Prosesi Mapepada Serangkaian Karya IBTK di Pura Besakih, Hanya Diikuti Sejumlah Krama

 Prosesi Mapepada Serangkaian Karya IBTK di Pura Besakih, Hanya Diikuti Sejumlah Krama

AMLAPURA – baliprawara.com

Ditengah situasi merebaknya kasus penyebaran virus Covid-19, pihak panitia Tawur Tabuh Gentuh dan Karya Ida Bhatara Turun Kabeh (IBTK) di Pura Agung Besakih, membatasi krama yang terlibat di dalam pelaksaaan upacara ini. Sehingga, dalam rangkaian kegiatan, panitia hanya melibatkan prajuru adat, pinandita dan serati banten.

Seperti pelaksanaan upacara mapepada dan bumi sudha yang dilakukan di Bencingan Pura Agung Besakih, pada Senin (22/3) kemarin. Dalam upacara yang dipuput oleh dua sulinggih tersebut, hanya diikuti sejumlah krama, sesuai imbauan pemerintah untuk tidak melibatkan banyak orang.

Menurut Ketua Panitia Karya IBTK, Jro Mangku Widiartha, pelaksanaan upacara mapepade dan bumi sudha ini, memang tetap dilaksanakan seperti tahun-tahun sebelumnya. Pihaknya sebagai panitia karya mengatakan, tetap mengikuti imbauan dari pemerintah.  Untuk itu, pihaknya menyampaikan kepada umat sedharma, dalam pelaksanaan pihaknya hanya melibatkan unsur-unsur pokok kelembagaan yang ada di Desa Adat Besakih. Bagi umat yang hendak melakukan persembahyangan ke Pura Agung Besakih, agar membatasi diri maksimal 25 orang.

Selain itu, pihaknya menyarankan supaya umat mengatur jarak terutama saat hendak melakukan pemuspaan, dan sebelum memasuki utama mandala, pemedek diminta untuk  melakukan cuci tangan dengan cairan hand sanitizer pada tempat yang sudah disediakan. “Jadi, kita minta krama mengikuti himbauan ini, agar kita tidak salah di dalam melaksanakan upacara ini. Dan upacara bisa berjalan dengan baik sesuai dengan harapan bersama,” harapnya

Untuk prosesi mapepada ini dipuput dua sulinggh yakni, Ida Pedanda WayahanTianyar dariGriya Menara, Sidemen dan Ida Pedanda Istri Karang dari Griya Suci, Jungutan. Untuk sarana upacara kata dia, tetap sama seperti yang sudah berjalan, tidak ada pengurangan sama sekali. “Jenis wewalungan yang dipergunakan dalam mapepada kali ini, meliputi sapi, kerbau, menjangan, kidang, petu, brekaok, kambing, dan angsa. Serta caru manca satha,” ujarnya. (praw)

See also  Menciptakan Wirausaha Baru dan Sister City dengan Korea Selatan dan Jepang, Kopitu Temui Bupati Gianyar

prawarautama

Related post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *