SMC RS Telogorejo Gelar Seminar Edukasi dan Konsultasi Eksklusif di Bali, Menjawab Tantangan Epilepsi Kebal Obat pada Anak
Suasana seminar awam yang membahas epilepsi kebal obat pada anak dan remaja.
MANGUPURA – baliprawara.com
Permasalahan epilepsi pada anak dan remaja masih menjadi tantangan serius yang dihadapi banyak keluarga. Kondisi ini tidak hanya berkaitan dengan kesehatan fisik, tetapi juga berdampak luas terhadap kualitas hidup serta kondisi psikologis anak dan orang tua.
Situasi menjadi semakin kompleks ketika epilepsi yang dialami tergolong sebagai drug-resistant epilepsy atau epilepsi kebal obat. Pada tahap ini, pengobatan farmakologis tidak lagi memberikan hasil optimal, sehingga diperlukan pendekatan medis yang lebih komprehensif dan berkelanjutan.
Menjawab kebutuhan tersebut, Semarang Medical Center (SMC) RS Telogorejo melalui Telogorejo Neuro Center menginisiasi sebuah kegiatan edukatif berupa seminar awam yang membahas epilepsi kebal obat pada anak dan remaja.
Seminar ini mengusung tema “Kenali Epilepsi Kebal Obat pada Anak & Remaja” dan dirancang sebagai wadah edukasi bagi masyarakat luas. Kegiatan ini sekaligus memberikan gambaran mengenai perkembangan penanganan medis terkini yang dapat menjadi solusi bagi pasien epilepsi yang tidak lagi merespons pengobatan biasa.
Kegiatan tersebut diselenggarakan pada Sabtu, 11 April 2026, bertempat di Ballroom Darshana lantai 5, Four Points by Sheraton, Kuta, Bali. Seminar ini terbuka untuk umum, dengan sasaran utama orang tua, tenaga kesehatan, serta masyarakat yang memiliki perhatian terhadap kesehatan neurologi anak.
Dalam pelaksanaannya, acara ini menghadirkan kolaborasi antara tenaga medis ahli dan penyintas epilepsi. Hadir sebagai narasumber antara lain Prof. dr. Zainal Muttaqin, Ph.D, Sp.BS (K) yang merupakan spesialis bedah saraf, dr. I Gusti Ngurah Made Suwarba, Sp.A., Sp.Neuro (K) sebagai konsultan neurologi anak, serta Stephanie Claudia Kamadjaja yang merupakan epilepsy survivor.
Kehadiran para narasumber ini memberikan perspektif menyeluruh terkait perjalanan epilepsi. Materi yang disampaikan mencakup proses diagnosis, pilihan terapi, hingga opsi tindakan lanjutan seperti bedah epilepsi bagi pasien dengan kondisi kebal obat.
SMC RS Telogorejo sendiri dikenal sebagai salah satu rumah sakit swasta yang telah beroperasi lebih dari satu abad di Semarang, Jawa Tengah. Dengan pengalaman panjang tersebut, institusi ini terus mengembangkan layanan unggulan, termasuk di bidang neurologi melalui Telogorejo Neuro Center.
Direktur Marketing SMC RS Telogorejo, Diana Loretta, menyampaikan bahwa kehadiran pihaknya di Bali merupakan bagian dari strategi untuk memperluas jangkauan layanan kesehatan, khususnya di bidang saraf.
“Kehadiran kami di Bali merupakan bagian dari komitmen SMC RS Telogorejo untuk menjadi pusat rujukan saraf nasional yang mudah diakses. Kami memahami bahwa perjalanan medis pasien epilepsi tidaklah singkat dan seringkali melelahkan. Dengan menghadirkan para pakar langsung ke Bali, kami ingin mendekatkan layanan sekaligus membuka akses terhadap teknologi medis mutakhir, seperti bedah epilepsi, bagi masyarakat yang membutuhkan,” ujarnya.
Corporate Business Marketing Communication Yayasan Kesehatan Telogorejo, Adhitia Budi, menambahkan bahwa kegiatan ini juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang institusi dalam memperluas jangkauan pelayanan kesehatan di Indonesia.
“Kegiatan ini tidak hanya menjadi bentuk edukasi, tetapi juga langkah strategis kami dalam menghadirkan layanan unggulan SMC RS Telogorejo lebih dekat dengan masyarakat luas. Kami ingin memastikan bahwa akses terhadap penanganan neurologi yang komprehensif, termasuk teknologi bedah epilepsi, dapat dirasakan tidak hanya di Semarang, tetapi juga di berbagai daerah di Indonesia. Melalui pendekatan kolaboratif dan edukatif seperti ini, kami optimistis dapat meningkatkan awareness sekaligus kepercayaan masyarakat terhadap layanan kesehatan berbasis teknologi dan keahlian yang kami miliki,” ungkapnya.
Sementara itu, Humas SMC RS Telogorejo, Berliana Bunga, menyoroti pentingnya edukasi publik dalam menghapus stigma yang masih melekat terhadap penderita epilepsi. Menurutnya, masih banyak masyarakat yang belum memiliki pemahaman yang tepat mengenai kondisi ini. Hal tersebut kerap menyebabkan pasien kehilangan kesempatan untuk mendapatkan penanganan yang optimal.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin membangun narasi positif bahwa epilepsi bukanlah penghalang untuk hidup produktif. Kehadiran penyintas menjadi bukti nyata bahwa harapan itu ada. Kami berkomitmen memastikan setiap keluarga mendapatkan informasi yang akurat dan berbasis sains, sehingga tidak ada lagi pasien yang kehilangan kesempatan untuk pulih akibat stigma maupun keterbatasan informasi,” jelasnya.
Tidak hanya sebatas seminar, kegiatan ini juga menghadirkan sesi One-on-One Consultation bagi peserta terpilih. Sesi ini memberikan kesempatan bagi peserta untuk berkonsultasi secara langsung dengan para ahli dalam suasana yang lebih personal.
Langkah ini diharapkan dapat membantu keluarga pasien dalam memahami kondisi yang dihadapi serta menentukan langkah penanganan yang paling sesuai.
“SMC RS Telogorejo berkomitmen untuk mendampingi setiap langkah pasien dalam menemukan solusi terbaik bagi kesehatan saraf mereka, demi masa depan anak dan remaja yang lebih cerah,” tutup Berliana.
Sebagai institusi layanan kesehatan, SMC RS Telogorejo memiliki fokus pada berbagai layanan unggulan, termasuk jantung, saraf, serta penanganan penyakit kompleks lainnya.
Rumah sakit ini didukung oleh tiga pusat layanan utama atau Center of Excellence, yakni Telogorejo Heart Center (THC), Telogorejo Neuro Center (TNC), dan Telogorejo Fertility Center (TFC). Dengan dukungan teknologi medis terkini serta tenaga dokter spesialis berpengalaman, SMC RS Telogorejo terus berupaya memberikan pelayanan yang aman, bermutu, serta berorientasi pada keselamatan pasien di seluruh Indonesia. (MBP)