Ribuan Krama Desa Adat Jimbaran, Gelar Aksi Solidaritas di Kantor Polsek Kutsel
Ribuan krama Jimbaran menggelar aksi Solidaritas di kantor Polsek Kutsel, Selasa 2 Desember 2025.
MANGUPURA – baliprawara.com
Ribuan krama desa adat Jimbaran, Kuta Selatan, Badung, mendatangi kantor Kepolisian Sektor (Polsek) Kuta Selatan, Selasa 2 Desember 2025. Kedatangan ribuan krama dengan berpakaian adat madya ini, untuk menggelar aksi solidaritas Jaga Desa, Jaga Krama, pasca aksi pemukulan berdarah dan aksi pengeroyokan di kawasan Puri Gading, Jimbaran pada Sabtu 29 November 2025.
Akibat kejadian tersebut, dua orang warga Jimbaran ditahan di Polsek Kutsel. Dalam aksi solidaritas ini, salah seorang orator menyampaikan bahwa, warga jimbaran selama ini tidak pernah anti dengan pendatang. Bahkan banyak warga pendatang yang dirangkul dengan baik.
Menurut Bendesa Adat Jimbaran, I Gusti Made Rai Dirga Arsana Putra, aksi solidaritas yang terjadi melibatkan kurang lebih seribuan krama dari seluruh banjar. Bendesa menyampaikan bahwa aksi warga muncul merespon dari dua hal utama. Pertama, masyarakat Jimbaran menegaskan bahwa tidak boleh ada bentuk arogansi yang diwujudkan melalui tindakan kekerasan, siapa pun pelakunya. Jimbaran, menurutnya, harus menjadi wilayah yang menjaga ketertiban dan menghormati semua pihak.
Kedua, aksi ini merupakan bentuk spontanitas serta solidaritas warga terhadap dua orang krama yang akhirnya ditahan. Warga yang ditahan disebut bertindak spontan setelah rekannya menjadi korban pemukulan, sehingga luapan emosi masyarakat pun tidak bisa dihindari.
“kami ingin menunjukkan bahwa di Bali, pada khususnya di Jimbaran, tidak boleh ada hal-hal yang terlalu arogan, siapapun mereka,” katanya.
Bendesa menjelaskan bahwa pemukulan terhadap warga Jimbaran menyebabkan luka robek yang membutuhkan sekitar 10 jahitan. Insiden itulah yang kemudian memicu respons spontan warga hingga terjadi keributan lanjutan. “Dua warga Jimbaran pun akhirnya ditahan oleh Polsek Kuta Selatan,” katanya.
Ia berharap pihak kepolisian dapat segera menyelesaikan persoalan tersebut secara menyeluruh dan memberikan kejelasan atas penahanan dua warga tersebut. Menurutnya, warga yang ditahan tidak memiliki rencana atau persiapan untuk melakukan tindakan tertentu, melainkan sekadar bereaksi secara spontan sebagai krama adat. Ia meminta agar tidak ada tekanan tambahan kepada mereka dan aparat dapat mempertimbangkan situasi yang terjadi secara utuh.
“Mohonlah pada semua pihak, pada aparat kita, agar mengatensi ini, kemudian lebih cepat, lebih responsif supaya hal-hal seperti ini tidak terjadi lagi,” harapnya.