Prosesi Peed dan Nyenuk Karya Agung Pura Agung Manukaya Let Libatkan Ribuan Krama

 Prosesi Peed dan Nyenuk Karya Agung Pura Agung Manukaya Let Libatkan Ribuan Krama

Prosesi Peed dan Nyenuk serangkaian Karya di Pura Agung Manukaya Let, Sabtu 3 Oktober 2026.

GIANYAR – baliprawara.com

Ribuan krama memadati kawasan jalan Melati menuju jalan Dr. Ir. Soekarno, Manukaya, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Sabtu 3 Oktober 2026. Kehadiran krama dari 6 Desa Adat ini untuk mengikuti prosesi Peed dan Nyenuk serangkaian Karya di Pura Agung Manukaya Let yang kembali dilaksanakan setelah penantian panjang selama 48 tahun.

Prosesi Peed dan Nyenuk ini berlangsung dengan melibatkan sekitar 2.000 peserta yang berjalan kaki mengikuti iring-iringan upacara dengan membawa berbagai unsur tradisi dan kesenian sakral. Prosesi ini menjadi bagian dari rangkaian upacara yang tidak hanya menghadirkan suasana khidmat, tetapi juga memperlihatkan keterlibatan masyarakat dari sejumlah desa adat.

Karya Agung di Pura Agung Manukaya Let ini, mencakup sejumlah rangkaian upacara, mulai dari Ngenteg Linggih, Labuh Gentuh, Pecaruan Agung, hingga Mendem Pedagingan. Prosesi Peed dan Nyenuk kemudian menjadi salah satu rangkaian yang melibatkan masyarakat dalam jumlah besar.

Kehadiran ribuan krama dalam prosesi tersebut memperlihatkan besarnya partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan karya yang sudah lama tidak digelar. Enam desa adat ikut terlibat dalam rangkaian kegiatan yang berlangsung di kawasan Tampaksiring tersebut. Enam desa adat yang terlibat meliputi Desa Adat Manukaya Let, Calo, Penempahan, Tegal Payang, Malet, dan Penyolasan Timbul. 

Iringan peed ini juga diikuti kelompok-kelompok kesenian tradisional. Sekitar 10 kelompok sekaa gong disebut turut mengiringi jalannya prosesi. Berbagai jenis tabuh tradisional dimainkan sepanjang perjalanan, mulai dari adi mardangga, beleganjur, hingga gong suling.

Bendesa Manukaya Let, I Made Mawi Arnata.

Bendesa Manukaya Let, I Made Mawi Arnata, menjelaskan bahwa keseluruhan rangkaian Karya Agung merupakan bentuk bhakti dan pengabdian umat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Pelaksanaan karya juga menjadi bagian dari permohonan kerahayuan dan keharmonisan alam semesta.

“Setelah pelaksanaan tahun ini, Karya Agung direncanakan kembali digelar secara berkala setiap 30 tahun sekali sebagai bagian dari upaya menjaga kesinambungan tradisi leluhur,” ucapnya.

Sementara itu kata Made Mawi, prosesi Peed dan Nyenuk menjadi salah satu bagian yang mempertemukan masyarakat dari berbagai desa adat dalam satu rangkaian kegiatan keagamaan. Dalam pelaksanaan Nyenuk, sejumlah kesenian tradisi sakral turut ditampilkan.

Kesenian yang ditampilkan di antaranya Rejang Uni dan Rejang Lemi. Selain itu, terdapat Baris Gede Uni yang juga menjadi bagian dari kesenian dalam rangkaian ritual. Ada pula Gebogan-gebogan, Demung-demung Tameng, serta Premas-premas Tapakan Ida Bhatara.

Selain prosesi Peed dan Nyenuk, masyarakat Desa Adat Manukaya Let juga masih menjalankan sejumlah tradisi sakral yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satu tradisi yang masih dipertahankan Desa Adat Manukaya Let adalah Tampiog atau Melabuh Geni.

Tradisi tersebut memiliki karakter khusus karena melibatkan peserta yang melakukan aksi di atas atau di sekitar gundukan bara api. Peserta tradisi ini berasal dari sejumlah unsur masyarakat, mulai dari pamangku, prajuru, undagi, hingga pemuda sekaa baris. “Mereka melakukan aksi menerjang dan menendang gundukan bara api dalam keadaan sadar,” ujanya.

Tradisi ini menjadi salah satu bentuk ritual sakral yang masih dijalankan oleh masyarakat Desa Adat Manukaya Let. Ritual tersebut dimaknai sebagai simbol penyucian bhuana alit sekaligus ungkapan rasa syukur. Tradisi tersebut menjadi bagian dari kekayaan ritual yang masih dijaga di lingkungan desa adat.

Selain Tampiog, Desa Adat Manukaya Let juga memiliki seni sakral Tari Bedag-bedagan. Tari tersebut dipentaskan pada hari-hari suci tertentu sebagai bagian dari tradisi masyarakat setempat.

Keberadaan berbagai tradisi tersebut memperlihatkan bahwa rangkaian kehidupan adat di Desa Manukaya Let tidak hanya berkaitan dengan pelaksanaan upacara besar. Sejumlah ritual dan kesenian sakral juga masih menjadi bagian dari aktivitas keagamaan masyarakat.

Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar, I Wayan Adi Parbawa.

Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar yang juga tokoh masyarakat asal Desa Manukaya Let, I Wayan Adi Parbawa, menyebut upacara ini melibatkan sekitar 2.000 peserta yang khusus menangani ketangoran dan kesenimanan. Jika ditotal bersama seluruh krama pengempon, jumlahnya mencapai hampir 15.000 orang.

Jumlah tersebut menunjukkan luasnya keterlibatan masyarakat dalam keseluruhan pelaksanaan upacara. “Peserta tidak hanya berasal dari kelompok kesenian, tetapi juga dari krama pengempon yang mengikuti rangkaian kegiatan,” ucapnya.

Lebih lanjut dikatakan, pelaksanaan Karya Agung di Pura Agung Manukaya Let memiliki latar belakang waktu yang cukup panjang. Upacara tersebut kembali digelar setelah terakhir kali dilaksanakan pada 1978. “Artinya, masyarakat kembali menjalankan rangkaian karya setelah menunggu selama 48 tahun. Jarak pelaksanaan tersebut membuat berbagai tahapan upacara mendapat perhatian besar dari masyarakat yang terlibat,” katanya.

Adi Parbawa juga menyinggung kedudukan Pura Tirta Empul. Pura tersebut disebut memiliki posisi penting sebagai salah satu Pura Kahyangan Jagat. Pura Tirta Empul juga disebut sebagai salah satu pusat peradaban kebudayaan sejak masa kerajaan kuno. Jejak sejarah tersebut dikaitkan dengan masa Sri Kesari Warmadewa.

Prosesi Peed dan Nyenuk serangkaian Karya di Pura Agung Manukaya Let.

Menurutnya, pelaksanaan rangkaian upacara menjadi bagian penting dalam menghidupkan kembali nilai-nilai tradisi leluhur yang telah lama tidak direvitalisasi. “Rangkaian upacara ini menjadi momen krusial untuk membangkitkan dan merawat kembali nilai-nilai tradisi leluhur yang sudah lama tidak direvitalisasi,” ujarnya sekaligus menyatakan bahwa Pemerintah Kabupaten Gianyar turut memberikan apresiasi terhadap keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan Karya Agung tersebut. (MBP)

 

redaksi

Related post