Sumber Kemandirian Berkelanjutan, The Nusa Dua Dukung Pengembangan Pertanian Organik di Desa Kedisan
Aktivitas menanam padi Kelompok Tani Petani Kedisan Mandiri, di Desa Kedisan, Kecamatan Tegallalang, Gianyar.
GIANYAR – baliprawara.com
Pertanian organik yang dikembangkan Kelompok Tani Petani Kedisan Mandiri, di Desa Kedisan, Kecamatan Tegallalang, Gianyar, Bali, menjadi andalan sumber ketahanan pangan lokal setempat. Selain itu, pengembangan pertanian organik ini bahkan menjadi sumber kemandirian dalam pertanian yang berkelanjutan.
Kelompok Tani yang diketuai, Putu Yoga Wibawa, ini telah berdiri sejak 25 Desember 2020. Menurutnya, kelompok ini dibentuk sebagai respons atas semakin terdegradasinya tanah dan ekosistem sawah akibat penggunaan bahan kimia. Akibatnya, lahan pertanian menjadi semakin tandus, yang juga berdampak pada hasil panen yang tidak seimbang dengan biaya produksi.
Berangkat dari permasalahan tersebut, ditambah dengan berlimpahnya bahan organik di sekitar rumah, semakin menguatkan semangat kelompok tani untuk mengembangkan pertanian organik. Melalui pengembangan pertanian organik ini, pihaknya bersama kelompok tani lain, berusaha untuk kembali pada apa yang telah ditanamkan para pendahulu.
Kelompok Tani ini beranggotakan sebanyak 170 petani dari Subak Kedisan Kaja dan Kelod, dengan luas lahan 37 hektare. Hingga saat ini, Kelompok Tani ini mengembangkan sistem pertanian organik, dengan visi pertanian berkelanjutan dari hulu ke hilir. “Kami ingin kembali pada akar pertanian Bali yang sehat, mandiri, dan menjaga alam. Kompos dibuat dari kotoran sapi dan limbah upacara, bio urine difermentasi, air irigasi disaring dengan eceng gondok, semua dengan gotong royong,” kata Putu Yoga, saat Green Journey The Nusa Dua, sekaligus Media Gathering, di Desa Kedisan, Selasa 29 Juli 2025.

Kerja keras para kelompok Tani ini dalam pengembangan pertanian organik bahkan telah mendapat pengakuan. Hal itu terbukti pada 26 April 2022, kelompok ini resmi memperoleh sertifikasi organik dari lembaga independen yang ditugaskan Pemerintah Provinsi Bali. Adapun produksi beras organik yang dihasilkan dari kelompok ini mencapai 10 ton dari 4 hektar lahan organik, dengan harga jual Rp30.000 per kilogram. Sebagian hasil panen digunakan untuk ketahanan pangan lokal, sementara sisanya sekitar 4-5 ton, dijual langsung ke konsumen melalui media sosial.
Meski telah berjalan baik, tantangan masih ada. Serangan hama tikus tanpa pestisida kimia menyebabkan kerugian hingga 30-40% panen. Kelompok ini berharap bisa mendapatkan dukungan pembangunan rumah burung hantu sebagai pengendali alami. Tantangan lain adalah mengubah kebiasaan petani yang masih setengah hati meninggalkan pupuk kimia. Namun berkat hasil nyata dari tanah yang semakin subur dan biota sawah yang kembali hidup, semangat petani untuk bertahan semakin besar.
“Kami tidak hanya bertani, tapi berjuang mempertahankan alam dan budaya. Kami ingin Desa Kedisan jadi destinasi wisata berbasis kearifan lokal. Setiap tahun mahasiswa dari Amerika datang belajar, kami juga menjual kerajinan bambu dan kuliner lokal,” tegasnya.
Upaya pelestarian lingkungan dan ketahanan pangan lokal ini bahkan mendapat dukungan dari pihak The Nusa Dua. Sungunga tersebut ditunjukkan melalui program Green Journey dari Indonesia Tourism Development Corporation (ITDC), melalui kunjungan ke Kelompok Tani Petani Kedisan Mandiri. Kunjungan yang juga dirangkaikan dengan kegiatan media gathering ini sekaligus menyoroti pentingnya keberlanjutan dalam sektor pariwisata dan pertanian.
General Manager The Nusa Dua, I Made Agus Dwiatmika, menyampaikan apresiasi tinggi kepada para petani organik di Kedisan. Ia menekankan bahwa bertahan dengan sistem pertanian organik di era serba cepat dan instan adalah tantangan besar yang layak diapresiasi. “Kami merasa ini bukan kebetulan, karena hubungan yang terjalin sejak tahun lalu semakin erat. Green Journey ini bukan hanya kunjungan biasa, tapi bagian dari misi jangka panjang kami untuk menjaga lingkungan,” kata Agus Dwiatmik.
Ia juga berharap produksi beras organik Kedisan suatu saat dapat disalurkan ke kawasan The Nusa Dua, meskipun harus bersaing dengan banyak produsen lain. “Ke depan kami akan berupaya untuk mendukung walau belum final, sudah ada gambaran bentuk bantuannya,” harapnya.
Pada kesempatan sama, Kepala Desa Kedisan, Dewa Ketut Raka, menyampaikan perjalanan bagaimana Desa Kedisan yang dulunya minim aktivitas pariwisata, kini sudah mulai berkembang menjadi desa wisata berbasis budaya dan lingkungan. Salah satu ikon yang kini dikenal luas adalah Air Terjun Ulu Petanu, yang dulunya merupakan tempat pembuangan sampah plastik.
“Sejak 2018 saya menjabat, saya ingin desa ini punya jati diri. PAD desa naik 700 persen, dari hanya 12 juta per tahun kini bisa 600 juta per bulan. Ini bukti bahwa desa wisata berbasis lingkungan bisa membawa dampak ekonomi besar,” harapnya Dewa Ketut. Ia juga menyuarakan kritik terhadap kebijakan pusat yang masih mendukung pupuk kimia, meski di tingkat lokal gencar mensosialisasikan pertanian organik. (MBP1)