“Silent Killer” Ancaman bagi Penderita Hypertensi 

 “Silent Killer” Ancaman bagi Penderita Hypertensi 

Oleh: dr. I Made Gede Dwipayana Putra, S.Ked.

DI kalangan masyarakat dunia, termasuk Indonesia penyakit hipertensi masih dianggap sepele karena tidak memiliki gejala yang spesifik. Penderita hipertensi merupakan pasien dengan risiko tertinggi, yakni terjadinya stroke dan penyakit jantung. Dengan demikian hipertensi menjadi tantangan berat bagi tenaga medis sebagai pelayan kesehatan. Hal tersebut dapat diamati dari data yang dilaporkan oleh WHO (World Health Organization), yakni pada 2013, tidak kurang dari 9,4 juta orang per satu milliar penduduk di dunia meninggal, akibat gangguan jantung (kardiovaskuler). Prevalensi hipertensi meningkat demikian cepat di negara-negara berkembang (yakni, sekitar 80%). Hal demikian disebabkan pengobatan hipertensi masih sulit dikontrol, sehingga berkontribusi terhadap meningkatnya epidemi penyakit jantung dan pembuluh darah (Kardiocerebrovaskular). Berdasarkan perkiraan, hipertensi mengakibatkan kematian sekitar 8 juta orang di dunia setiap tahunnya, dimana 1,5 juta di antaranya terjadi di Asia Tenggara. Di Indonesia berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 terdapat peningkatan prevalensi hipertensi dari jumlah penduduk sekitar 260 juta, yakni 34,1 % sedangkan pada tahun 2013 data prevalensi hipertensi di Indonesia menunjukkan angka 25,8 %.
Definisi Hipertensi

Definisi Hipertensi menurut ESC (European Society of Cardiology, 2024) adalah terjadinya peningkatan tekanan darah sistolik, yakni sama dan/atau lebih tinggi dari 140 mmHg dan tekanan diastolic sama dan/atau lebih tinggi dari 90 mmHg. Klasifikasi hipertensi dibagi menjadi tiga macam, yakni optimal, normal, dan normal tinggi. Adapun klasifikasinya adalah sebagai berikut, hipertensi derajat 1, hipertensi derajat 2, hipertensi derajat 3, dan sistolik terisolasi (PNPK Hipertensi, 2021). Kebanyakan orang yang menderita hipertensi tidak ada keluhan, sehingga pasien kadang-kadang tidak menyadari bahwa dirinya sedang mengalami hipertensi. Namun, pada kondisi pasien dengan tensi yang sangat tinggi kadang memiliki gejala diantaranya sakit kepala yang hebat, nyeri dada, pusing, sesak (susah bernapas), mual, muntah, penglihatan kabur, gangguan kesadaran, dan telinga berdengung (PNPK Hipertensi 2021).
Mekanisme terjadinya hipertensi di antaranya dipengaruhi oleh interaksi kompleks antara genetik, hormonal, lingkungan, seperti polusi udara, kebisingan, status geografi, dan iklim.  Faktor lainnya adalah faktor prilaku, seperti aktivitas fisik, perilaku setiap hari, kualitas/kuantitas tidur, pola makan, konsumsi makanan tinggi natrium, dan kalium, obesitas (kegemukan), dan perilaku mengonsumsi alkohol. Faktor ekonomi dan psikososial juga dapat memicu terjadinya hipertensi, misalnya stress, status sosio-ekonomi yang rendah, dan akses pelayanan kesehatan (European Society of Cardiology, ESC 2024). Kondisi hipertensi yang sudah berlangsung lama dan tidak terkontrol dapat menyebabkan kerusakan organ-organ tubuh lainya di antaranya organ jantung, yakni mengakibatkan serangan jantung, gangguan listrik jantung, dan gagal jantung. Selain jantung, organ lain yang dapat dirusak akibat menderita hypertensi yang berkepanjangan adalah otak, sehingga pada pasien bisa terjadi gangguan cognitive (pikiran), stroke penyumbatan pembuluh darah, dan stroke perdarahan. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh terjadiya komplikasi yang disebabkan oleh hipertensi yang sangat tinggi. Contoh terjadinya kasus kesakitan dan kematian yang sangat tinggi di Amerika dan Afrika yang disebabkan oleh gangguna hypertensi (Harrison’S Pinciple Internal Medicine, 21st Edition). Dengan demikian penanganan hipertensi hendaknya dioptimalkan dan hipertensi jangan pernah dianggap penyakit spele, sebab dapat menimbulkan ancaman kematian pada penderitanya.
Penanganan hipertensi bisa dilakukan dengan dua cara, yakni (1) dengan cara minum obat dan; (2) dengan cara non-obat. Tatalaksana penanganan penyakit hipertensi, yakni dengan pola hidup sehat di antaranya pertama, yaitu batasi mengonsumsi garam dapur (NaCl); Kedua, batasi mengonsumsi natrium (Na); Ketiga, batasi mengonsumsi makanan yang diawetkan (termasuk makanan kaleng) dan daging olahan. Sebab di dalamnya   ditemukan monosodium glutamate (MSG) yang dapat memicu munculnya penyakit hipertensi. Rekomendasi atas penggunaan natrium (Na), yakni sebaiknya tidak lebih dari 2 gram/hari (setara dengan 5–6 gram NaCl perhari atau 1 sendok teh garam dapur/setara dengan 3 sendok teh MSG). Bagi penderita penyakit hipertensi yang dapat mengurangi asupan natrium sampai 1.500 mg perhari dapat menurunkan tekanan darah yang besar. Pola makan yang direkomendasikan untuk pasien hipertensi adalah DASH (Diet Dietary Approach to Stop Hypertension), yakni diet kaya akan sayuran, buah-buahan, produk susu rendah lemak/bebas lemak (susu skim), unggas, ikan, berbagai macam variasi kacang, dan minyak sayur non-tropis (minyak zaitun) serta kaya akan kalium, magnesium, kalsium, protein dan serat. Kemudian hilangkan kebiasaan merokok, sebab merokok merupakan faktor resiko tinggi penyakit pembuluh darah. Bagi pelayan kesehatan status merokok pada pasien wajib ditanyakan pada setiap kunjungan pasien, sebab hal ini erat kaitannya dengan proses edukasi bagi pasien yang merokok dan sebaiknya disarankan untuk berhenti merokok. (*)

See also  Kesiapan Lokasi Lapangan GPDRR di Bali Ditinjau Utusan Khusus PBB

Redaksi

Related post