Hal ini sebagai jawaban, di tengah berkembangnya berbagai konten di media sosial yang menyoroti pelaksanaan yadnya dalam agama Hindu sebagai sesuatu yang rumit dan membutuhkan biaya besar.

Melalui pelaksanaan Manusa Yadnya Bersama, PHDI berupaya memberikan alternatif yang lebih ringan dan mudah diakses oleh masyarakat Hindu, khususnya di Kota Denpasar dan sekitarnya.

Ketua PHDI Kota Denpasar, Dr. I Made Arka, S.Pd., M.Pd., menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk jawaban terhadap berbagai pandangan yang berkembang terkait pelaksanaan yadnya. Menurutnya, pelaksanaan upacara secara bersama-sama dapat menjadi solusi agar umat tetap mampu menjalankan kewajiban keagamaan tanpa merasa terbebani oleh persoalan biaya maupun teknis pelaksanaan.

Program yang akan dilaksanakan tersebut mencakup beberapa rangkaian upacara Manusa Yadnya, yakni Menek Kelih, Pewintenan Saraswati, dan Metatah Massal. “Ketiga upacara ini merupakan bagian penting dalam tahapan kehidupan umat Hindu yang selama ini sering menjadi perhatian keluarga karena memerlukan persiapan yang tidak sedikit,” katanya dalam keterangan tertulisnya, Rabu 16 September 2026.

Kegiatan ini dirancang sebagai bentuk pelayanan kepada umat sekaligus upaya memperkuat semangat kebersamaan dalam menjalankan ajaran agama Hindu. Pelaksanaan secara massal dinilai mampu mendorong semangat gotong royong yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bali.

Lebih lanjut Made Arka menjelaskan bahwa, konsep pelaksanaan bersama tidak hanya bertujuan meringankan beban umat, tetapi juga mencerminkan nilai Vasudhaiva Kutumbhakam yang menekankan persaudaraan dan kebersamaan. Dengan bergotong royong, umat dapat mengikuti rangkaian upacara dengan lebih sederhana tanpa mengurangi nilai sakral dan makna spiritual yang terkandung di dalamnya.

Menariknya, besaran punia bagi peserta tidak ditetapkan secara khusus. PHDI menyerahkan sepenuhnya kepada kerelaan dan kemampuan masing-masing peserta. Punia dipandang sebagai bentuk bhakti dan persembahan kepada leluhur yang diwariskan kepada generasi penerus, sehingga besarannya disesuaikan dengan kondisi setiap keluarga.

Konsep tersebut juga diharapkan dapat menciptakan semangat subsidi silang. Umat yang memiliki kemampuan lebih dapat memberikan punia yang lebih besar sehingga secara tidak langsung membantu peserta lain yang memiliki keterbatasan ekonomi. Dengan cara ini, kesempatan menjalankan kewajiban Manusa Yadnya dapat terbuka lebih luas bagi seluruh kalangan.

Selain membantu masyarakat di Denpasar, program ini juga menjadi solusi bagi warga perantauan maupun transmigran yang tidak tercatat sebagai krama di desa adat tertentu di Bali. Mereka tetap memiliki kesempatan untuk melaksanakan tahapan Manusa Yadnya tanpa harus menghadapi kendala administratif maupun keterbatasan akses di lingkungan tempat tinggalnya.

PHDI Kota Denpasar juga membuka ruang partisipasi bagi masyarakat umum maupun pihak swasta melalui dukungan donasi dan sponsorship. Panitia pelaksana bahkan turut berpartisipasi memberikan punia sebagai bentuk gotong royong dalam memberikan pelayanan kepada umat.

Sementara itu, Ketua Panitia Dr. AA Ngurah Agung Wira Bima Wikrama, ST., M.Si., mengimbau seluruh peserta untuk mengenakan pakaian sembahyang sederhana dengan nuansa putih dan kuning sesuai kesepakatan yang telah ditetapkan. “Pedoman tersebut dibuat untuk menumbuhkan rasa kebersamaan sekaligus menekankan nilai kesederhanaan dalam pelaksanaan upacara,” ucapnya.

Panitia juga akan mengadakan technical meeting sebelum hari pelaksanaan guna menyampaikan berbagai ketentuan teknis kepada peserta. Untuk mempermudah koordinasi, seluruh peserta yang telah terdaftar akan dimasukkan ke dalam grup WhatsApp sehingga informasi dapat tersampaikan secara cepat dan merata.

Dalam pelaksanaannya nanti, upacara akan dipuput oleh sejumlah pinandita dari berbagai soroh dan pasemetonan di Bali. Keterlibatan mereka diharapkan menambah nilai spiritual sekaligus mencerminkan keberagaman yang ada dalam tradisi Hindu Bali.

Rencananya, Manusa Yadnya Bersama ini akan digelar di Wantilan Pura Lokananta Denpasar pada Sabtu, 3 Oktober 2026. Pendaftaran dibuka bagi seluruh umat Hindu yang berada di Kota Denpasar maupun wilayah sekitarnya yang ingin mengikuti rangkaian upacara tersebut. (MBP)

 

redaksi

Related post