PHDI NTT Gelar Lokakarya, Perkuat Pondasi dan Sendi-sendi Utama Kehidupan Beragama Hindu
LOKAKARYA – Pemaparan materi dalam Lokakarya Tiang Penyangga Agama Hindu, Minggu (14/12/2025) di Kupang
KUPANG – baliprawara.com
Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menggelar Lokakarya Tiang Penyangga Agama Hindu, Minggu (14/12/2025) di salah satu hotel di Kupang. Lokakarya yang bertema: “Penguatan Pendidikan, Ekonomi, dan Ritual sebagai Tiang Penyangga Utama Pembangunan Manusia Hindu Seutuhnya di NTT” ini menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Dr. Ir. I Wayan Darmawa, M.T. (Ketua PHDI NTT),Dr. Ni Made Susilawati (narasumber ekonomi), Jro Gede I Made Suparta M.T. (narasumber ritual) dan Prof Dr. I GB Ardjana, (narasumber pendidikan) .
Ketua Panitia Lokakarya Dr. dr. Dewa Putu Sahadewa, Sp.OG (K) didampingi Sekretaris Panitia Putu Agus Indrawan menyampaikan latar belakang diselenggarakannya lokakarya.
Bahwa, kehidupan beragama di kalangan umat Hindu di Kupang, Nusa Tenggara Timur, berjalan semakin baik dan semarak, baik dari segi tattwa (filosofi), susila (etika), maupun upacara (ritual). Kendati demikian, disadari pula bahwa untuk semakin memajukan pembangunan manusia Hindu seutuhnya, dibutuhkan penguatan di segala sendi penting yang dapat dianggap sebagai tiang penyangga bangunan Hindu itu sendiri.
Sendi-sendi utama (tiang penyangga) tersebut meliputi: pendidikan, ekonomi, dan ritual/upacara. Aspek pendidikan diperlukan untuk menguatkan akar dan pondasi, baik mental maupun intelektual, bagi generasi penerus Hindu. Ekonomi umat harus terus mendapatkan sentuhan penguatan dan pemberdayaan. Kemudian aspek ritual membutuhkan sentuhan, baik secara organisasi, tuntunan spiritual, maupun panduan praktis yang akan memudahkan umat diaspora dalam merencanakan, menyiapkan, dan menyelenggarakan berbagai upacara di berbagai pura yang ada.
”Berdasarkan kebutuhan mendesak ini, PHDI NTT memandang perlu melaksanakan lokakarya guna mendiskusikan dan merumuskan pokok-pokok penting sebagai penguatan Tiang Penyangga Agama Hindu di Kupang, NTT,” ujarnya.
Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat pondasi dan sendi-sendi utama (Tiang Penyangga) kehidupan beragama Hindu di Kupang, NTT, guna mewujudkan pembangunan manusia Hindu seutuhnya.

Dalam lokakarya tersebut juga dipaparkan hubungan lembaga keagamaan Hindu di NTT. Disebutkan, bahwa hubungan kelembagaan agama sebagai organisasi modern dalam mencapai tujuan adalah suatu keniscayaan. Hubungan inter dan antar kelembagaan Hindu penting karena dapat memperkuat peran dalam pelaksanaan tugas. Spirit hubungan antar lembaga bermakna sangat dalam secara filosofis terkait dengan aspek mendasar yaitu: aksiologi (nilai dan tujuan), epistemologi (pengetahuan dan metode saling berbagi), ontologi (hakikat dan eksistensi). Mencapai salah satu tujuan khusus Lokakarya Tiang Penyangga Hindu NTT yaitu tata kelola kelembagaan Hindu yang menganut prinsip tata kelola yang baik, sehingga terwujud keadilan dalam pembagian kak dan kewajiban organisasi.
Dalam konteks itu, lembaga keagamaan Hindu di NTT mesti konsisten menjalankan hubungan hierarkis agar tidak terjadi kesenjangan dan
tumpang tindih tugas. Di samping itu perlu mengoptimalkan hubungan konsultatif dan koordinatif dalam setiap
pelaksanaan tugas agar terjadi peningkatan efisiensi dan efektifitas kerja
kerja kelembagaan. Hubungan hierakies konsultatif dan koordinatif dilakukan secara bertahap disertai dengan ukungan administrasi yang akuntabel dan transparan.
Kolaborasi kelembagaan merupakan komitmen dan kesadaran bersama bahwa Hindu NTT maju jika dikerjakan secara terpadu.

Lokakarya ini diikuti 108 orang peserta, terdiri atas unsur-unsur pengurus harian PHDI Provinsi dan Kota/Kabupaten, perwakilan pimpinan organisasi kemasyarakatan Hindu (Banjar, WHDI, KMHDI, Koperasi, Peradah, Yayasan), perwakilan tokoh agama, pinandita , dan walaka, perwakilan pengempon pura dan serati upacara, akademisi dan praktisi Pendidikan dan ekonomi, serta perwakilan generasi muda Hindu. (MBP2)