Tak Ada lagi Jargon KB Dua Anak Cukup, BKKBN Dukung Program KB Krama Bali
Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali Ni Luh Gede Sukardiasih, foto bersama Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Provinsi Bali, Luh Ayu Aryani, dan anggota Komisi IV DPRD Bali Ni Made Sumiati.
DENPASAR – baliprawara.com
Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) Perwakilan Provinsi Bali sangat mendukung program KB krama Bali empat anak, sehingga nama Nyoman dan Ketut tetap lestari.
Hal itu ditegaskan Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali Dr. dr. Ni Luh Gede Sukardiasih, saat Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Program Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana (Bangga Kencana) Provinsi Bali Tahun 2026, Selasa, 10 Maret 2026 di Harris Hotel & Convention Center Sunset Road, Denpasar.
”Kami sangat mendukung Program Gubernur Bali yang mencetuskan KB Krama Bali empat anak untuk melestarikan warisan budaya Bali. Jadi tak ada lagi jargon KB dua anak cukup, laki dan perempuan sama saja. Tetapi, yang penting adalah bagaimana mewujudkan keluarga berkualitas, ” tegasnya.
Dikatakan, program pembangunan keluarga, kependudukan, dan keluarga berencana (Bangga Kencana) Kemendukbangga/BKKBN) merupakan program prioritas pemerintah yang bertujuan untuk membangun keluarga berkualitas, mengendalikan pertumbuhan penduduk, dan mewujudkan keluarga berencana yang efektif demi tercapainya Indonesia Emas.
Program pembangunan keluarga, kependudukan, dan keluarga berencana ini merupakan pilar penting dalam upaya mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas. Upaya meningkatkan kualitas keluarga tidak dapat dilakukan oleh satu institusi saja, melainkan membutuhkan kerja sama seluruh sektor terkait. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, mitra kerja, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan pelaksanaan program pembangunan keluarga.
Gubernur Bali yang diwakili Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Provinsi Bali, Luh Ayu Aryani, berharap
Program Bangga Kencana ini bisa berkolaborasi dengan program KB Krama Bali yang mendorong keluarga untuk mempunyai anak disesuaikan kuantitasnya serta pelestarian budayanya dengan mengatur jarak kelahiran dan memprioritaskan pendidikan, menjaga kesehatan reproduksi, anak balita, dan ekonomi dengan tujuan mewujudkan krama Bali yang unggul, sejahtera dan keluarga berkualitas.
Luh Ayu Aryani sepakat bahwa program KB Krama Bali empat anak penting dilaksanakan untuk melestarikan warisan budaya Bali. Melalui program ini nama Nyoman dan Ketut akan tetap lestari.
Hal senada disampaikan anggota Komisi IV DPRD Bali Ni Made Sumiati, S.H.,M.H., Anggota DPRD dapil Badung ini bahkan mengatakan, dulu masyarakat Bali sampai belasan orang punya anak. Sehingga ada nama depan Wayan balik, Made balik, Nyoman balik dan Ketut balik. Nama-nama depan orang Bali ini perlu dilestarikan melalui program KB Krama Bali dengan tetap mencapai tujuan keluarga berkualitas.
Di bagian lain, Gubernur Bali menyampaikan bahwa program pembangunan keluarga memiliki keterkaitan erat dengan visi pembangunan daerah Nangun Sat Kerthi Loka Bali, yang bertujuan menjaga keharmonisan alam, manusia, dan kebudayaan Bali.
”Konsep tersebut sejalan dengan nilai Tri Hita Karana yang menekankan keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan lingkungan,” ujarnya. (MBP2)