Prof. IBG Yudha Triguna Luncurkan Tiga Buku, Apa Saja?
Prof. IBG Yudha Triguna
DENPASAR – baliprawara.com
Guru Besar Sosiologi Agama, Universitas Hindu Indonesia (Unhi) Denpasar, Prof. Dr. Ida Bagus Gde Yudha Triguna, M.S. meluncurkan tiga buku sekaligus, Rabu 14 Mei 2025 di Kampus Unhi.
Tiga buku akademis yang disusun Rektor Unhi periode 2006-2013 ini berjudul “Makro Humaniora”, “Ritus: Ketahanan Budaya dalam Dinamika Peradaban”, dan “Meneroka Teori Kritis: Dari Filsafat Marxisme hingga Teori Rasial.”
Buku “Makro Humaniora” secara ringkas membahas isu tentang sistem pendidikan yang sering kali terjebak dalam kerangka terlalu reduksionis. Akibatnya, siswa tidak hanya kehilangan perspektif tentang kompleksitas dunia, tetapi juga kemampuan untuk berpikir kritis, kreatif, dan transformatif.
Menurut mantan Dirjen Bimas Hindu Kemenag RI ini, makro humaniora hadir sebagai sebuah paradigma yang relevan, baik dalam wacana akademik maupun praktik pendidikan. Makro humaniora adalah pendekatan lintas disiplin yang mencoba menjembatani sains, seni, teknologi, filsafat, dan nilai-nilai kemanusiaan dalam memahami dunia secara holistik.
Sementara itu, buku berjudul “Ritus: Ketahanan Budaya dalam Dinamika Peradaban” membahas mengapa ritus tetap bertahan dalam situasi gempuran modernisasi dan globalisasi? Jawabannya, karena ritus selalu dibutuhkan untuk memenuhi beberapa fungsi. Pertama, ritus berfungsi sebagai penjaga identitas. Kedua, fleksibilitas dalam perubahan, artinya ritus dalam beradaptasi tidak kehilangan esensinya. Ketiga, ritus berfungsi sebagai pemaknaan simbolik. Dalam hal ini Clifford Geertz melihat ritus sebagai sistem simbolik yang memungkinkan masyarakat memahami dan memberi makna pada dunia yang terus berkembang.
Keempat, sebagai perekat solidaritas sosial, bahwa ritus memperkuat solidaritas kolektif melalui pembaruan komitmen terhadap nilai-nilai bersama. Kelima, berfungsi sebagai ruang kontemplasi dan spiritualitas. Artinya, dalam dunia yang serba cepat dan sering kali kehilangan ruang refleksi, ritus menawarkan momen untuk berhenti sejenak, merenung, dan memperbarui makna hidup. Hal ini menjadikan ritus relevan bukan hanya secara budaya, melainkan juga secara personal. Fungsi keenam, ritus membangun potensi harmoni sosial.
Kemudian, Buku “Meneroka Teori Kritis: Dari Filsafat Marxisme hingga Teori Rasial” , membahas tentang pentingnya kehadiran teori kritis dan relevansinya dalam dunia akademis.
Dalam beberapa dekade terakhir, dunia mengalami transformasi sosial, politik, dan ekonomi yang sangat cepat. Kapitalisme global, revolusi digital, dan dinamika politik identitas telah mengubah cara manusia berinteraksi, berproduksi, serta membangun makna sosial dan budaya. Di balik kemajuan ini manusia menghadapi pula berbagai krisis, seperti ketidaksetaraan sosial yang semakin tajam, eksploitasi tenaga kerja, rasisme sistemik, dan dominasi wacana yang memperkuat struktur kekuasaan yang ada. Di sinilah teori kritis menjadi relevan sebagai suatu pendekatan akademik, tidak hanya merupakan alat untuk memahami realitas sosial, tetapi juga berusaha mengungkap, mengkritik, dan mentransformasikan struktur kekuasaan yang melanggengkan ketidakadilan.
“Teori kritis lahir dari kebutuhan untuk melampaui pendekatan positivistik dalam ilmu sosial yang cenderung menggambarkan realitas tanpa mempertanyakan siapa yang diuntungkan dan siapa yang dirugikan,” tulis Prof. Yudha Triguna dalam buku tersebut.
Mazhab Frankfurt yang mengkritik industri budaya memperkenalkan konsep dekonstruksi untuk membongkar makna dominan dalam bahasa, teori pascakolonial, feminisme, dan ras yang menantang hegemoni dalam berbagai bentuknya. Teori kritis menjadi alat penting dalam membongkar mekanisme kekuasaan yang sering kali tidak terlihat.
Acara peluncuran buku yang akan dibuka Rektor Unhi, Prof. Dr. Damriyasa, M.S. tersebut menghadirkan tiga pembahas utama, yaitu: Prof. Dr. Dewa Komang Tantra, M.Sc.(Guru Besar Universitas Warmadewa, sebelumnya Guru Besar Undiksha), seorang ahli pendidikan akan membahas buku Makro Humaniora. Pembahas kedua, Prof. Dr. Anak Agung Anom Kumbara, M.A., Guru Besar Antropologi, FIB Unud, mantan Ketua Program Studi Doktor Kajian Budaya. Sedangkan sebagai pembahas ketiga dihadirkan Prof. Dr. Nyoman Yoga Segara, M.A. Guru Besar Antropologi Universitas I Gusti Bagus Sugriwa, seorang peneliti, dan aktivias.
Sebagai keynote speaker yakni, Dirjen Bimas Hindu Kemenag RI, Prof. Dr. I Nengah Duija, M.Hum. (MBP2)