Sampah Kiriman Jadi Tantangan di Pantai Kedonganan, Pemerintah Diharapkan Tanggulangi Dari Hulu
Pembersihan sampah kiriman di pantai Kedonganan.
MANGUPURA – baliprawara.com
Sampah kiriman dari laut masih menjadi persoalan rutin yang dihadapi kawasan wisata Pantai Kedonganan, Badung. Setiap tahun, terutama saat musim angin muson barat, berbagai jenis sampah terbawa arus dan menepi di sepanjang kawasan wisata yang terkenal dengan kuliner lautnya, sehingga berpotensi mengganggu kebersihan dan aktivitas pariwisata.
Kondisi tersebut mendorong pengelola kawasan untuk melakukan berbagai langkah antisipasi. Pengelolaan kebersihan pantai menjadi perhatian utama karena Pantai Kedonganan merupakan salah satu destinasi yang ramai dikunjungi wisatawan, baik domestik maupun mancanegara.
Ketua Badan Pengelola Kawasan Pariwisata Pantai Kedonganan, I Made Pakris, menyampaikan bahwa sejak awal pihaknya telah menyiapkan langkah mitigasi risiko terkait kebersihan kawasan pantai agar pengelolaan dapat berjalan secara terstruktur dan berkesinambungan.

Made Pakris menjelaskan bahwa lembaga pengelola telah membentuk struktur organisasi khusus yang menangani kebersihan pantai. “Pembentukan bidang kebersihan tersebut merupakan bagian dari penerapan konsep Sapta Pesona Pariwisata, di mana kebersihan menjadi salah satu unsur utama yang wajib dijaga di kawasan destinasi wisata,” kata Pakris, saat ditemui di Kedonganan, Selasa 10 Februari 2026.
Selain membentuk tim kebersihan internal, pengelola Pantai Kedonganan juga menjalin kerja sama dengan berbagai komunitas di wilayah setempat. “Kolaborasi ini dilakukan untuk mempercepat penanganan sampah yang menumpuk di pesisir. Namun demikian, volume sampah kiriman yang cukup besar dinilai memerlukan solusi yang lebih menyeluruh,” ucapnya.
Pakris menegaskan bahwa pembersihan sampah di pantai hanya bersifat solusi jangka pendek. Ia berharap adanya peran lebih besar dari pemerintah, terutama dalam menangani persoalan sampah dari daerah asal atau hulu, mengingat sampah yang menepi di Pantai Kedonganan bukan berasal dari aktivitas masyarakat setempat.
Harapan serupa juga disampaikan kepada pemerintah pusat agar dapat mengoordinasikan dan mengimbau daerah lain untuk lebih serius mengelola sampahnya. Upaya penanganan dari hulu dinilai penting agar persoalan sampah kiriman tidak terus berulang setiap tahun.

Sementara itu, tokoh masyarakat Kedonganan, I Made Sumerta, menyatakan bahwa fenomena sampah kiriman sebenarnya sudah terjadi sejak lama. Menurutnya, peningkatan volume sampah biasanya mulai terlihat sejak November, memuncak pada Januari hingga Februari, kemudian berangsur menurun pada Maret dan relatif bersih kembali pada April seiring perubahan arah angin.
Sumerta menambahkan, dengan semakin berkembangnya pariwisata di Pantai Kedonganan, kebersihan kawasan menjadi tanggung jawab bersama. Peran masyarakat dan pelaku pariwisata disebut sebagai garda terdepan dalam menjaga kebersihan pantai sesuai dengan prinsip Sapta Pesona.
Dalam penanganan sehari-hari, sampah kiriman dibersihkan secara gotong royong dan untuk sementara ditempatkan di lahan milik warga. “Selanjutnya, sampah tersebut akan diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Suwung oleh Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kabupaten Badung sebagai solusi sementara, sambil menunggu penanganan yang lebih berkelanjutan,” kata Sumerta. (MBP)